Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
Info Harga Dinar
15 - Mar - 2010 Jam 06 : 30  
Item Jual (Rp) Beli (Rp)
Dinar 1,402,240 1,346,150
Dirham 36,190 34,742
Emas *
24 K 333,238 319,909
*Diluar Biaya Cetak
US$/Oz 1,104.80
USD Index 79.91
Rupiah Index 61.08

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Saturday, November 22, 2008

Perubahan System Penanganan Gerai Dinar

Untuk kemudahan dan efisiensi dalam pengelolaan maka per hari ini Sabtu 22 November, artikel-artikel baru GeraiDinar akan ditaruh di halaman utama GeraiDinar.Com yang baru yaitu www.geraidinar.com/index.php atau www.geraidinar.com saja.

Bagi yang lebih suka meng-akses via blog, maka keberadaan blog ini tetap juga dipertahankan dengan alamatnya yang baru yaitu www.geraidinar.com/old.php .

Perbaikan terus menerus ini sebagai bentuk layanan kami terhadap pembaca rutin GeraiDinar.Com dan berbagai masukan yang telah diberikannya.

Mohon maaf apabila ada kekurang nyamanan atas perubahan ini.

Thursday, November 20, 2008

Ghalabati Al-Dain : Pangkal Dari Krisis Finansial Dunia Saat Ini…

US$ Index vs Gold Price Salah satu doa yang ma’tsur atau dicontohkan untuk kita baca setiap hari pagi dan petang adalah berlindung diri dari Ghalabati Al-Dain atau hutang yang melilit.

Selama ini saya kurang menghayati makna dari do’a ini, namun karena ini dianjurkan oleh Rasullullah SAW , ya sering-sering saja saya baca.

Dimasa krisis financial global ini, ternyata do’a inilah yang mestinya sangat relevan untuk kita baca rame-rame setiap hari oleh seluruh elemen bangsa ini – sampai kita bener-bener menjiwai.

Lebih dari itu setelah kita menjiwai, ini juga harus mewarnai segala tindak tanduk kita dalam menjalankan kehidupan kita sendiri maupun – yang jadi pemimpin – ya menjalankan negara ini.

Kita tahu pangkal dari segala krisis ini adalah gaya hidup ngutang, yang dilakukan individu secara rame-rame maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Kita telah keliru mengambil contoh!.

Ekonomi bangsa ini, gaya hidup bangsa ini mencontoh ekonomi barat khususnya Amerika yang sebenarnya sama sekali tidak bisa kita contoh.

Dalam hal gaya hidup ngutang yang dilakukan oleh pemerintah misalnya; Pemerintahan Amerika bulan ini mengajukan ijin ke Konggres untuk menaikkan batas atas hutang negaranya. Dengan batas atas yang baru ini hutang Amerika akan mencapai US$ 9.8 trillion. Hal ini berarti setiap wara negara AS dari yang tua sampai yang baru lahir langsung punya hutang sekitar US$ 33,000 atau sekitar Rp 396,000,000,- !.

Kita ‘beruntung’ jadi WNI; negara kita konon ‘hanya’ punya hutang Rp 1,320 trilyun. Atau kalau dibagi rata kepada seluruh warga negara yang tua maupun yang baru lahir ; masing-masing kita kebagian sekitar Rp 5,280,000 atau US$ 440. (Untuk rekan-rekan wartawan jangan quote angka ini ya, saya nggak terlalu yakin karena sulitnya cari data yang pasti di Indonesia).

Yang mengerikan sebenarnya bukan ukuran dari hutang tersebut, melainkan trend kenaikannya. Karena AS sebagai gurunya juga terus menerus manambah hutang – nilai hutang mereka ‘baru’ mencapai US$ 8.0 trilyun tiga tahun lalu; demikian pula Indonesia, pada saat yang sama tiga tahun lalu hutang kita ‘baru’ Rp 1,282 trilyun.

Inilah musibah itu; lilitan hutang diatas hutang yang membuat seluruh dunia kalang kabut didera krisis finansial yang seperti sumur tanpa dasar - belum kelihatan ujungnya sampai saat ini.

Dalam dunia finansial; ada dua jenis hutang yaitu yang disebut Self-Liquidating Debt saya sebut saja SLD dan yang satunya tentu sebaliknya yaitu Non-Self-Liquidating-Debt atau N-SLD.

SLD adalah hutang yang produktif yang bisa membayar dirinya sendiri. Contoh kita berhutang 100 untuk kegiatan produksi barang atau jasa yang hasilnya bisa kita jual 130. Dari penjualan ini, 10 kita pakai untuk biaya, 20 kita bagi 50%-nya ke pemberi hutang. Kita bisa berproduksi dan pemberi hutang juga mendapatkan hasil dari dananya. Hutang semacam ini banyak-banyak tidak masalah karena akan mendorong produktifitas.

Sebaliknya N-SLD adalah hutang yang tidak bisa membayar dirinya sendiri. Contoh pegawai dengan penghasilan Rp 10 juta/bulan mengambil kredit Kijang baru dengan cicilan Rp 5 juta/bulan. Maka setiap bulan dia akan kesulitan mencicilnya karena penghasilannya nggak cukup; untuk menutupi ketidak cukupannya dia berbelanja bulanan dengan credit card. Maka menumpuklah hutang tersebut dari waktu ke waktu semakin besar. Inilah Ghalabati Al-Dain itu …yang kita diajarkan untuk berlindung terhadapnya.

Negara juga demikian; mereka berhutang bukan hanya untuk kegiatan produktif tetapi lebih banyak untuk kegiatan konsumtif. Di Amerika kegiatan konsumtif yang sangat besar adalah untuk membiayai perang Irak dan aksi-aksi yang tidak membawa manfaat bagi penduduk mereka sendiri seperti kegiatan mereka di Afganistan dslb.

Di negeri seperti Indonesia, hutang-hutang kita tersebut dipakai untuk nambal APBN, untuk ‘hidup sehari-hari’- nya negeri ini.

Jadi negeri-negeri seperti Amerika, Indonesia dan seluruh negara di dunia saat ini – sama dengan rakyatnya – hidup rutinnya ditambal dari kartu kredit. Ketika beban kartu kredit terus membengkak – maka bangkrutlah negera-negara tersebut.

Untuk sementara kebangkrutan ini tidak nampak karena berbeda dengan individu, negara bisa mencetak uang. Anak cucu kitalah nantinya yang harus membayari kartu-kartu kredit yang dipakai negara-negara ini sampai sekian generasi yang akan datang.

Mari sekarang kita rajin-rajinlah lafadzkan do’a pelepas hutang ini…

Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”

Labels:

Tuesday, November 18, 2008

Saatnya Membeli Kambing...?

