Waktu saya masih aktif sebagai eksekutif, saya sering merasa seperti
sandwich yang terjepit di tengah antara karyawan dan pemegang saham. Sementara menyadari betul kebutuhan karyawan untuk peningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan, saya juga harus memenuhi kebutuhan pemegang saham yang amanah atas hartanya yang diserahkan ke saya harus saya jaga baik-baik agar minimal nilainya tidak berkurang dari waktu ke waktu. Dua kepentingan ini tidak selalu bisa disatukan.
Tugas-tugas menjaga kepentingan yang kadang tidak sejalan tersebut menjadi semakin berat pada saat inflasi tinggi. Tugas teman-teman saya yang masih aktif di eksekutif saat sekarang ini pastilah sangat berat.
Bayangkan per akhir bulan Mei kemarin, berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) yang di
release awal pekan lalu inflasi (year on year) di Indonesia sudah memasuki
double digit yaitu pada angka 10.53%. Pada periode yang sama tahun lalu angka ini ‘hanya’ 6.01%. Sepanjang tahun lalu inflasi kita ‘hanya’ 6.59%.
Apa artinya inflasi tinggi ini bagi karyawan ?; kalau gaji mereka hanya naik 10% saja tahun ini misalnya – pastilah beban hidup terasa semakin berat bagi mereka. Sebaliknya bagi pemegang saham, kalau kenaikan ekuitas bersih mereka dibawah 10 % artinya kekayaan mereka sebenarnya menurun.
Situasi yang sulit ini sering hanya menjadi keluhan bagi semua orang. Karyawan mengeluh gajinya tidak cukup. Pemegang saham mengeluh karena investasinya tidak mendapatkan hasil yang seharusnya. Si eksekutif pun mengeluh menjadi
sandwich seperti yang dulu saya rasakan diatas. Semua merasa ketidak adilan menimpa dirinya. Lantas siapa yang untung ? , tidak ada yang untung apabila semua hanya di
response dengan keluhan. Jalan keluarlah yang harus dicari.
Salah satu dari jalan keluar itu adalah keluar dari sistem lingkaran setan yang ada – dalam arti harfiah benar-benar keluar dari lingkungan kerja yang ada – kan
Allah hanya mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya ?.
Kalau Anda merasa sudah suntuk dengan lingkungan yang ada dan nggak mungkin merubahnya, mungkin jalan keluarnya memang Anda harus keluar dari lingkungan tersebut. Namun jangan salah, rumput tetangga sering kelihatan lebih hijau ...ketika Anda keluar dari perusahaan Anda sekarang dan masuk ke perusahaan lain, sangat bisa jadi Anda akan temui hal yang sama.....jadi pikirkan baik baik sebelum memutuskan untuk pindah ke perusahaan atau instansi lain.
Lantas apa dong solusinya ?. Salah satu yang barang kali berharga untuk Anda coba adalah berwiraswasta sesuai keahlian yang Anda miliki. Sebgai
entrepreneur Anda tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas apapun yang Anda hadapi. Kalau Anda bekerja dengan baik insyaallah hasil Anda akan baik. Kalau Anda bermalas-malasan, Anda juga jangan mengeluh kalau rizky tidak kunjung datang.
Di era teknology ini ada
new breed of entrepreneur yang layak Anda coba yaitu apa yang disebut
Netpreneur.
Netpreneur adalah manusia-manusia pengusaha yang menciptakan produk atau jasa untuk atau melalui jaringan dunia digital.
Apa kelebihan seorang
Netpreneur dibandingkan dengan bekerja di perusahaan/institusi lain ?.
1)
Netpreneur tidak memiliki kendala batas teritory, batas sumber daya, batas ukuran perusahaan besar kecil...
2) Pasar baru yang terus berkembang dengan pesat diluar paradigma pasar konvensional
3)
Infomediaries yang menjadi
new distribution channel yang sebelumnya tidak ada...
4) Intelektual asset Anda bisa menjadi kekayaan dan modal yang nyata..
5)
Quality time karena anda bisa bekerja dimana saja yang Anda inginkan...
6) Muslimin dan Muslimah bisa lebih menjaga diri karena bisa memilih lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah...
7) dlsb...dlsb...
Teorikah ini ?; Insyaallah tidak hanya teori. GeraiDinar adalah salah satu contoh nyata dari konsep
Netpreneur ini.
Pengunjung GeraiDinar saat ini berasal dari 48 negara, ditangani sendiri oleh hanya dua orang tenaga inti (saya sendiri dan istri) plus 3 orang staff untk berbagai keperluan. 24 Jam kami bisa berkumpul keluarga ( well nggak sepenuhnya karena anak-anak pergi sekolah siang hari)...dan yang lebih menggembirakan adalah saya bisa bergegas ke Masjid setiap mendengar suara adzan...tidak ada rapat yang mengganggunya, dan kalau toh ada tamu ...maka tamu tersebut saya ajak sekalian ikut ke Masjid.....
Lantas apa modalnya ?, modal utamanya ya ide kita tadi – kekayaan intelektual yang ada pada diri kita....plus tentu peralatan secukupnya. Untuk GeraiDinar peralatan ini meliputi beberapa komputer dan jaringan internet yang memadai.....

Kantornya ?...bisa di salah satu sudut ruangan di rumah kita yang kita paling comfortable; saya sampai perlu memindah-mindahkan ruangan kerja ini 3 kali sebelum akhirnya merasa comfortable.
Anda tertarik dengan ‘iklan’
Netpreneur ini ?; now available untuk ditiru...bahkan Anda bisa magang ditempat kami kalau perlu. Program penyebar luasan kewirausahaan modern ini sekarang di organisir melalui CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development) dan bisa di
hire oleh perusahaan-perusahaan yang ingin menyiapkan karyawannya untuk pensiun dini dslb. Mudah-mudahan bermanfaat.
Labels: Netpreneur