Hari-hari ini Dollar masih menguat dan harga emas masih meneruskan trend menurunnya yang sudah dimulai selama dua pekan terakhir. Namun berlawanan dengan realita dua pekan terakhir tersebut, saya ingin terus melanjutkan argumentasi saya bahwa gejala penurunan harga emas ini sementara; Setelah melalui masa-masa konsolidasi – harga emas akan naik kembali, begitu seterusnya.
Dalam tulisan ini saya akan membahas tiga alasan fundamental lagi, lanjutan dari tulisan yang kemarin.
1). Ingat
equation of exchange M x V = P x Q yang banyak saya tulis di blog ini, antara lain di tulisan
Agar Harta Itu Jangan Hanya berputar di Golongan Yang Kaya….
P x Q atau Harga x Jumlah Barang dan Jasa yang diproduksi oleh suatu Negara akan merepresentasikan GDP Negara itu. Apabila Q realtif tetap (atau hanya tumbuh dalam beberapa persen saja), V juga relatif tetap; dan juga apabila M tumbuh besar (bahkan sangat besar),; maka P-lah yang akan naik sangat besar.
Berdasarkan data yang berasal dari
Flow of Fund Accounts of the United States, Federal Reserve Jun 7, 2007; dan data GDP dari
Bureau of Economic Analysis, Amerika Serikat menambahkan 5 Dollar dalam hutang untuk setiap Dollar dalam GDP. Hal ini juga nampak dari kenaikan yang sangat tinggi pada devisa negara lain dalam bentuk Dollar Amerika. Cadangan Devisa China Misalnya Naik dari US$ 200 Milyar tahun 2001 menjadi sekitar US$ 1,400 Milyar tahun 2007. Cadangan Devisa Rusia, naik dari sekitar US$ 50 Milyar tahun 2003 menjadi sekitar US$ 400 Milyar tahun 2007.
Artinya apa ?, harus sangat banyak tersedia Dollar ketimbang harga produk dan jasa yang diproduksi Amerika. Artinya harga-harga akan melambung sangat tinggi - yang berarti juga uang Dollar menjadi tidak berarti nilainya.
2) Rumah menjadi sumber bencana, inipun terjadi di Amerika dalam arti yang sesungguhnya. Betapa tidak sepanjang tahun lalu saja dan sampai sekarang krisis ekonomi yang melanda Amerika serikat dan mempengaruhi hampir seluruh belahan dunia lain dimulai antara lain dari krisis kredit perumahan disana.
Dari masalah yang tadinya bersumber di kredit perumahan tersebut, dua pekan lalu korban raksasa-nya sudah jatuh yaitu salah satu pelaku kunci di Wall Street – Bear Stearns. Kalau pemain raksasa dengan pengalaman lebih dari 85 tahun saja bisa rontok dengan krisis semacam ini. Siapa yang bisa menjamin bahwa korban-korban berikutnya tidak akan berjatuhan ?.
3) Tumbuhnya masyarakat pemakan rumah dengan berbagai nama seperti
interest –only- mortgages , adjustable-rate mortgages, pick-a payment mortgages dan berbagai nama-nama indah lainnya. Hakikatnya ini semua adalah bentuk kebangkrutan baru, dimana orang sebenarnya tidak mampu untuk memiliki rumah yang didiaminya – tetapi memaksakan dirinya. bahkan banyak diantara mereka menjadikan rumahnya untuk mendanai konsumsi kebutuhan mereka sehari-hari melalui berbagai produk
mortgage dengan cicilan rendah tersebut.
Dengan hanya membayar bunga pinjaman, atau cicilan yang sangat rendah dibandingkan yang seharusnya. Maka hutang mereka sebenarnya makin lama makin naik bersamaan dengan naiknya harga rumah....dan mereka semakin kehilangan ekuitasnya yang utama bagi keluarga yaitu rumah.
Dari sisi bank atau lembaga keuangan yang memberikan pinajaman demikian, untuk sesaat mungkin tidak menjadi masalah – tetapi akumulasi dari hutang yang tidak tertagih makin lama makin membengkak. Di beberapa daerah di Amerika misalnya, gagal bayar ini meningkat sampai diatas 160% tahun lalu.
Tiga fakta tersebut diatas menambah fakta-fakta lain yang sudah saya ungkapkan di tulisan I. Intinya adalah apa yang nampak di permukaan Indah – seperti yang selalu digambarkan di tontonan-tontonan yang berasal dari Amerika, sebenarnya keropos di dalamnya. Dalam kaitan dengan investasi dan keuanganpun demikian, sepintas kelihatan indah dalam bentuk kinerja bursa saham, dan daya beli Dollar yang masih baik - namun masalah-masalah besar sedang mengancam mereka . Wallahu A’lam.
Labels: cadangan devisa, kredit perumahan, mortgages