US$ Index vs Gold PriceTiga pekan lagi kita akan merayakan Idul Adha sekaligus kesempatan untuk menambah pahala dengan menyembelih hewan Qurban.

Sudah lama saya tidak mengurusi harga kambing, terakhir ngurusi ketika menjadi ketua DKM di Masjid komplek dan ikut memantau harga-harga kambing yang ditawarkan supplier. Saat itu (2002-2003) harga kambing masih dikisaran Rp 500 ribu-an.

Hari-hari ini pedagang kambing mulai ramai menjajakan kambingnya di pinggir-pinggir jalan; saya perhatikan kambing-kambing yang sedang harganya sudah diatas Rp 1 juta-an.

Kok cepat amat ya naiknya ?. Inilah realita daya beli uang kita.

Harga kambing-kambing tersebut sesungguhnya tidak berubah selama 1400 tahun lebih. Di zaman Rasulullah SAW harga kambing pada kisaran 1 Dinar; maka satu Dinar sekarang (Rp 1,215,000 pada saat artikel ini saya tulis) tetap dapat untuk membeli kambing dengan ukuran sedang.

Tidak demikian halnya dengan uang kertas baik itu Rupiah, US$ maupun uang kertas dari negeri manapun – belum ada yang terbukti survive dalam jangka panjang.

Apabila trend kenaikan harga kambing (sama dengan kenaikan harga Dinar) tetap seperti rata-rata trend 40 tahun terakhir yaitu naik 23.30 %/tahun; maka kambing Qurban yang sekarang harganya Rp 1.2 juta; 5 tahun lagi akan menjadi Rp 3.4 juta dan 40 tahun lagi akan menjadi Rp 5.22 Milyar ! Wow nggak masuk akal kah ?.

Lagi-lagi inilah realita uang kita. Gunakan rumus finansial dasar FV=PV*(1+i)^t maka Anda akan ketemu angka-angka tersebut.

Tetap tidak masuk akal membeli seekor kambing seharga Rp 5.22 Milyar ?; Waktu saya berusia 5 tahun tahun harga kambing cuma Rp 1,600 perak. Saat itu (kalau toh saya sudah bisa berpikir) tentu nggak kebayang kalau 40 tahun kemudian harga kambing menjadi Rp 1.2 juta !, tetapi ini sekarang terjadi.

Sebelum harga kambing menjadi Rp 5.22 milyar; sangat banyak yang bisa terjadi terhadap uang fiat kita. Oleh karenanya pemahaman dampak inflasi terhadap daya beli uang kita dalam rentang waktu yang panjang ini perlu kita kuasai agar kita tidak menjadi korban inflasi.

Bapak-bapak kita, kakak-kakak kita yang lebih dahulu memasuki usia pensiun banyak sekali yang sekarang menderita secara finansial – karena mereka menjadi korban inflasi yang tidak pernah mereka sadari – apalagi lagi meng-antisipasi-nya.

Coba perhatikan grafik diatas contohnya. Kalau Anda memiliki saudara tua yang mulai bekerja tahun 60-an; kemudian pensiun tahun 90-an; apa yang terjadi sekarang ?.

Uang pensiun yang dikumpulkan dari jerih payah mereka selama 30-an tahun bekerja; nilainya menjadi sangat tidak berarti karena harga kambingpun sudah naik 720 kali dibandingkan dengan harga kambing pada saat mereka mulai bekerja.

Lantas apakah kita harus rame-rame memindahkan dana pensiun kita pada kambing ? Why not ? .

Tetapi kambing hanyalah representasi asset riil yang memiliki nilai terjaga; selain ke kambing tentu bisa ke asset riil lainnya berupa Dinar Emas, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan berjibun pilihan investasi benda riil lainnya. Produktif dan insyaallah tidak tergerus inflasi. Wallahu A’lam.

Monday, November 17, 2008

Muzara’ah : Revolusi Hijau Yang Insyaallah Segera Bisa Kita Mulai…

Bumiku Hijau Sejak krisis finansial global memuncak pertengahan Ramadhan lalu, saya sibuk mencari buku-buku yang ditulis penulis barat tentang situasi yang sedang terjadi. Penasaran saja, saya ingin tahu apa yang mereka pikirkan tentang ekonomi dunia yang selama ini mereka agung-agungkan.

Belum banyak memang buku yang keluar semenjak puncak krisis meletus tersebut, mungkin mereka lagi mulai nulis atau bisa jadi lagi bengong melihat apa yang sedang terjadi yang ternyata tidak sesuai dengan teori mereka.

Yang cukup relevan dan up-to-date dengan situasi yang ada adalah buku yang ditulis oleh Thomas L. Friedman dengan judul Hot, Flat, and Crowded . Penulis ini sangat terkenal karena sebagai columnist di The New York Time , tiga kali dia mendapatkan Pulitzer Price. Tiga bukunya terdahulu selalu menjadi best seller dunia, diantaranya buku yang berjudul The World is Flat (2005). Nampaknya buku yang terakhir ini merupakan semacam lanjutan dari buku sebelumnya, The World is Flat tersebut.

Apa yang menarik tentang isi buku ini ?; Friedman menggambarkan dunia ini sekarang sebagai dunia yang panas, datar dan penuh sesak. Dunia yang panas , datar dan penuh sesak ini akan menggerakkan lima masalah besar berikutnya yaitu :

• Ketidak seimbangan antara supply & demand dibidang energy.
Petrodictatorship yaitu diktator-diktator baru yang memperoleh kekuasaannya melalui kekayaan energy minyak.
• Perubahan iklim.
• Kemiskinan energy, semakin banyak penduduk dunia yang tidak mampu membeli energy yang dibutuhkan.
• Hilangnya biodiversity yaitu punahnya berbagai jenis tanaman dan hewan.

Untuk kembali memimpin dunia menurut Friedman; Amerika yang sejak peristiwa 9/11 digambarkannya sebagai bangsa yang kehilangan arah yang pembawaannya dia sebut sebagai Code Red yaitu inginnya perang melulu dan menganggap semua orang sebagai ancaman; sekarang harus menjadi Amerika yang membawakan Code Green yaitu memimpin dunia dengan revolusi hijau.

Revolusi hijau ini tidak terbatas pada pengembalian biodiversity tanaman-tanaman dan hewan, tetapi juga pada arah implementasi clean energy, efficiency energy dan konservasi. Hanya melalui revolusi hijau inilah menurut Friedman Amerika akan bisa berjaya kembali memimpin dunia.

Sayangnya Friedman adalah orang yang anti Islam dan tidak segan-segan menunjukkan kebenciannya pada Islam. Dalam bukunya yang terakhir ini misalnya dia menyebut Islam sebagai agama yang akarnya berasal pada jaman pra-modern dan tidak bisa mengikuti perkembangan jaman.

Disinilah salah besarnya Friedman dan para pemikir barat lainnya; juga para pemikir negeri ini yang kebarat-baratan. Karena pikiran mereka terkunci oleh dogma mereka sendiri yang menganggap Islam terbelakang; mereka tidak bisa mengambil manfaat dari lautan sumber ilmu yang tidak akan habis-habisnya yaitu Al-Qur’an dan Al-hadits itu sendiri.

Apa yang mereka sebut sebagai Revolusi Hijau dalam mengantisipasi krisis berikutnya misalnya; Islam punya konsep Muzara’ah yang sudah pernah saya tulis 17 Juli 2008 lalu.

Juga tuntunan Islam yang sangat jelas dari Al-Qur’an bagaimana mengantisipasi krisis yang akan datang dengan konsep nabi Yusuf dalam Surut Yusuf 43-48 yang sudah saya uraiakan pada tulisan saya tentang Manhaj Islam dalam Mengantisipasi Krisis .

Umat ini memiliki sumber Ilmu yang bisa digali tanpa habisnya, yaitu Al-Quran dan Al Hadits. Sebagai agama akhir zaman, sumber Ilmu tersebut juga kita yakini akan selalu valid dan up-to-date sampai kapanpun. Dengan sumber ilmu yang begitu agung dan komprehensive tersebut, tidak seharusnya umat ini menjadi jajahan dunia barat - paling tidak di bidang ekonomi dan pemikiran.

Tantangannya adalah bagaimana mengamalkan ilmu yang kita gali dari sumber-sumber yang agung tersebut; jangan sampai justru umat lain - yang membenci Islam - yang duluan mengamalkan apa yang seharusnya kita amalkan.

Revolusi hijau lebih pantas kita duluan yang mengembangkan dan mengaplikasikannya karena kita punya konsep Muzara’ah yang sudah sangat detil ditulis ilmunya oleh para ulama kita terdahulu. Perintah untuk bercocok tanam secara sungguh-sungguh-pun sudah ada di surat Yusf tesebut diatas. Lantas yang kurang apa ?, ya amal itu lagi yang kurang.

Kalau kita sungguh-sungguh mengamalkan ajaran kita, maka bukan Amerika yang akan memimpin dunia; tetapi kitalah yang akan memimpin dunia – mungkin bukan pada zaman kita, tetapi janji Allah pasti benarnya. Tinggal kita memilih peran kita, ikut sebagai sebab atau puas hanya sebagai akibat.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS 3:139).

Amerika masih akan sibuk merumuskan Code Green atau Revolusi Hijau mereka; Untuk kita hal ini sudah tamat dibuat; blue-printnya, aturan mainnya dlsb. sudah sangat jelas ditulis para ulama dengan mengikuti Al-Qir’an dan al Hadits; kita tinggal mengamalkannya.

Setelah saya menulis tulisan pertama saya tentang Muzara’ah bulan Juli lalu, saya banyak menerima ‘tantangan’ dari para pembaca untuk mewujudkannya. Sama dengan gerakan Dinar yang awalnya pemikiran dan sekarang kita alhamdulillah sudah dalam proses implementasinya; maka gerakan Muzara’ah untuk menhgijaukan bumi ini juga insyaallah akan segera mulai.
Bahkan bagi yang berminat ikut terjun menaman pohon; baik untuk investasi maupun untuk amal jariyah sudah dapat mulai mendaftarkan diri di DinarWorld.Com..

Anda belum perlu membayar apapun sekarang, karena kami masih menegosiasikan tanah pertama yang akan kami jadikan proyek percontohan untuk Muzara’ah ini. Tetapi dengan Anda mendaftar (hanya bagi yang berminat), kami akan dapat memperkirakan – berapa luas lahan yang akan kita ambil tersebut.

Mohon do’a restunya agar niat baik ini dapat terlaksana; agar juga kita mendapatkan ladang amal baru yang tidak hentinya mengalir pahalanya sebagaimana hadits berikut :

“Tidak ada bagi seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ada burung atau manusia, atau binatang ternak memakannya, kecuali baginya sedekah” HR. Bukhari Muslim.

Bayangkan kalau kita masing-masing kita bisa menaman 1000 pohon di tanah 1 ha, yang overall investment cost-nya ‘hanya’ sekitar 50 – 80 Dinar – berapa banyak burung, hewan dan manusia bisa mengambil manfaatnya ? Selain kita sendiri juga mendapat manfaat tentunya.

Semoga Allah memudahkan kita merealisasikan niat yang sungguh-sungguh ini.

Saturday, November 15, 2008

Belajar dari Rupiah, Dollar dan Emas Dalam Empat Dasawarsa…

Ada kalanya saya terpaksa melanggar aturan saya sendiri untuk tidak menulis di waktu liburan, ini karena godaan untuk menulis begitu tinggi terutama untuk meresponse pertanyaan-pertanyaan kritis dari pembaca blog ini.

Kali ini saya ingin meresponse secara umum, pendapat-pendapat yang masih beranggapan bahwa US$ lebih baik dari pada emas atau Dinar. Untuk saat yang pendek seperti yang kita alami beberapa minggu terakhir, bisa saja ini terjadi – tetapi jelas tidak demikian apabila kita bandingkan dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Rupiah, US$ dan GoldPerhatikan grafik disamping yang datanya saya ambilkan dari dua sumber yaitu Kitco dan Pacific Exchange Rate Services. Grafik tersebut menunjukkan nilai tukar US$ terhadap Rupiah dibandingkan dengan harga emas per gram juga dalam Rupiah selama rentang waktu 40 tahun terakhir yaitu tahun 1968-2008.

Kita mulai tahun 1968; saat itu nilai tukar US$ terhadap Rupiah adalah Rp 296/US$ dan harga emas berada pada angka Rp 369/gram. Apa yang terjadi 10 tahun kemudian yaitu tahun 1978 ?. Nilai tukar US$ menjadi Rp 442/US$ dan emas menjadi Rp2,746/gr. Artinya selama rentang waktu 10 tahun 1968-1978; Dollar mengalami kenaikan 49 % terhadap Rupiah; sementara emas pada rentang waktu yang sama naik sebesar 645%.

Keunggulan emas yang menyolok terhadap US$ juga terjadi pada 10 dasawarsa berikut-berikutnya. Hanya sekali terjadi US$ lebih baik dari emas kenaikannya dalam Rupiah yaitu pada rentang waktu 1988-1998; inipun hanya karena anomali 1 tahun yaitu 1998 (lihat grafik ) – bukan suatu kecenderungan atau trend dalam dasawarsa tersebut.

Keunggulan yang jauh lebih menyolok lagi kalau kita rentangkan 40 tahun sekaligus. Nilai tukar US$ saat ini yang berada pada kisaran Rp 11,150 ,- ‘hanya’ mengalami kenaikan 3,663 % dibandingkan Dollar 40 tahun silam. Coba bandingkan dengan harga emas yang sekarang, pada kisaran harga Rp 266,477/gram – emas telah mengalami kenaikan sebesar 72,202 % terhadap harga emas dalam Rupiah empat puluh tahun silam.!

Sebenarnya bukan emasnya yang mengalami kenaikan harga luar biasa; tetapi Rupiah dan Dollar-nyalah yang memang tidak bisa diandalkan dalam rentang waktu yang panjang. Inilah sebabnya uang dalam Islam adalah benda riil yang memiliki nilai riil seperti emas (Dinar), dan perak (Dirham).

Banyak lagi sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari grafik diatas; misalnya kecenderungan adanya koreksi yang tajam terhadap daya beli Rupiah (dan juga Dollar) di setiap dasawarsa.

Pada dasawarsa 70-an, terjadi di tahun 1979 ketika Rupiah didevaluasi lebih dari 40 % dari Rp 442/US$ menjadi Rp 623/US$. Pada dasawarsa 80-an terjadi pada tahun 1984, ketika Rupiah di devaluasi lagi 13% dari Rp 909/US$ menjadi Rp 1,026/US$.

Paling parah kita tahu semua yaitu dasawarsa 90-an; tepatnya 1998 ketika Rupiah terdevaluasi sekitar 70% dari nilai tahun sebelumnya yaitu dari Rp 2,909/US$ (2007) menjadi Rp 10,014/US$ (2008).

Untuk dasarawsa 2000-an; kita dapat melihat tahun ini Rupiah telah mengalami penurunan nilai sekitar 19% dibandingkan dengan rupiah tahun lalu – yaitu dari Rp 9,349/US$ (2007) menjadi Rp 11.150/US$ (2008). Dasawarsa ini masih akan berlangsung 2 tahun lebih; mudah-mudahan dasawarsa ini tidak semakin memburuk.

Sebenarnya saya ingin menulis lebih panjang untuk mengantisipasi siklus 10 tahunan berikutnya…; tetapi karena ini hari libur insyaallah saya tulis lain waktu saja. Wallahu A’lam.

Friday, November 14, 2008

Buku Baru : Dinar Solution !.

Dinar SolutionAlhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT atas perkenan dan bimbinganNya buku saya yang ke 5 sudah terbut dan mulai hari ini diedarkan.

Buku ini diterbitkan oleh Gema Insani Press (GIP), dan insyallah akan segera ada di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia.

Ketika saya tulis buku ini semula berjudul PERENCANAAN FINANSIAL BERBASIS DINAR, namun karena isi di dalamnya sangat relevan dengan bagaimana kita mengantisipasi situasi krisis finansial seperti yang melanda dunia dewasa ini – saya sepakat dengan usulan penerbit untuk menerbitkannya dengan judul DINAR SOLUTION atau Dinar Sebagi Solusi.

Kita bisa bayangkan apabila saat ini Kita berusia 40-an tahun dan sedang berada di puncak karir, belasan tahun yang akan datang Kita akan ’pensiun’ dari pekerjaan Kita yang sekarang. Berapa biaya hidup Kita saat itu ?, berapa biaya kesehatan Kita ? bagaimana Kita membiayai hidup Kita dan keluarga saat itu ? dan berbagai pertanyaan lain yang kemungkinan Kita tidak siap menjawabnya sekarang. Menjadi semakin sulit di jaman dimana uang kertas tidak menentu nilainya seperti yang kita alami sekarang.

Disinilah masalahnya, karena mayoritas kita kaum pekerja, kaum eksekutif dan professional tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas pada saat kita masih berjaya di puncak karir, pada saatnya nanti kita ’pensiun’, sangat sedikit dari kita yang bisa mempertahankan kwalitas hidup kita. Selain kurangnya perencanaan, hal ini juga diperburuk dengan realita mayoritas asset kita saat itu berupa uang fiat (dalam bentuk pencairan dana pensiun, jaminan hari tua, pesangon dlsb.) yang nilainya terus mengalami penurunan.

Penurunan kwalitas kehidupan di akhir usia ini tidak sejalan dengan ajaran Islam, karena Islam mengajarkan kita untuk mencapai akhir usia yang paling baik, akhir amal yang paling baik dan hari terbaik ketika bertemu Allah SWT sebagaimana do’a yang dicontohkan berikut : “Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih” yang artinya , “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.”

Itulah sebabnya buku ini saya tulis sebagai panduan bagaimana merencanakan dan mengelola urusan finansial jangka panjang, lebih dari itu perencanaan tersebut juga kami buat dalam bentuk Dinar yaitu uang emas Islam yang sudah terbukti lebih dari 1400 tahun berhasil mempertahankan daya belinya.

Karena harta bagi seorang muslim hanyalah sebagai alat untuk menunjang tujuan hidupnya yang lebih utama yaitu mencari Ridla Allah semata, maka dalam mencari dan mengelola kekayaan finansial tersebut tidak boleh keluar dari aturan yang syar’i.

Harta juga berguna bagi muslim bukan hanya untuk kehidupan di dunia tetapi juga berguna untuk kehidupannya yang abadi di akhirat kelak, apabila selama di dunia pemiliknya bisa memanfaatkan harta tersebut di jalanNya. Apabila tidak, maka harta justru akan menjadi beban.

Perspektif manfaat harta yang tidak terbatas pada kehidupan duniawi membuat perencanaan finansial bagi seorang muslim juga harus mencakup hal-hal yang terkait dengan hidup sesudah mati tersebut. Oleh karena alasan ini, maka bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan finansial bagi seorang muslim juga mencakup masalah-masalah yang terkait dengan sadaqah, zakat, wakaf, hibah, wasiat dan tidak kalah pentingnya adalah masalah warisan.

Untuk bisa mencakup seluruh aspek tersebut diatas, susunan buku ini saya tulis sejalan dengan garis waktu (timeline) dari kehidupan kita.

Anggap sebelum ini kita belum membuat perencanaan finansial yang Islami, maka buku ini mulai dari Bab I menjelaskan pentingnya membuat perencanaan keuangan yang Islami ini. Kemudian menuntun kita memasuki proses pembuatan perencanaan finansial di Bab II. Bab III sampai dengan Bab VI membahas detil perencanaan finansial itu sendiri.

Bab VII khusus membahas masalah pilihan usaha yang bisa kita persiapkan dan bangun sedini mungkin, agar secara ekonomi kita tetap berjaya sampai akhir hayat

Dengan asumsi insya Allah sukses dalam mengimplementasikan rencana finansial kita, maka Bab VIII mulai kita bahas pemanfaatan harta untuk akhirat kita dalam bentuk Zakat. Di Bab IX dibahas hal-hal yang sangat penting dalam kaitan pemanfaatan harta untuk tujuan yang abadi yaitu dalam bentuk wakaf, hibah dan wasiat.

Bab I sampai Bab IX menyangkut apa yang kita bisa lakukan dengan harta kita selama kita masih hidup, sesudah wafat tentu juga kita tidak ingin harta yang kita tinggalkan menjadi musibah bagi ahli waris, disinilah pentingnya ilmu waris yang kami bahas secara khusus di Bab X.

Dengan target pembahasan yang begitu luas, rasanya tidak mungkin pula bisa membuatnya terlalu detail dalam satu buku ini. Oleh karenanya kami prioritaskan pembahasan hal-hal yang menurut kami essensial seperti masalah Dinar dan perencanaan finansial itu sendiri, sedangkan hal lain yang sangat penting tetapi banyak sudah buku yang bisa dijadikan referensi seperti zakat dlsb. kami hanya bahas pokok-pokoknya. Kami sangat menganjurkan pembaca buku ini juga mendalami masalah-masalah yang terkait dengan zakat, wakaf, hibah, wasiat dan ilmu waris dari perbagai literatur yang mudah diperoleh di toko-toko buku Islam.

Semoga Allah selalu membimbing hambaNya yang bodoh dan fakir ini; semoga pula buku ini bisa menjadi bagian dari Ilmu yang bermanfaat bagi penulisnya sendiri maupun pembacanya.

Per hari ini buku ini sudah bisa dibeli di DinarWorld.Com

Labels:

Thursday, November 13, 2008

Orang Sakit Parah Yang Makannya Banyak…

Gold Price at 12/11/08Kalau kita perhatikan pergerakan grafik harga emas harian dalam US$ dan dalam Rupiah di blog ini selama 6 minggu terakhir, banyak sekali kita lihat keanehan –keanehannya.

Grafik hijau dan kuning yang seharusnya berimpit, sering tidak berimpit atau bahkan berlawanan arah. Ambil contoh grafik yang nampak di layar Anda pagi ini (13/11/07 jam 7 pagi), harga emas dunia dalam US$ menukik tajam – tetapi justru naik dalam Rupiah.

Hal ini terjadi tidak lain karena nilai uangnya yang bergerak berlawanan. US $ semakin perkasa, sementara Rupiahnya semakin melemah. Daya beli emasnya sendiri tetap seperti yang sering saya ungkapkan di blog ini.

Pertanyaan awamnya adalah mengapa US$ terus menanjak nilainya ? padahal katanya Amerika-lah pangkal krisis keuangan global ini bermula ?.

Amerika memang sedang krisis berat, bukan hanya sector keuangannya yang luluh lantak tetapi juga sector riilnya yang antri minta pertolongan pemerintah. Justru karena begitu banyaknya yang membutuhkan pertolongan likuiditas, maka begitu banyak pula US$ dibutuhkan di dalam negeri AS.

Uang Dollar dari perbagai penjuru dunia disedot balik ke negaranya memalui obligasi pemerintah dan sejenisnya. Maka kembali pada hukum supply & demand , kalau supply US$ yang ada diperebutkan begitu banyak yang membutuhkan, maka pastilah US$-nya naik.

Sementara uang Rupiah yang dipakai untuk membeli US$ menjadi kedodoran, pagi ini ketika menulis artikel ini saya sempatkan menoleh ke US$ gauge yang ada di sidebar blog ini; angka menunjukkan US$ 1= Rp 12,025. Wow !.

Anda nggak perlu cemas, dari yang saya amati setiap Rupiah jatuh pada perdagangan internasional yang terjadi malam hari waktu Indonesia – besuk paginya otoritas moneter negeri ini akan berjibaku menyelamatkannya. Jadi siang atau sore ini Rupiah insyaallah akan membaik. Lagian siapa yang butuh US Dollar ?.

Fenomena naiknya terus menerus nilai US$ terhadap mata uang lainnya di saat puncak krisis ini, sulit dicerna oleh oleh kebanyakan oran awam kayak kita. Oleh karenanya setiap mendapatkan pertanyaan masalah ini, saya berusaha membuat analogi yang lebih mudah diterima si penanya.

Begini analogi saya yang saya jelaskan kepada orang jawa yang menanyakannya kepada saya.

Di masyarakat tradisional jawa, ada anggapan bahwa kalau ada orang yang lagi sakit parah – biasanya sulit makan tentunya; tetapi kali ini tiba –tiba dia minta makanan tertentu dan makannya sangat banyak. Orang-orang yang melihat ini di jawa akan mulai berfikir bahwa si sakit akan meninggal dunia. Konon orang sakit parah yang makan banyak adalah salah satu pertanda dia akan meninggal dunia.

Demikianlah Ekonomi Amerika, mereka lagi sakit parah dan saat ini sedang makan makanan kesukaannya (US$ ) dengan sangat banyak – sampai menyulitkan orang lain yang membutuhkannya (US$). Konon mereka juga akan ‘meninggal dunia’.

Fenomena akan 'mati'-nya ekonomi Amerika ini terungkap juga dalam The Deal's M&A Outlook 2009 conference di New York kemarin. Salah satu pembicaranya mengungkapkan bahwa dalam 12-18 bulan kedepan, prioritas industri keuangan Amerika bukan lagi urusan strategis atau pertumbuhan - urusan utamanya adalah berjuang dari hari ke hari agar tetap bisa hidup!.

Wallahu A’lam, hanya Allah yang mengetahui ilmu masa depan.

Wednesday, November 12, 2008

Obama Dan Harga Emas Dunia…

Saya pernah menulis tentang calon presiden AS dari Demokrat ini pada masa kampanyenya bulan Juni lalu .

Ketika Obama akhirnya bener-bener terpilih dalam pemilu pekan lalu, dunia – paling tidak dari sisi ekonomi – sudah sangat banyak berubah. Borok-borok kapitalisme dan industri keuangan yang spekulatif ribawi bermunculan.

Hari-hari ini pemerintah dan para Ekonom Amerika sibuk mencari solusi menyelamatkan ekonomi negeri itu. Setelah industri keuangannya luluh lantak, sekarang sector riil mulai berguguran dan antri untuk tindakan bailout pemerintahnya.

Kemarin perusaahaan kebanggaan Amerika Ford dan General Motor harga sahamnya jatuh di bursa, masing-masing turun sebesar 6.79% dan 13.1 %. Penyebabnya adalah disinyalir kuat umur mereka tinggal enam bulan kalau tidak ada injeksi dana segar dari pemerintahnya atau dari sumber lain.

Suasana muramnya ekonomi AS ini juga tercermin dari pengumuman DHL yang akan menutup operasi domestiknya di Amerika yang berdampak pada 9,500 orang kehilangan pekerjaan. Dittupnya operasi DHL ini mengindikasikan menurunnya jumlah barang/perdagangan yang bergerak di AS.

Lantas apa yang akan dapat dilakukan oleh presiden termilih AS Barack Obama ?; Dapat dipastikan Obama akan habis-habisan berusaha menyelamatkan ekonomi AS.

Hal ini berarti Obama akan berusaha menyelamatkan tidak hanya sector finansial tetapi juga sector riil, terutama untuk menyelamatkan lapangan kerja – sebagai pemenuhan janji dia pada rakyat pemilih di AS.

Ini hanya akan dapat dilakukan apabila likuiditas cukup tersedia dan nilai US$ tidak terlalu tinggi dibandingkan mata uang kuat lainnya. Kalau mata uang Amerika terlalu kuat seperti hari-hari ini, ekspor mereka tidak dapat bersaing dan banyak industri mereka yang harus ditutup.

Kalau US$ yang sekarang sangat tinggi dan akan berbalik menurun kedepan, maka harga emas dunia akan bergerak sebaliknya yaitu dari posisi sangat rendah sekarang berbalik naik secara significant.

Pergerakan emas dalam kaitan dengan siapa yang berkuasa di Amerika ini dapat dilihat di grafik dibawah.

Harga emas pernah naik sangat tajam ketika yang berkuasa Demokrat, yaitu antara 1977-1980 ketika presiden Amerika di pegang Jimmy Carter. Namun juga pernah mengalami penurunan yaitu tahun 1993-2000 ketika presiden Amerika di pegang Bill Clinton.

Kali ini saya cenderung berpendapat harga emas akan mengulangi sejarah jamannya Jimmy Carter. Yaitu harga emas akan kembali melonjak di jaman Obama ini. Mengapa demikian ?.

US$ Index vs Gold Price Selain bisa dilihat statistik trend beberapa tahun yang mendahuluinya, juga alasan yang ada dibelakangnya.

Ketika Jimmy Carter berkuasa, beberapa tahun sebelumnya berkuasa pemerintahan republik yang sangat ceroboh yaitu presiden Nixon yang pada tahun 1971 membawa dunia meninggalkan Bretton Wood Agreement , yang dampaknya seluruh uang di dunia tidak lagi dikaitkan dengan cadangan emas.

Uang kertas yang bisa dicetak semaunya inilah yang melonjakkan harga emas dan puncaknya (bom waktunya) meledak pada saat pemerintahan dijalankan oleh partai lain.

Yang mendahului Obama ini juga demikian, presiden republik yang ceroboh George Bush mengumbar ‘pencetakan uang’ dengan berbagai program penyelamatan ekonominya.

Yang ditinggalkan Bush sebenarnya hanyalah bom waktu – yang akan meledak dengan hancurnya US$ pada saat pemerintahan sudah di tangan partai lain yaitu Obama yang dari parta Demokrat. Apabila ini terjadi, nggak kebayang tingginya harga emas saat itu.

Bisa saja saya keliru, hanya ditanganNyalah segala Ilmu untuk masa depan. Wallahu a’lam.

Disclaimer :

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.

Labels:

Tuesday, November 11, 2008

Solusi Dari Dunia Dinar…

US$ Index vs Gold Price Sepuluh tahun lalu ketika krisis moneter melanda Indonesia, sama dengan warga negara lainnya, saya menjadi korban bertubi-tubi dari berbagai segi.

Tabungan saya dalam Rupiah nilainya tinggal seperempatnya, investasi saya di saham hancur lebur dan rumah saya yang saya beli dengan kredit saat itu tiba-tiba bunganya melonjak – bahkan akhirnya bank-nya harus di likwidasi dan bertahun-tahun kemudian saya baru berhasil melacak dan memperoleh kembali sertifikat rumah saya.

Hari-hari ini krisis sejenis yang lebih mengglobal terjadi, teman-teman saya yang masih punya cicilan rumah di bank masih mengalami hal yang sama. Yang investasi di saham juga mengalami hal yang sama. Hanya Rupiah alhamdulillah masih bernasib lebih baik dari krisis 1998.

Sistem ekonomi ribawi yang inherent dalam uang kertas memang lebih banyak mudharatnya dari manfaatnya; sehingga setiap saat melihat iklan yang mengandung ‘bunga’, saya sangat ingin menulis dibawahnya peringatan yang sejenis dengan peringatan di iklan Rokok “BUNGA BANK ADALAH RIBA MENURUT FATWA MUI 1/2004. SANGAT BERBAHAYA BAGI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT ANDA”.

Bayangkan, kalau Anda karyawan muda - seperti saya dua puluh tahun lalu dan ingin memiliki rumah; (Asumsinya Anda tidak memiliki bekal warisan yang menumpuk) maka pilihan Anda hanya dua. Menabung atau mengambil kredit dari Bank.

Menabung dalam Rupiah untuk membeli rumah bukanlah pilihan yang cerdas, mengapa ?. Tabungan Anda memberikan hasil bersih sekitar 6 % sekarang ; sementara harga rumah mengalami inflasi rata-rata diatas 10 % (11.5% tahun ini). Jadi hasil tabungan Anda hanya separuh dari inflasi. Akumulasi tabungan Anda akan kalah cepat dengan kenaikan harga rumah yang hendak Anda beli.

Pilihan kedua mengambil kredit dari bank, bank (konvensional) akan memasang klausul bahwa mereka berhak ‘menyesuaikan’ tingkat bunga sewaktu-waktu. Lha kalau lagi krisis seperti ini, kantor Anda mungkin juga lagi sulit – boro-boro naik gaji; lantas bagaimana Anda mengatasi cicilan rumah yang tiba-tiba melejit ?. Inilah jatuh ketimpa tangganya karyawan pada umumya ketika krisis melanda.

Lantas apa solusinya ? sederhana , kembali ke mata uang yang adil yang sudah saya buktikan di tulisan sebelumnya dengan formula FV=PV (1+i)^t bahwa harga barang ketika dibeli dengan Dinar memiliki rata-rata inflasi 0% sepanjang lebih dari 1400 tahun.

Kalau anda ingin membeli rumah, menabunglah – tetapi jangan dalam Rupiah karena akumulasi nilainya tergerus oleh inflasi.

Solusi-solusi berbasis Dinar semacam inilah yang secara riil setahap demi setahap akan mulai kami tawarkan dalam Dunia Dinar secara global melalui situs DinarWorld.Com.

Situsnya sudah mulai bisa Anda akses, namun barang yang ditawarkan baru sekedar contoh (tapi bisa dibeli beneran). Kalau GeraiDinar.Com focus pada membangun know how pada aplikasi Dinar; DinarWorld.Com focus pada aplikasinya pada perdagangan yang nyata dan solusi-solusi financial berbasis Dinar lainnya.

Di DinarWorld.Com nantinya Anda dapat jumpai antara lain hal-hal sebagai berikut:

• Barang dan jasa yang dapat dibeli dengan uang dinar Anda; saat ini kami bukan hanya menerima Dinar dari Logam Mulia yang dipasarkan oleh GeraiDinar maupun yang dipasarkan oleh saudara-saudara saya di jaringan Wakalah; tetapi juga Dinar yang diterbitkan di Malaysia maupun Dubai.
• Solusi finansial berbasis Dinar, seperti perencanaan pendidikan, biaya perawatan kesehatan jangka panjang (Long Term Care), pembiayaan perumahan, perencanaan biaya haji dlsb. Untuk produk-produk ini kami mengundang mitra dari Industri asuransi, biro perjalanan haji dan yang sudah intensif bicara dengan kami adalah jaringan BMT.
• Kami juga akan menjembatani transaksi dari mata uang kertas ke Dinar. Sebagai contoh kalau Anda punya rumah ngganggur tetapi kawatir kalau menjualnya dengan rupiah nilainya terus menyusut; maka Anda dapat menjualnya dalam Dinar – pembeli tetap dapat membeli dalam Rupiah atau dalam Dinar, kalau pembelinya ingin membeli dalam Rupiah – maka kami yang akan mengkonversinya ke Dinar untuk Anda.

US$ Index vs Gold PriceUntuk rencana-rencana besar tersebut, tentu kami tidak lagi bisa sendirian. Kami mengundang pembaca-pembaca blog ini dapat menjadi supplier atau vendor dari produk barang dan jasa yang akan kita pasarkan melalui DinarWorld.Com.

Dengan pertumbuhan pengunjung seperti grafik disamping; Insyaallah kita akan tumbuh bersama dalam dunia yang bebas inflasi dan deflasi.

Monday, November 10, 2008

Satu Langkah Lagi Dari Gerai Dinar…

MOU With BMT Pembaca-pembaca blog ini selalau men-challenge saya dengan hal-hal yang sebagian sudah ada di rencana saya tetapi belum bisa merealisasikannya, atau bahkan sebagian lain memang belum kepikir oleh saya sendiri.

Selama ini tantangan terberat dalam gerakan Dinar ini adalah bagaimana menyebar luaskannya secara ekonomis, keseluruh masyarakat muslim yang membutuhkan Dinar sampai ke seluruh pelosok nusantara.

Jalan kearah sana sudah mulai terang sekarang, alhamdulillah kemarin 09/11/08 pengelola GeraiDinar.Com menanda tangani nota kesepahaman dengan pimpinan BMT Berkah Madani di Depok.

Penanda tanganan MOU yang disaksikan oleh Wali Kota Depok Bpk. Dr. Ir. H. Nurmahmudi Ismail tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum Asosiasi BMT Seluruh Indonesia (ABSINDO), Bpk. Aries Muftie dan Ketua I. Bpk Andi Estetiono.

Langkah penanda tanganan MOU ini sangat strategis karena lebih dari 3000 BMT di seluruh Indonesia akan dapat menjadi distribution channel baru dalam penyebaran Dinar.

Bagi BMT-BMT yang ingin ikut menyalurkan Dinar emas ini, mereka dapat mencontoh model kerjasama GeraiDinar.Com dengan Pusat Kios Dinar di BMT Berkah Madani ; Jl. Akses UI No 9 Depok yang resmi beroperasi bersamaan dengan ditandatanganinya MOU tersebut.

Bagi masyarakat di seluruh nusantara yang selama ini kesulitan untuk memperoleh Dinar, dapat mulai menghubungi BMT terdekat. Namun mohon dipahami bahwa bisa jadi BMT yang Anda hubungi juga belum bisa menyediakan Dinar saat itu, tetapi dengan adanya permintaan Anda – BMT tersebut dapat mulai menghubungi kantor asosiasinya di Jakarta atau melaui Pusat Kios Dinar di BMT Berkah Madani – untuk diatur mekanismenya lebih lanjut.

Kerjasama dengan BMT sangat bernilai strategis karena ini bukan hanya masyalah distribusi, tetapi juga penggunaan Dinar sebagai alat produksi bagi usaha kecil dan menengah. Para pemegang Dinar dapat menggunakan Dinarnya sebagai agunan untuk pinjaman di BMT.

Juga akan dimungkinkan muamalah yang difasilitasi BMT seperti produk-produk pinjaman (Qard Hasan), produk bagi hasil (Mudharabah) dlsb. dilakukan dengan menggunakan nilai Dinar.

Semoga langkah-langkah ini selalu mendapatkan bimbingan dan RidlaNya. Amin.

Labels:

Wednesday, November 5, 2008

Manhaj Islam Dalam Mentantisipasi Resesi…

Kemarin (14/11/08) di Brussels European Commission memberikan peringatan bahwa secara teknis 15 negara yang menggunakan mata uang Euro telah jatuh kedalam resesi.

Menurut para ekonom definisi resesi ini adalah pertumbuhan yang minus selama dua kwartal atau lebih secara berturut-turut.

Dengan definisi tersebut, Indonesia secara teknis belum (dan mudah-mudahan tidak) mengalami resesi ini. Data BPS terakhir yang saya lihat melalui situsnya menunjukkan PDB kita tumbuh 2.4 % pada triwulan ke 2 (Quarter to Quarter) tahun ini; meningkat dari 2.1 % pada triwulan sebelumnya. Saya belum peroleh data PDB untuk triwulan ke 3, mudah-mudahan juga baik kalau keluar nanti.

Ini mungkin yang menjadi alasan otoritas negeri ini nampak tenang-tenang saja menghadapi krisis finansial global yang mulai membawa resesi ke negara-negara ekonomi kuat seperti Uni Eropa tersebut diatas.

Mudah-mudahan mereka tahu apa yang kita tidak tahu, dan mudah-mudahan pula apa yang mereka ketahui (yang kita tidak tahu tersebut) adalah hal yang menyenangkan dan membawa kebaikan pada negeri ini.

Orang awam seperti saya (mungkin karena ketidak tahuan saya) hanya bertanya-tanya; apa iya sih negara-negara ekonomi kuat seperti Uni Eropa saja pada berjatuhan ke lembah resesi – sedangkan kita yang lebih banyak berhutang & lebih banyak membutuhkan investor dari luar – aman-aman saja ?.

Padahal kita juga tahu sebagian pemberi hutang dan investor kita juga datang dari negara-negara yang mengalami resesi tersebut !.

Ok, resesi atau tidak – tidak perlu kita permasalahkan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan diri agar kita siap mengahadapi situasi ekonomi yang buruk kedepan – kalau ini harus terjadi.

Alhamdulillah kita punya tuntunan yang sempurna, yang kesempurnaannya dinyatakan sendiri oleh Pencipta kita dalam firmanNya “…… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS 5:3).

Sebagai tuntunan yang sempurna, agama ini bukan hanya mengatur dengan hukum (syariat)-nya; tetapi juga memberi jalan atau metode (manhaj) dalam segala urusan.
Dalam menghadapi paceklik modern – krisis finansial global misalnya, kita bisa mengikuti manhaj nabi Yusuf yang diceritakan dengan sangat Indah dalam Al-Quran; petikannya :

“Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.”

Kunci mengantisipasi paceklik menurut ayat tersebut adalah gandum yang disimpan dan dibiarkan dibulirnya. Mengapa demikian ?; karena gandum yang dibiarkan dalam bulirnya akan awet tersimpan, tidak busuk dan ketika ditanam lagi sebagai bibit – dia tidak kehilangan daya tumbuhnya.

Panenan umat jaman ini bukan gandum, tetapi bagi yang bekerja bisa saja berupa gaji, bonus, tantiem dlsb. Bagi negara panenan ini bisa berupa minyak bumi, hasil hutan, hasil tambang, hasil laut dlsb.

Bagi individu mengatisipasi krisis dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sebagian yang kita hasilkan, menggunakan uang kertas untuk konsumsi jangka pendek, dan menyimpan sebagiannya di ‘bulirnya’ – yaitu asset lain yang tidak mengalami penurunan nilai. Dinar emas adalah salah satunya.

Bagi negara, mengantisipasi krisis dapat dilakukan dengan mengerem konsumsi sumber daya alam – meningkatkan kemampuan mengolah hasil bumi, hasil laut , hasil hutan, hasil pertanian dlsb. Sampai kebutuhan sandang, pangan dan papan semaksimal mungkin tercukupi dalam negeri.

Bagi negara juga jangan menukar asset riil yang sebenarnya tidak mengalami penurunan nilai ( minyak , gas dan hasil tambang lainnya misalnya), dengan asset yang mudah busuk nilainya seperti US$ dan berbagai mata uang asing lainnya.

Mudah kah ini diimplementasikan di jaman sekarang ?. Mungkin tidak mudah memang kalau kita berpikir secara sekuler; tetapi kalau kita sudah berniat sungguh-sungguh untuk mengambil jalan yang sesuai kehendakNya dan dicontohkanNya – maka insyaallah semua akan dimudahkanNya. Wallahu A’lam.

Labels: ,

Tuesday, November 4, 2008

Waspadai Perangkap Likuiditas…

Commodity IndexHari-hari ini harga komoditi dunia lagi rendah-rendahnya.. Minyak mentah tinggal US$ 63/barrel atau tinggal hanya 45 % dari harga tertingginya beberapa bulan lalu, bahkan disbanding harga setahun lalu harga minyak mentah ini telah mengalami penurunan hampir 30%.

Harga komoditi lain demikian juga seperti bahan pangan, metal dan tentu saja juga harga emas. Lihat tabel disamping posisinya per minggu lalu yang saya ambilkan dari harian The Economist.

Dari sekian banyak penurunan harga komoditi setahun terakhir, kita bisa lihat bahwa penurunan harga emas adalah yang paling kecil. Hal ini menambah satu lagi bukti bahwa emas tidak pernah kehilangan daya belinya terhadap barang-barang kebutuhan manusia.

Ketika harga-harga komoditi dunia rendah seperti sekarang ini, bukankah ini baik untuk kita semua ?. Sesaat bisa jadi demikian, tetapi karena rendahnya harga-haraga ini terjadi pada saat puncak krisis likuiditas melanda dunia – kita perlu waspadai.

Dalam tulisan saya pertengahan bulan lalu Tahapan Dalam Krisis dan Pengaruhnya Terhadap harga Emas , saya memberi ilustrasi grafis bagaimana harga emas justru rendah di puncak krisis – maka demikian pula-lah perilaku harga komoditi lainnya.

Bagaimanapun harga adalah fungsi supply & demand , ketika supply-nya tetap sedangkan demand-nya menurun – maka harga pasti turun.

Secara umum demand terhadap komoditi-komoditi global turun karena likuiditas untuk membelinya yang menyusut. Tentang penyusutan likuiditas ini pernah saya tulis bulan lalu juga pada artikel Kemana Menghilangnya Likuiditas .

Menyusutnya likuiditas inilah yang kita perlu waspadai. Dalam tulisan saya bulan lalu tersebut saya menjelaskan bagaimana bank menggandakan likuiditas berpuluh kali lipat melalui proses money creation dalam system fractional reserve banking . Penggandaan uang ini terjadi ketika uang yang sama diputar sekian kali melalui pinjaman antar bank.

Apa jadinya kalau proses pinjam-meminjam antar banknya ini terganggu ? likuiditas akan drastis menyusut. Ketika otoritas moneter negara-negara besar berusaha meningkatkan likuiditas ini dengan meningkatkan base money M1, tetapi kemudian bank-bank takut memberikan kredit ke bank atau institusi lain – maka peningkatan base money M1 ini tidak menambah likuiditas di pasar secara berarti.

Situasi ini dalam ilmu ekonomi moneter disebut liquidity trap atau saya alih bahasakan menjadi Perangkap Likuiditas. Uang terjebak dalam pundi-pundi bank karena mereka enggan meminjamkannya keluar.

Keengganan mereka mengedarkan uang ini bisa jadi karena dua alasan. Pertama mereka kawatir akan kesehatan dan kemampuan mengembalikan dari si peminjam. Kedua sangat bisa jadi bank-nya sendiri yang lagi kawatir terhadap kesehatannya sendiri – mereka sendiri butuh ngekepi sejumlah besar likuiditas agar tidak oleng.

Apa yang terjadi sesudah itu ?; segera setelah kekawatiran mereda – mereka sadar serentak bahwa likuiditas yang ada di pundi-pundi mereka sudah terlalu banyak (karena base money M1 yang dicetak berlebih semasa krisis), maka mereka rame-rame akan bingung menyalurkan likuiditas yanga ada. Saat itulah daya beli uang kertas jatuh, dan harga komoditi akan meroket bahkan lebih tinggi dari harga-harga tertinggi sebelumnya. Grafik di tulisan saya bulan Oktober tersebut diatas menjelaskan hal ini secara visual.

Lantas apa yang bisa kita lakukan secara individu atau keluarga dalam mengantisipasi Perangkap Likuiditas tersebut ?. Perthankan likuiditas jangka pendek Anda misalnya cukup untuk kebutuhan enam bulan sampai setahun mendatang; selebihnya investasikan ke barang-barang yang memiliki nilai riil dan sedapat mungkin berputar (agar tidak menimbun).

Dinar dan Program Qirad dari Gerai Dinar adalah salah satu saja dari berbagai alternatif yang ada di lapangan. Asal Anda investasi di sector riil dan bukan pada produk-produk keuangan atau pasar modal, insyaallah baik. Wallhu A’lam.

Labels: