Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
Info Harga Dinar
12 - Mar - 2010 Jam 06 : 30  
Item Jual (Rp) Beli (Rp)
Dinar 1,412,820 1,356,307
Dirham 32,711 31,403
Emas *
24 K 335,753 322,322
*Diluar Biaya Cetak
US$/Oz 1,109.75
USD Index 80.28
Rupiah Index 61.31

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Thursday, January 31, 2008

Waktunya Bicara Dirham...

Begitu asyiknya saya menulis tentang Dinar di blog ini, saya lupa ada potensi investasi dan proteksi nilai yang tidak kalah prospektifnya dengan Dinar Emas - yaitu Dirham perak.

Seluruh pembahasan mengenai emas atau Dinar di blog ini, sebenarnya juga relevan dengan perak atau Dirham. Kedua mata uang ini Dinar dan Dirham sering disandingkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, hal ini menunjukkan nilai penting keduanya sebagai alat pertukaran dan nilai tukar yang adil bagi kaum muslimin.

Nilai tukar uang Dinar dan Dirham juga diindikasikan oleh Rasulullah SAW dalam 2 hadits berikut :

”Kamu tidak berkewajiban mengeluarkan zakat emas hingga kepemilikanmu mencapai 20 dinar. Jika kamu memiliki emas 20 Dinar dan cukup satu tahun, zakatnya adalah setengah Dinar. Selebihya dihitung seperti itu dan tidak wajib zakat pada sesuatu harta hingga mencapai satu tahun” (HR. Ahmad, Abu daud, Baihaqi, dan dinyatakan sahih oleh Bukhari dan hadits hasan menurut al-Hafizh)

”Aku telah membebaskanmu dari zakat kuda dan budak. Karena itu, keluarkanlah zakat perak, yakni dari setiap empat puluh Dirham adalah sebanyak satu Dirham. Akan tetapi, tidak wajib mengeluarkan zakat jika banyaknya hanya mencapai 190. Jika jumlahnya telah cukup 200, kamu wajib mengeluarkan zakatnya sebanyak lima Dirham” (HR. Ash-Habus Sunan).

Dua hadits diatas mengindikasikan bahwa di zaman Rasulullah SAW harga Dinar setara dengan 10 Dirham, hal ini juga dikuatkan oleh hadits lain yang membahas masalah Diyah atau uang darah misalnya yang ditentukan sebesar 800 Dinar atau 8000 Dirham. Namun angka ini juga bukan angka mati karena harga keduanya secara independent berjalan terpisah mengikuti harga pasar. Di zaman Khalifah Umar bin Kattab misalnya pernah dicatat harga Dinar ke Dirham ini menjadi 1 Dinar setara 12 Dirham karena mengikuti perkembangan pasar seperti riwayat berikut ini :

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr ibn al-’As :” Nilai uang darah pada zaman Rasulullah SAW adalah delapan ratus Dinar atau delapan ribu Dirham, dan uang darah bagi ahlul kitab adalah separuh dari Muslim. Ia berkata : ini berlaku sampai Umar bin Khattab RA menjadi Khalifah dan dia berkata : catat ! Unta-unta menjadi berharga (mahal). Kemudian Umar menetapkan nilai uang darah berdasarkan bahwa barang siapa yang mimiliki uang emas (maka uang darah yang berlaku saat itu) senilai seribu Dinar, barang siapa memiliki uang perak maka senilai duabelas ribu Dirham, barang siapa memiliki ternak sapi maka senilai dua ratus ekor sapi, barang siapa memiliki ternak kambing maka senilai dua ribu ekor kambing, barang siapa memiliki barang dagangan baju resmi maka senilai dua ratus baju resmi. Kemudian beliau membiarkan uang darah bagi orang kafir dhimmi (yang dalam perlindungan) tetap, tidak menaikkan persentasenya dari ketentuan uang darah Muslim”. Riwayat Sunan Abu Daud

Dari ketentuan persamaan berat yang ditentukan oleh Umar bin Khattab bahwa 10 Dirham sama dengan berat 7 Dinar, karena berat 1 Dinar = 4.25 gram emas 22 karat maka berat 1 Dirham = (7*4.25)/10 = 2.975 gram.

Kemudian dari persamaan-persamaan tersebut kita juga bisa menghitung harga perak yang wajar terhadap emas dan sebaliknya yang mungkin juga akan tercapai di waktu yang akan datang dengan perhitungan berikut :

2.975 gr * 10 * harga perak = 4.25*1*22/24 * harga emas
harga perak = (4.25*1*22/24)/(2.975*10)*harga emas
harga perak = 0.131 * harga emas
harga emas = 7.64 *harga perak
(apabila angka 10 diganti angka 12 maka harga emas = 9.17 x harga perak)

Jadi harga emas bisa mencapai 7.64 kali sampai 9.17 kali harga perak. Kenyataannya saat ini harga emas mencapai 55 kali harga perak. Jadi dari sini bisa dilihat bahwa harga perak masih berpeluang naik menuju ke angka 7.64 kali sampai 9.17 kali tersebut. Angka ini akan sangat mungkin terjadi apabila perak benar-benar digunakan sebagai uang (Dirham) karena penggunaan perak untuk Dirham ini akan meningkatkan kebutuhan perak secara significant. Alasan lain peluang akan naiknya harga perak ini juga disebabkan oleh :

1. Kenaikan kebutuhan akan perak tidak bisa serta merta diimbangi dengan kenaikan produksi. Produksi perak lebih merupakan hasil samping dari produksi emas, tembaga, seng dan timbal.
2. Hasil produksi perak selama ini lebih banyak dikonsumsi untuk bahan baku industri (pembuatan film, industri elektronik dlsb), apabila ada kebutuhan lain misalnya untuk memproduksi uang Dirham maka otomatis akan menaikkan harga perak sampai harga yang jauh lebih tinggi dari harga perak sekarang.

Selain dua alasan tersebut, dari statistik harga emas dan perak lebih dari seratus tahun kita juga bisa melihat bahwa harga perak mempunyai korelasi yang sangat nyata dengan pergerakan harga emas maupun terhadap harga minyak. Terhadap harga emas, koefisien korelasi harga perak 106 tahun mencapai angka 0.835. Sedangkan terhadap harga minyak selama 60 tahun koefisien korelasi mencapai angka 0.830.

Terlepas bahwa perimbangan harga perak saat ini yang masih jauh lebih murah terhadap harga emas dibandingkan dengan perimbangan harga perak terhadap emas pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, tidak berarti uang perak (Dinar) kurang berharga dibandingkan dengan uang emas atau Dinar. Karena kedua uang ini berbasis pada nilai riil bahan yang digunakan, maka nilainya masing-masing tentu terpengaruh oleh fluktuasi naik turunnya harga dari bahan yang digunakan tersebut. Sejauh naik turunnya harga bahan tersebut (yang berarti juga naik turunnya daya beli Dinar dan Dirham) berlangsung alami mengikuti hukum penawaran dan permintaan maka ini merupakan hal yang fitrah.

Dan Kehidupan Dunia Ini Tidak Lain Hanyalah Kesenangan Yang Menipu...

Harga emas 310108 utk perhitungan harga Dinar Ketika melihat apa yang terjadi di pasar emas dunia semalam, saya kesulitan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Betapa tidak, seluruh dunia berspekulasi untuk menunggu seorang Ben Bernanke beserta jajarannya di The Fed untuk mengumumkan hasil rapatnya.

Selama menunggu keputusan tersebut, harga emas berfluktuasi dari US$ 923/troy oz, sempat turun ke US$ 917/troy oz ; naik ke rekor tertinggi US$ 937.5/ troy oz sebelum akhirnya turun ke angka US$ 927 /troy oz ketika artikel ini saya tulis.

Kita hanya bisa melihat sesuatu benda bergerak dengan kecepatan tertentu, kalau kita mengukurnya dari suatu titik yang diam. Dalam hal harga beli, kita sudah jelaskan di artikel sebelumnya bahwa yang terbukti tetap selama ribuan tahun adalah daya beli emas . Jadi melihat ‘gejolak’ tersebut diatas – sebenarnya bukan harga emasnya yang bergejolak – tetapi daya beli US$-nya yang sangat tidak stabil.

Apa makna ini semua ? kita lagi menikmati kesenangan yang menipu seperti yang saya quote dari akhir ayat 20 QS : 57 diatas.

Hari-hari ini bisa jadi pasar akan menunjukkan perbaikan, Index bursa saham akan naik tetapi penyebabnya bukan karena perusahaan-perusahaan di lantai bursa tiba-tiba berkinerja luar biasa . Juga bukan karena team ekonomi di pemerintahan membuat kebijakan yang brillian, tetapi karena alat ukurnya yang berupa US$ turun nilainya. Angka yang bergerak membaik di bursa saham, cadangan devisa yang kita miliki terus bertambah – tetap tidak mengubah realita yang kita hadapi bahwa daya beli kita menurun, seluruh harga barang menjadi terlalu mahal bagi kebanyakan rakyat negeri ini.

Kalau saya sebagai seorang muslim percaya bahwa alat ukur yang adil adalah yang baku nilainya sepanjang zaman, karena hal ini memang bagian dari ajaran agama ini. Imam Ghazali ulama besar yang karyanya menjadi rujukan kita bahkan secara tegas memformulasikan bahwa hanya emas dan peraklah yang bisa jadi hakim atau timbangan yang adil dalam bermuamalah.

Karena nilai-nilai keadilan Islam ini bersifat universal, maka semua umat yang ingin menggunakan neraca keadilan akan ketemu keadilan yang sama. Disini saya ambilkan contoh pendapat Franklin Sanders - The Money Changers yang dimuat di GoldPrice.org dua hari lalu.

'Its impossible to judge value if you measure in US dollars. Like trying to shoot skeet off the end of a bass boat in a storm -- everything is changing. So you have to toss out thinking in dollars & start thinking in silver & gold.”

“Wa ma alhayatu ddunyaa illaa mataa ‘ul ghurur”.

Wednesday, January 30, 2008

Persiapan Menghadapi Yang Pasti Terjadi....

Semua umat manusia di dunia percaya bahwa mati itu pasti terjadi, bahkan bagian dari keimanan seorang muslim – kita juga yakin seyakin-yakinnya bahwa hari kiamat pasti terjadi. Yang kita tidak tahu adalah waktunya - kapan hal-hal yang pasti tersebut terjadi.

Demikian pula keyakinan kita bahwa uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba pasti hancur karena Allah sendiri yang berjanji akan memusnahkannya (QS 2 : 276). Yang kita juga tidak tahu adalah kapan uang kertas ini akan musnah. Bahkan spekulan masa kini George Soros dan juga futorolog masa kini kini seperti John Naisbitt -pun meyakini akan berakhirnya dominasi mata uang kertas ini.

Bukti-bukti kehancuran uang kertas ini sudah begitu banyak, namun kita sering mengabaikan. Bukti paling mutakhir yang kini sedang terjadi adalah harga emas per-pagi ini dalam Dollar yang melonjak 43.70 % dibandingkan harga emas setahun yang lalu.

Di Indonesia uang kita pernah dipotong tiga angka nolnya tahun 1965 – namun tiga angka nol tersebut kembali lagi dalam 30 tahun kemudian. Saat ini tidak ada diantara kita yang menaruh uang Rupiah dengan angka nol kurang dari tiga di dompet !. Tahun 1998 kekayaan umat Islam Indonesia dalam Rupiah jatuh nilinya tinggal 1/4 dari nilai sebelumnya hanya dalam hitungan hari...

Foto disamping menunjukkan betapa tragisnya nasib uang kertas di Jerman tahun 1923. Seorang ibu lebih suka membakar uang untuk menghangatkan ruangan daripada membeli kayu bakar – karena harganya sama !. Pada tahun itu juga orang yang membeli roti harus membawa kereta dorong, bukan untuk mengangkut roti – tetapi untuk mengangkut uangnya.

Melihat ini semua, sikap kebanyakan kita adalah seperti melihat kematian. Kita yakin kita juga akan mengalami – tetapi sangat sedikit dari kita yang mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Lantas bagaimana kita menghadapinya ? Bangun ketahanan ekonomi rumah tangga kita berbasis Dinar (Yukhsinun), namun jangan sampai menimbun (Yaknizun). Lihat antara lain tulisan saya sebelumnya Bangun Ketahanan Ekonomi...; dan banyak lagi tulisan lainnya baik yang sudah maupun yang akan saya tulis kemudian – insyaallah apabila Allah memberi usia saya dan memberi kesehatan, memberi kelapangan rizky, waktu dan berbagai kurnia lain yang tidak bisa kita sebut satu per satu. Wallahu A’lam bis Showab.

Labels: , , , , ,

Tuesday, January 29, 2008

Satu Lagi Pertanda Kehancuran Uang Kertas : Pagi Ini Harga Dinar Melewati Angka Psikologis Berikutnya Yaitu Rp 1,200,000,-

Kurang dari tiga minggu lalu – tepatnya tanggal 11 januari 2008, saya menulis di blog ini bahwa Dinar sedang menuju angka psikologis berikutnya yaitu Rp 1,200,000. Pagi ini analisa tersebut terbukti. Dengan demikian berarti dalam 1 bulan terakhir Dinar melewati dua angka psikologis – setelah tanggal 3 Januari 2005 Dinar melewati angka Rp 1,100,000,-.

Hal ini sama sekali bukan berarti saya peramal atau tahu sesuatu sebelum terjadi, tetapi semata karena pola kehancuran uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba ini begitu jelas dan dijanjikan sendiri oleh Allah swt. Lihat tulisan saya sebelumnya mengenai Kehancuran Uang Kertas, dan juga tulisan mengenai Harga Dinar.....

Selain bisa dilihat dari kacamata keimanan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an ; proses kehancuran uang kertas ini juga dapat dilihat dari analisa terhadap realitas pasar. Hal ini bahkan diakui oleh praktisi atau spekulan pasar sekaliber George Soros. Dalam pertemuan di Davos – Swiss pekan lalu ia bahkan mengguncang pasar uang dengan pernyataannya bahwa penurunan nilai Dollar sekarang ini akan menuju berakhirnya dominasi mata uang Dollar yang berlaku di dunia saat ini. Kenyataan ini membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada mata uang kertas yang bisa berumur panjang. Keberadaannya bisa jadi akan tetap dipaksakan, tetapi nilainya tidak ada.

Ketidak percayaan pasar terhadap Dollar-lah yang menjadi penyebab utama melonjaknya harga emas internasional di seluruh perdagangan kemarin. Bukan emasnya yang naik tetapi daya beli Dollar-nya yang semakin menurun. Kalau US Dollar saja yang selama ini dianggap perkasa bisa hancur, apa yang membuat kita percaya bahwa uang kertas kita akan tetap perkasa ? .

Perlu diingat bahwa dalam jangka pendek menurunnya nilai Dollar atau naiknya nilai emas ini juga masih sangat kuat dipengaruhi oleh spekulasi pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan lagi suku bunganya secara significant dalam rapat rutinnya tiga hari mendatang. Apabila spekulasi ini tidak terbukti – sangat mungkin harga emas akan turun kembali setelah itu.

Apabila harga emas turun awal minggu depan, ini akan bersifat sementara – karena trend utamanya akan tetap naik seperti saya uraikan di beberapa tulisan sebelumnya yang saya sebut diatas. Wallahu A’lam bi Showab.

Sunday, January 27, 2008

Tanpa Sadar Kita Sempat Kaya Tetapi Kemudian Tanpa Sadar Pula Kita Menjadi Miskin Kembali...

Hari ini sampai 7 hari kedepan negeri ini dinyatakan berkabung secara nasional, alasannya adalah mantan pemimpin negeri ini yang dipandang berjasa telah berpulang ke hadapan Allah Yang Maha Pencipta.

Terlepas dari berbagai kontroversi baik buruk yang telah dia lakukan; dari kaca mata Dinar saya ingin memahami – apa yang telah beliau lakukan selama masih hidupnya.

Lagi-lagi saya menggunakan tolok ukur Dinar – karena ini tolok ukur yang baku sepanjang zaman. Uang kertas Rupiah maupun Dollar tidak bisa menjadi alat ukur yang adil karena nilainya yang terus menyusut.

Awal pemerintahan H.M Soeharto, negeri ini amat sangat terpuruk dengan inflasi yang sampai 680%. dan pendapatan per kapita saat itu saya duga hanya berkisar 1- 2 Dinar . Akhir lima tahun pertama pemerintahannya pendapatan per kapita dalam Dinar telah mencapai 5 Dinar.

Dua puluh lima tahun berikutnya, sebelum negeri ini kembali terpuruk yang sampai berakibat H.M. Soeharto harus kehilangan jabatan kepresidenannya, negeri ini sebenarnya pernah mencapai pendapatan perkapita 21.41 Dinar yaitu pada tahun 1997 – pas sebelum krisis.

Angka pendapatan per kapita diatas 20 Dinar ini sangat penting bagi Islam, karena kita tahu bahwa batas seorang dinyatakan kaya dalam Islam adalah ketika dia wajib membayar Zakat Mal-nya yaitu ditentukan dengan nishab 20 Dinar. Jadi pada suatu saat di tahun 1997 – sesaat sebelum krisis – rata-rata penduduk negeri ini sempat masuk kategori kaya !. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi, sisi yang mendukung Soeharto tentu bisa menggunakan ini sebagai suatu cerita keberhasilan Soeharto dalam membawa negeri ini dari tingkat kemiskinan yang sangat menjadi bangsa yang 'pernah kaya'. Bagi yang kecewa dengan Soeharto dapat membuktikan kekecewaannya, bahwa ternyata selama 32 tahun memerintah - dengan modal sumber daya alam yang melimpah - hanya sesaat saja Soeharto membawa kemakmuran di negeri ini.

Bagaimanapun orang menilai masa lalu, yang lebih penting sekarang adalah mengingatkan tugas yang masih hidup, khususnya yang mengemban amanat pemerintahan – sebenarnya adalah mengembangkan atau minimal mempertahankan kekayaan umat tersebut.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi sesudahnya; semasa krisis – hancur leburlah negeri ini sehingga pendapatan per kapita penduduknya pernah anjlog menjadi hanya 3 Dinar pada tahun 1998 dan posisi ini naik turun selama satu periode pemerintahan berikutnya.

Tahun 2004 ketika terjadi pergantian pemerintahan kembali, sekali lagi negeri ini dalam posisi rata-rata penduduknya kaya dengan pendapatan perkapita diatas 20 Dinar. Namun inipun tidak juga bertahan lama karena setelah sempat mencapai puncak kekayaan tersebut dengan pendapatan per kapita kita diatas 23 Dinar (2005), dua tahun berikutnya pendapatan per kapita kita terus mengalami penurunan. Perkiraan saya saat ini pendapatan per kapita kita tinggal sekitar 14 Dinar saja.

Memang angka saya ini bisa diperdebatkan kebenarnannya, karena ketersediaan dan konsitensi data statistik adalah barang yang langka di negeri ini. Saya coba gali statistik pendapatan per kapita dalam Rupiah dan Dalam Dollar saja hasilnya simpang siur. Tahun 2006 menurut ketua BPS yang kemudian juga di quote oleh Wapres, pendapatan per kapita negeri ini mencapai US$ 1,500. Tidak sampai setahun kemudian Prof Boediono mengungkapkan bahwa pendapatan per kapita kita telah mencapai US$ 4,000 – begitu cepatkah kemajuan kita ? Wallhu A’lam mungkin masing-masing mempunyai sumber perhitungan yang berbeda.

Dari angka yang sangat berbeda tersebut saya gunakan angka yang konservatif saja yaitu angkanya BPS. Kebetulan angka BPS ini tidak jauh berbeda dari angkanya Bank Dunia untuk dua tahun sebelumnya – jadi lebih masuk akal.

Keakuratan data bisa diperdebatkan, namun pelajaran yang kita ingin ambil adalah bahwa meskipun pendapatan per kapita kita dalam US Dollar naik terus dalam beberapa tahun terakhir seperti yang ditunjukkan di garis hijau dari grafik diatas; ini tidak berarti kita tambah kaya - karena alat ukur yang namanya US Dollar inipun menyusut nilainya secara sangat drastis 7 tahun terakhir. Dengan alat ukur yang stabil daya belinya sepanjang zaman, yaitu Dinar yang direpresentasikan dengan garis emas di grafik diatas -dua tahun terakhir ternyata kita kembali jatuh miskin dengan pendapatan per kapita dalam Dinar yang terus menurun.

Saya sendiri berharap analisa saya ini keliru, lho kok begitu ? – Iya , karena lebih baik tidak sadar kita tambah kaya– daripada tambah miskin, juga tidak sadar...

Labels: , , ,

Berapa Penghasilan Dalam Dinar Yang Kita Butuhkan Setelah Pensiun...?

Ahad lalu saya sudah mulai menulis bagaimana menentukan kebutuhan Dinar kita untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Pada tulisan saya yang pertama tersebut saya menulis cara
menghitung kebutuhan Dinar tunai
seperti untuk biaya pendidikan, biaya naik haji dlsb.

Kali ini saya ingin menulis bagaimana menghitung kebutuhan penghasilan atau biaya rutin dalam Dinar sekian tahun yang akan datang ( masa pensiun), dengan struktur penghasilan dan biaya yang kita rencanakan dari sekarang. Prinsip dasar bahwa Dinar tidak terpengaruh inflasi akan sangat memudahkan kita membuat perencanaan kebutuhan jangka panjang ini.

Secara garis besar misalnya saat ini kita hidup cukup longgar dengan biaya 10 Dinar sebulan, maka selama pensiun nanti belasan tahun yang akan datang kita insyaallah tetap akan dapat menikmati kwalitas hidup yang sama dengan 10 Dinar per bulan ini – hal yang sama tidak akan pernah bisa apabila uang kita Rupiah, US$ ataupun mata uang kertas lainnya.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa elemen-elemen penghasilan dan biaya saat itu kemungkinan besar berubah. Perubahan –perubahan inilah yang harus kita antisipasi dan kita gunakan untuk melakukan adjutment dari kebutuhan biaya kita sekarang. Berikut adalah butir-butir yang perlu dipersiapkan dari sekarang :

1) Pada saat pensiun, dari mana penghasilan rutin kita. dari tabungan ?, dari dana pensiun tempat kerja kita ? atau dari usaha yang kita sudah rintis ? . Apabila penghasilan tersebut dari tabungan atau dari dana pensiun, maka lebih cepat Anda menukarnya dengan Dinar akan lebih baik – karena apabila tetap tersimpan dalam mata uang kertas nilainya akan terus menyusut – lihat tulisan saya mengenai Inflasi yang Menghanguskan.... Beruntunglah Anda apabila saat ini telah merintis usaha, karena investasi terbaik – bahkan lebih baik dari Dinar – adalah usaha riil yang berjalan baik. Untuk yang terakhir ini lihat tulisan saya mengenai Sebagai Instrumen Investasi, Dinar Hanya Peringkat Kedua...
2) Semakin tua tentu kita ingin semakin banyak beramal, bukan sebaliknya. jadi dana untuk beramal dalam bentuk apapun juga harus kita rencanakan. Idealnya kalau kita bisa sampai mengalokasikan sepertiga dari penghasilan/kekayaan kita untuk infaq/sedeqah. Lihat pula Prinsip 1/3 dari tulisan saya sebelumnya.
3) Sedapat mungkin tidak ada pinjaman yang harus dibayar/dicicil selama kita pensiun. Usahakan seluruh hutang jangka panjang untuk beli rumah misalnya – tidak melewati usia pensiun.
4) Akan ada biaya yang turun setelah kita pensiun, misalnya biaya telepon, kendaraan, pakaian, perjalanan dslb.
5) Sebaliknya ada biaya yang pasti naik setelah kita berangkat tua yaitu biaya kesehatan. Secara umum biaya kesehatan bagi kita semua mengalami kenaikan karena tiga faktor yaitu faktor usia (makin tua makin sering sakit), faktor memburuknya lingkungan (penyakit-penyakit baru bermunculan), dan faktor inflasi – yang terakhir ini tidak berlaku karena yang kita gunakan Dinar.

Dari faktor-faktor tersebut, kita bisa perkirakan berapa dana dalam Dinar yang kita butuhkan selama kita pensiun misalnya dari usia 55 – 71 tahun (usia harapan hidup orang Indonesia). Pendekatan kasarnya tinggal dikalikan kebutuhan Dinar per bulan kali jumlah tahun.

Perhitungan detilnya perlu rumus-rumus finansial Future Value, Annuity, Morbidity untuk menhitung biaya kesehatan dlsb. Agak terlalu teknis – tetapi akan saya tulis juga Insyaallah di lain waktu apabila pembaca membutuhkan jabaran yang lebih teknis.

Labels: , , , , ,

Friday, January 25, 2008

Maaf Harga Dinar Harus Naik Lagi....

Permintaan maaf ini saya sampaikan karena kemarin beberapa teman berencana membeli Dinar, namun karena sudah sore dan bahkan sampai malam - maka kita sarankan untuk menunggu sampai besok pagi (maksudnya pagi ini). Eh ternyata dalam perdagangan tadi malam (waktu Jakarta) dan kemarin siang sampai sore waktu New York - harga emas terus merangkak naik sampai mencapai angka US$ 913.70 /troy oz ketika artikel ini ditulis.

Pemicu kenaikan ini tetap terkait dengan daya beli Dollar yang terus menurun atau dipersepsikan akan terus menurun. Setelah turun 3/4 point dua hari lalu, Federal Reserve masih akan rapat rutinnya dalam minggu depan. Pasar yang suka berspekulai (kita tidak berspekulasi) memperkirakan Federal Reserve akan menurunkan lagi suku bungannya antara 1/2 point sampai 3/4 point. Spekulasi pasar inilah yang mendorong harga emas naik. Artinya harga emas yang berarti juga harga Dinar tentu sangat mungkin juga turun apabila spekulasi pasar tidak terbukti minggu depan.

Perlu saya jelaskan disini, bahwa apapun yang saya tulis di blog ini adalah analisa saya pribadi terkait dengan perkembangan pasar. Saya tidak bertanggung jawab atas kerugian ataupun juga keuntungan yang diperoleh pembaca yang menggunakan analisa saya untuk menjual atau membeli Dinar. Saya mengungkapkan seluruh fakta yang ada, pembaca atau pembeli Dinar juga perlu memahami sendiri seluruh fakta yang ada tersebut.

Lebih jauh perlu juga saya jelaskan, bahwa saya tidak menentukan harga Dinar. Sebagai pedagang yang sangat kecil di belantara bisnis emas dunia, saya hanya berusaha menyesuaikan dengan harga pasar se up-todate mungkin sehingga para pembaca dan pembeli Dinar bisa memperoleh harga yang sesuai dengan kondisi pasar yang sedang berjalan. Jadi harga yang selalu saya sampaikan di blog ini maupun di sms gateway EzyOne (nomor dan cara registrasinya disamping) adalah harga kalau saya menjual atau membeli Dinar. Orang lain harganya bisa beda, karena beda waktu penentuan harga dan beda struktur biaya.

Cara penentuan harga Dinar sendiri bukan rahasia, semua orang boleh tahu. Bahkan cara memperhitungkan harga ini bisa dibaca bebas oleh siapa saja di Wikipedia . hanya perlu diketahui bahwa formula harga tersebut belum memperhitungkan biaya cetak, biaya transportasi dan tentu juga pajak - karena di Indonesia koin emas kena pajak.

Harga Dinar ini harus mengikuti mekanisme pasar dan tidak ada seorang pemimpin-pun di dunia yang bisa mendiktekan harga Dinar atau harga emas ini. Dalam Islam menentukan harga diluar mekanisme pasar adalah hal yang terlarang. Berikut saya petikkan dalilnya dari Fiqih Sunnah-nya Sayid Sabiq yang diberi pengantar oleh Imam Hasan Al-Banna :

Ashabus Sunan dengan sanad perawi sahih telah meriwayatkan dari Anas r.a. ia berkata " Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW :" Wahai Rasulullah SAW; harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga-harga untuk kami". Rasulullah lalu menjawab, "Allahlah Penentu harga, Penahan, Pembentang dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedzaliman dalam urusan darah dan harta."

Jadi kalau junjungan kita saja Nabi Akhir Zaman, tidak mau menentukan harga pasar - apalah saya ini. Saya hanya berusaha berjualan pada harga yang tidak merugi dan klien saya ridlo membelinya. Dalam agama Islam yang adil ini hak pedagang sama dilindunginya dengan hak pembeli. Wallahu a'lam Bis Showab.

Thursday, January 24, 2008

Harga Dinar Sekarang : Trend atau Anomali ?

Hari-hari ini kita melihat harga Dinar yang terus bergejolak dengan tajam. Dalam situasi ini selalu baik bagi kita untuk mengetahui apa yang terjadi di pasar - bukan untuk menspekulasikannya, tetapi untuk meminimise dampak buruk yang ditimbulkan oleh gejolak tersebut. Sekaligus juga agar setiap pengambilan keputusan kita didasari oleh informasi yang komplit.

Dalam konteks harga emas yang berarti juga harga Dinar ini tentu kita tidak dapat melihatnya dari perspektive waktu yang sempit - seperti yang terjadi dalam hari-hari ini. Kita harus melihatnya dari jangka panjang - agar kita mendapatkan gambaran kinerja Dinar yang utuh. Itulah sebabnya di side bar blog ini saya selalu sajikan grafik harga Dinar ini sampai 10 tahun dan bahkan 40 tahun.

Dalam konteks harga Dinar jangka panjang ini, kita bisa bedakan mana yang sifatnya anomali atau kelainan harga dan mana yang memang trend utama. Trend utama inilah yang menjadi rujukan kita dalam berinvestasi.

Anomali kenaikan harga Dinar pernah terjadi baik dalam US Dollar maupun dalam Rupiah. dalam US$ anomali terjadi antara tahun 1979 -1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga Amerika Serikat di Teheran-Iran. Anomali harga dalam Rupiah terjadi tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi dan politik di Indonesia yang berbuntut pada berakhirnya pemerintahan orde baru.

Islamic Gold Dinar Price trend in US$Anomali dicirikan oleh satu dua penyebab, ketika penyebab tersebut menghilang - maka harga Dinar akan kembali ke trend utamanya. Anomali hanya terjadi dalam rentang waktu yang pendek - hal ini ditunukkan pada grafik-grafik disamping, lihat tahun 1979-1980 untuk Grafik Dollar dan tahun 1998 untuk Grafik Rupiah.

Islamic Gold Dinar Price trend in RupiahTrend utama disebabkan oleh kombinasi banyak faktor yang komplek yang tidak mudah menghilangkan salah satunya. Dampaknya juga bersifat gradual - jangka panjang. Lihat apa yang terjadi sejak tahun 2000 sampai sekarang baik di Grafik Rupiah maupun di Grafik US$.

Dari grafik-grafik dan penjelasan ringkas tersebut kita bisa pahami bahwa trend utamanya harga Dinar dalam Rupiah maupun Dollar memang naik. Jadi gejolak naik turun yang sifatnya jangka pendek harian, bulanan bahkan setahun-pun tidak menghilangkan fakta bahwa trend jangka panjangnya harga Dinar yang naik tersebut. Jadi tidak pernah ada waktu yang salah untuk berhijrah ke Dinar dan Dirham, dua mata uang yang adil dan berdaya beli tetap sepanjang zaman. Wallahu A'lam bi Showab.

Wednesday, January 23, 2008

Langkah Darurat Itu Terpaksa Diambil : Federal Reserve Amerika Serikat Memotong Suku Bunga Terbesar Sepanjang 24 Tahun Terakhir...

Diluar jadwal yang resmi yang mestinya baru seminggu lagi mereka mengadakan pertemuan rutin dua harinya, kemarin pagi waktu setempat atau tadi malam waktu Jakarta Federal Reserve Amerika Serikat memotong suku bunga kreditnya sebesar ¾ point yaitu turun dari 4.25% ke 3.5%. Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak October 1984.

Penurunan yang sangat siginificant diluar jadwal ini tentu saja sempat membuat kepanikan yang luar biasa di bursa saham seluruh dunia yang sedang beroperasi, dampaknya terhadap Bursa Efek Indonesia kemungkinan besar baru akan terjadi pagi ini ketika pasar mulai beroperasi.

Langkah darurat ini nampaknya didorong oleh kekawatiran menyeluruh di pasar, bahwa resesi sedang di ambang pintu. Hal ini ditandai dengan bergugurannya bursa-bursa saham di seluruh dunia selama hari-hari sebelumnya.

Apakah terapi darurat ini efektif ? reaksi pasar nanti yang akan menjawabnya.

Untuk sementara terapi yang dilakukan oleh The Fed untuk melawan gejala resesi tersebut ternyata malah menimbulkan kesan yang sebaliknya di pasar. Pasar melihatnya justru situasi sudah begitu buruknya sehingga pemotongan suku bunga yang sangat besar tersebut tidak sabar lagi menunggu satu minggu lagi, yaitu waktu yang sudah dijadwalkan untuk pertemuan rutin mereka.

Dampaknya sampai penutupan tadi malam, pasar masih melemah bukan menguat seperti yang diharapkan. Di Amerika sendiri The Dow Jones Industrial Average (INDU) turun 1 % dan Nasdaq Composite (COMP) malah turun 2 %.

Terapi yang sesungguhnya dan dijamin keampuhannya tentu ada , yaitu menggunakan Dinar dan Dirham sebagai uang yang adil. Riba sudah barang tentu harus dihilangkan sama sekali, bukan hanya diturunkan.

Karena solusi ke Dinar/Emas dan Dirham/Perak ini adalah solusi yang fitrah, maka kebenarannya tidak hanya di claim oleh orang Islam saja. Di Amerika sendiri sudah ada sekelompok orang yang sadar akan hal ini. Bahkan GATA sudah secara berkelakar menyiapkan draft Pidato Presiden Amerika Serikat untuk Pembubaran Dollar dalam revolusi semalam, kemudian menggantikannya dengan Emas dan Perak.

Lantas apa pengaruhnya ini semua dengan harga emas hari ini ?. tentu saja setiap saat terjadi kekacauan ekonomi orang akan kembali ke emas dan perak – inilah fitrahnya. Orang akan mencari keadilan setiap saat merasa di dholimi. Sedangkan mata uang yang adil ya hanya Emas dan Perak itu tadi. Harga emas internasional tadi malam meningkat sangat tajam. Setelah pagi hari sempat menyentuh angka terendah US$ 855 / troy oz harga emas di New York ditutup pada angka US$ 889.80 troy oz.

Karena melonjaknya harga emas ini, harga Dinar di Gerai Dinar pagi ini melonjak Rp 37,000/ Dinar dari angka kemarin sore yang Rp 1,135,400 ke angka Rp 1,172,400. Insyaallah harga ini akan kita lihat kembali waktu Dhuhur nanti setelah pasar Sydney dan Hongkong menyelesaikan sessi perdagangan paginya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi, tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57 :23)

Labels: , , , , , ,

Tuesday, January 22, 2008

Sekali Lagi Dinar Turun Lebih dari Rp 20,000 ...!

Prediksi Fraklin Sanders yang saya quote kemarin ternyata benar bahwa awal minggu ini harga emas dunia turun, bahkan cukup drastis dari US$ 880 / troy oz kakhir pekan lalu ke US$ 866 /troy oz pagi ini.

Dampak dari penurunan harga emas dunia ini tentu harga Dinar juga turun cukup significant. Apabila kemarin siang sempat naik sedikit ke angka Rp 1,161,600,- maka harga Dinar pagi ini di Gerai Dinar kita turunkan lebih dari Rp 20,000 menjadi Rp 1,141,000. per Dinar. Di tempat lain bisa saja harga ini berbeda karena strategi dan komponen pembentuk harganya yang bisa berbeda.

Saya mencoba memahami mengapa harga Emas kemarin begitu jatuh terhadap US$, dari sekian banyak penjelasan yang bisa saya peroleh - kembali menambah keyakinan saya bahwa bukan emasnya yang bermasalah - karena daya beli emas akan selalu stabil sepanjang zaman; tetapi US$-nya yang hari -hari ini lagi baik.

Penjelasan ini datang dari analis Reuters yaitu Veronica Brown yang intinya menjelaskan bahwa hari-hari ini US$ lagi perkasa. Euro misalnya turun 1.1 % terhadap Dollar Senin kemarin.

Banyak investor yang menjual emasnya untuk mengamankan keuntungan dari kenaikan harga emas yang bertubi-tubi beberapa minggu sebelumnya. Bahkan penjualan portfolio emas dari para investor juga dipakai untuk menutupi kerugian dari investasi lainnya seperti saham yang lagi mengalami penurunan.

Lalu akan kemana harga Dinar minggu ini ? apakah baik untuk membeli sekarang ? atau baik untuk menjualnya karena harga bisa turun lagi ?.

Bagi kita bukan masalah harga ini ketika mau menjual atau membeli Dinar, kita tidak berspekulasi dengan harga emas Dunia. Naik turunnya harga emas dunia berusaha kita pahami tetapi tidak menjadi bahan untuk kita berspekulasi.

Kapan saja kita putuskan untuk berhijrah dari mata uang fiat yang tidak adil ke mata uang yang adil yaitu Dinar dan Dirham, maka keputusan tersebut selalu benar - baik pada saat harga Dinar tinggi maupun harga lagi rendah seperti sekarang. Wallahu A'lam bi Showab.

Monday, January 21, 2008

Apa Yang Akan Mempengaruhi Harga Dinar Minggu ini...?

Minggu lalu harga emas dunia bergejolak cukup tajam sehingga harga Dinar yang dihitung langsung dari harga emas dunia otomatis juga demikian. Posisi akhir pekan harga Dinar turun Rp 14,000 dari penutupan pekan sebelumnya di angka Rp 1,171,000 ke angka Rp 1,157,000,-

Pagi ini harga Dinar sedikit naik menjadi Rp 1,159,050,- karena melemahnya Rupiah terhadap Dollar di akhir perdagangan internasional dari Rp 9,447 menjadi Rp 9,465. Semua yang dibutuhkan untuk mengetahui trend harga Dinar kini disajikan lengkap di Blog ini, yaitu grafik perkembngan 3 hari terakhir harga emas internasional dan nilai tukar mata uang penting di kawasan ini.

Minggu ini terutama di awal pekan analis pasar emas seperti Franklin Sanders dari Gold Price Organization masih memperkirakan harga emas akan tetap cenderung turun, antara lain karena menguatnya US$ Index sampai 18 poin di akhir perdagangan hari Jum’at.

Namanya juga analis, pendapatnya bisa salah bisa benar, bahkan analis yang satu bisa sangat berbeda dengan analis yang lain. Para analis di Barclays Capital misalnya punya pendapat lain. Menurut mereka “Faktor eksternal seperti inflasi yang meninggi, kekawatiran ekonomi global, ketegangan geopolitik dan kecenderungan The Fed menurunkan suku bunganya akan lebih memungkinkan dorongan harga emas ke atas”.

Faktor lain lagi yang akan mendorong harga emas naik adalah alasan yang sangat fundamental yaitu supply emas yang terbatas.

Seperti yang sudah sering saya tulis di blog ini bahwa dalam jangka panjang mata uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba pasti hancurnya, senada dengan ini praktisi pasar emas international seperti Franklin Sanders juga sering sekali membuat catatan sebagai berikut :

“Untuk menghindari kebingunngan, perlu diingat bahwa seluruh komentar diatas memiliki horizon waktu yang sangat pendek. Selalulah berinvestasi dengan trend utama. Trend utama emas adalah naik, (dalam jangka panjang) targetnya adalah US$ 1,250.00 (sekarang baru US$ 880.00). Perak juga memiliki trend utama naik dengan target 16:1 (emas/perak – sekarang masih sekitar 55 :1 !), Saham trend utamanya turun demikian pula seluruh surat berharga yang denominasinya mata uang kertas. Real estate sekarang lagi bubble jadi trend utama-nya juga turun.”

Meskipun untuk jangka pendek pendapat masing-masing analis tersebut berbeda - ternyata untuk jangka panjang semua sepakat emas akan naik terus, namun bagi kita yang sudah menggunakan Dinar -sekali lagi bukan masalah naik turunnya harga, naik turunnya harga tidak mempengaruhi preferensi kita untuk tetap memilih mata uang yang adil dibandingkan dengan mata uang kertas yang tidak adil. Wallahu A’alm.

Sunday, January 20, 2008

Berapa Dinar Yang Kita Butuhkan...?

Sebelumnya saya telah menulis mengapa uang kertas tidak dapat kita pakai untuk membuat perencanaan finansial jangka panjang, pada tulisan ini saya ingin mulai memberikan alternatifnya dengan menggunakan Dinar.

Sebelum membahas detil kebutuhan finansial bagi pribadi dan keluarga kita, terlebih dahulu perlu dipahami adanya dua jenis kebutuhan finansial yaitu kebutuhan yang dapat diprediksi dan kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi.

Kebutuhan finansial yang bisa diprediksi membutuhkan pengumpulan sejumlah dana dalam periode tertentu sehingga pada saat dibutuhkan dana tersebut tersedia. Contoh kategori ini adalah dana pergi haji, dana pendidikan anak, dana untuk pembelian rumah dan lain sejenisnya.

Kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi bisa timbul kapan saja atau tidak timbul sama sekali. Dari kategori ini ada kebutuhan finansial yang bisa timbul kapan saja dan pasti terjadi, hanya waktunya yang tidak diketahui seperti kebutuhan biaya-biaya yang terkait dengan kematian anggota keluarga atau konsekwensi dari kematian anggota tersebut. Ada pula kebutuhan finansial yang bisa terjadi kapan saja tetapi mungkin juga tidak terjadi sama sekali seperti biaya-biaya yang terkait dengan risiko kesehatan, bencana alam, kecelakaan dan sejenisnya. Jenis kebutuhan finansial yang kedua ini yang pada umumnya diatasi melalui tolong menolong atau bentuk modernnya dikelola oleh Takaful atau asuransi syariah.

Selain dapat tidaknya suatu kebutuhan finansial diprediksi, kebutuhan ini juga dapat dikelompokkan menjadi kebutuhan kebutuhan tunai dan kebutuhan pendapatan sebagai berikut :

KEBUTUHAN TUNAI
Dana Pendidikan
Dana Darurat
Dana Pelunasan Hutang
Dana Penyelesaian Warisan


KEBUTUHAN PENDAPATAN

Kebutuhan Esensial Makanan
Pakaian
Perumahan
Perawatan Rumah
Transportasi
Bahan Bakar
Perawatan Kesehatan
……


Kebutuhan Tidak Esensial Perayaan Ulang Tahun
Liburan
Peralatan Olah Raga
Baju Pesta
Kwalitas Makanan


Sekarang kita coba menghitung kebutuhan Dinar untuk kelompok pertama yaitu Kebutuhan Tunai.

Untuk mudahnya dipahami, saya menggunakan contoh keluarga imaginer - katakanlah keluarga Abdullah dengan profil sebagai berikut :

Di Keluarga Abdullah, saat ini hanya Pak Abdullah yang bekerja. Usia Pak. Abdullah saat ini adalah 44 tahun dan merencanakan ‘pensiun’ dari pekerjaan sekarang dalam 11 tahun kedepan atau pada usia 55 tahun. Pak Abdullah memiliki tiga orang putra yang saat ini masing-masing berusia 18 tahun, 14 tahun dan 8 tahun. Pak Abdullah ingin anaknya semua dapat menyelesaikan perguruan tingi. Selain dari pada itu beliau juga ingin keluarganya tetap mandiri dan tidak menjadi beban orang lain sampai akhir usia Bapak dan Ibu Abdullah yang berdasarkan statistik harapan hidup rata-rata di Indonesia bisa mencapai 70 tahun. Sebagai muslim yang taat, sementara mengusahakan kehidupan di dunia yang mandiri, keluarga Abdullah tidak ingin kehilangan kesempatan beramal semaksimal mungkin. Oleh karenanya keluarga Abdullah ingin terus meningkatkan Sedeqah-nya sehingga mencapai 1/3 dari penghasilannya sampai akhir hayatnya. Karena didorong oleh keinginanya untuk meng-akhiri usianya dengan usia dan amal terbaik, maka beberapa tahun terakhir keluarga Abdullah telah merintis usaha untuk skala rumah tangga. Pak Abdullah juga merencanakan pergi haji berdua dengan istri dua tahun dari sekarang.

Untuk menyederhanakan pendekatan kebutuhan Dinar keluarga Abdullah, langkah pertama yang dibutuhkan untuk perencanaan finansial adalah dibuatnya kerangka waktu atau time frame.

Perencanaan finansial akan selalu perlu time frame agar bisa tahu kapan dana tunai dan dana pendapatan dibutuhkan. Berdasarkan uraian diatas, maka secara garis besar kerangka waktu perencanaan finansial keluarga Abdullah dapat digambarkan dalam illustrasi berikut:

Dari ilustrasi tersebut kita sudah bisa memetakan beberapa kebutuhan tunai dan kapan dibutuhkan.

Karena Dinar tidak terpengaruh oleh inflasi, maka hal ini memudahkan kita dalam membuat rencana jangka panjang.

Misalnya kita tahu bahwa saat ini masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia perlu sekitar Rp 50 juta - maka anggaran 50 Dinar- pastilah cukup. kalau 50 Dinar cukup untuk masuk perguruan tinggi sekarang, insyaallah pada saat anak ke 2 Pak Abdullah yang akan masuk perguruan tinggi dua tahun lagi juga akan cukup dianggarkan 50 Dinar. Demikian pula anaknya yang ketiga yang akan masuk perguruan tinggi 9 tahun yang akan datang.

Biaya pergi haji juga demikian. Untuk tahun ini biaya ONH biasa termasuk uang saku 30 Dinar cukup - maka dua tahun lagi dengan jumlah Dinar yang sama insyaallah juga akan cukup. Untuk pergi haji berdua Pak Abdullah hanya akan membutuhkan dana 60 Dinar.

Apabila Pak Abdullah juga membutuhkan dana darurat untuk jaga-jaga biaya sakit dlsb. misalnya 50 Dinar, maka kebutuhan tunai Pak Abdullah yang perlu direncanakan pengadaannya adalah 50+2x30+50+50 atau 210 Dinar, 160 Dinar dibutuhkan dalam jangka pendek (2 tahun) dan sisanya masih 9 tahun lagi.

Untuk menghitung Kebutuhan Pendapatan pada masa pensiun insyaallah akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.

Saturday, January 19, 2008

Agar Beban Biaya Hidup Tidak Semakin Berat....

Bagi kita orang awam sering membaca di media bahwa inflasi sekian % (misalnya tahun lalu 7%), tetapi istri/suami kita di rumah sering ngedumel karena harga barang-barang yang naik dua kali lipat, tiga kali lipat adalah hal yang biasa ...lho kok bukan ‘hanya 7 %’ naiknya ?...

Panjang ceritanya, dan untuk ini biarlah para ekonom yang menjelaskan di medianya masing-masing. Saya hanya ingin melihat dari kacamata mata uang atau timbangan yang adil yaitu Dinar, saya share disini dengan pembaca barangkali ada manfaatnya.

Kalau kita punya dua timbangan, timbangan yang pertama terbukti dapat dipakai untuk menilai harga kambing (juga berarti harga barang kebutuhan lainnya) dengan nilai yang sama lebih dari 1400 tahun , dan timbangan yang kedua bahkan tidak dapat kita pakai untuk menilai barang yang sama dalam 30 tahun terakhir – mana yang kita pakai ? tentu orang yang adil harusnya memilih timbangan yang pertama.

Kemudian timbangan pertama di zaman ekonomi modern ini dipakai untuk menilai harga minyak mentah terlihat sangat jauh lebih stabil dibandingkan dengan timbangan yang kedua, maka orang adil zaman modern inipun harusnya menggunakan timbangan yang pertama.

Nah marilah kita mulai menggunakan timbangan pertama yaitu Dinar untuk menilai segala sesuatu yang terkait dengan keuangan kita baik secara individu maupun secara masyarakat. Untuk memudahkan hal ini sudah beberapa lama saya pajang mistar Dinar Investment Yield (saya sebut saja Mistar DIY) di side bar blog ini.

Dari mistar DIY disamping kita tahu bahwa kalau toh penghasilan atau investasi kita tumbuh 10 % per tahun (ini sudah lebih tinggi dari inflasi yang 7%), dari kacamata Dinar (ingat Dinar hanya merepresentasikan harga benda riil seperti kambing, minyak mentah dlsb) ini masih minus 15% per tahun. Artinya dari daya beli riil kita tidak tambah kaya tetapi bertambah miskin – barang-barang keperluan biaya hidup masih terasa semakin mahal bagi kita seperti cerita di awal tulisan ini.

Bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi ?...penghasilan atau investasi kita harus tumbuh diatas kenaikan harga-harga barang yang riil, bukan hanya diatas kertas. Berapa ini ? dari mistar DIY terlampir ini berarti dalam rupiah penghasilan atau hasil investasi kita harus tumbuh diatas 30.04% sedangkan apabila dalam US$ berarti harus tumbuh diatas 11.29%. Kalau ini bisa dicapai maka kebutuhan biaya hidup kita tidak akan terasa lebih mahal dari waktu ke waktu.

Nah apa ada perusahaan yang bisa menjamin kenaikan gaji terus menerus diatas 30.04 % per tahun ? mungkin memang nggak ada !. Jadi kalau kita ingin biaya hidup kita tidak terasa makin lama semakin mahal, kita tidak bisa mengandalkan hidup sebagai pegawai semata. Kecuali bila kita pegawai yang luar biasa berprestasi sehingga rata-rata penghasilan kita bisa tumbuh diatas 30% per tahun !.

Islam sangat mendorong perdagangan/perniagaan, bahkan dalam hadits Ibnu Majjah disebutkan sembilan dari sepuluh pintu rizki adanya di perniagaan. Jadi mulailah berdagang dengan jujur, adil dan hati-hati ; insyaallah biaya hidup akan lebih ringan.

Mengapa pedagang akan jauh lebih mudah meningkatkan penghasilan/investasi dibandingkan pegawai ? matematika-nya begini : Bila kita berdagang dengan modal 100 juta. kita putar seminggu sekali modal tersebut – dengan margin bersih setelah dipotong biaya 1 % saja – maka hasil investasi kita setahun adalah 67% (karena setahun ada 52 minggu, ditambah efek compound dari hasil bersih yang diinvestasikan kembali).

Jadi inilah solusi Islami untuk makmur, berdaganglah....!; sampai -sampai Allah SWT ‘membahasakan’ amal Islami yang paling Agung-pun yaitu jihad dengan istilah perdagangan atau perniagaan. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?”. Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan Harta dan Jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. “ (QS.61 : 10-11).

Kalau kita saat ini bekerja sebagai pegawai, pasangan tidak bekerja – maka dapat kita dorong pasangan kita untuk belajar berdagang – agar keluarga kita dapat mengalahkan kenaikan biaya hidup dari waktu ke waktu.

Kalau kita dan pasangan keduanya bekerja sebagai pegawai, kita usahakan salah satu yang lebih berpotensi untuk keluar dan mulai berdagang – insyaallah hasilnya akan lebih baik.

Apabila langkah ini diikuti secara massal, maka hasilnya Insyaallah Indonesia akan lebih makmur. Justru karena kegiatan perdagangan ini tidak didorong dan tidak secara optimal difasilitasi oleh pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat membuat Indonesia makin lama makin terpuruk. Bahkan kita juga tidak sadar kalau makin lama kita makin terpuruk.

Bagaimana agar kita sadar bahwa Indonesia makin lama makin terpuruk, sehingga dengan kesadaran ini kita bisa bangkit ? lagi-lagi jangan gunakan kaca mata timbangan yang tidak adil seperti Rupiah mupun US Dollar. Gunakan Dinar – atau kalau alergi dengan istilah Dinar, gunakanlah emas, minyak, atau apapun yang riil tetapi jangan kertas yang diberi angka.

cadangan devisa dinarSaya kasih contoh sederhana saja dari grafik terlampir. Selama ini kita mengira bahwa Indonesia sudah bangkit dari krisis ekonomi akhir 90-an, dengan berbagai indikator – antara lain cadangan devisa kita yang menumpuk dalam hitungan US$, pendapatan per kapita yang naik – lagi-lagi dalam US$ dlsb. Cadangan devisa sebagai contoh, pada saat tulisan ini saya buat cadangan devisa kita berdasarkan data BI adalah US$ 54.9 milyar atau naik 87 % dalam 8 tahun terakhir.

Namun cadangan devisa yang naik tersebut kan karena diukur dengan US$, sedangkan US$ sendiri nilainya turun tinggal 40 % nya dalam tenggang waktu yang sama. Nah kalau kita gunakan timbangan yang adil yaitu Dinar kayak apa kinerja cadangan Devisa kita ? ternyata cadangan devisa kita apabila dihitung dengan Dinar saat ini tinggal 56 % saja dibandingkan dengan cadangan devisa kita tahun 2000.

Itulah negara kita, dan itulah cerminan mayoritas dari masyarakat kita – kita makin lama makin miskin tetapi tidak terasa; yang terasa hanya beban biaya hidup yang makin lama makin berat..... "Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur - tidak ada Tuhan selain Engkau".

Friday, January 18, 2008

Akan Kemana Harga Dinar...?

Sering saya mendapatkan pertanyaan semacam ini dari para pengguna Dinar. Jawaban saya selalu Wallahu A'lam - Allah yang maha tahu, sedangkan saya tidak tahu.

Kita hanya bisa membaca apa yang sudah terjadi, tetapi tidak mungkin mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Statistik dan trend sekedar membantu kita untuk membuat well informed decision. Grafik-grafik disamping mudah-mudahan bisa menjadi alat bantu pengambilan keputusan para pengguna Dinar tersebut.

Selain statistik, kita juga bisa menggunakan seluruh informasi yang ada di dunia untuk sekedar memprediksi kemana kira-kira arah harga emas dunia yang tentu saja juga berarti harga Dinar. Lagi-lagi ini hanya prediksi, hasilnya tentu ada di tangan Allah semata.

Yang jelas dalam jangka panjang uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari Riba pasti hancur, karena Allah sendiri yang menjanjikan akan menghancurkan Riba (lihat QS 2:276). Dalam jangka pendek...yaitu tadi, bisa naik dan tentu masih bisa turun.

Beberapa faktor yang masih akan mempengaruhi harga emas dunia dalam jangka pendek antara lain adalah naik turunnya harga minyak dunia dan kekuatan Dollar. Hari-hari ini harga minyak mentah dunia turun ke angka sedikit diatas US$ 90 /barrel sehingga mengurangi daya tarik emas untuk hedge inflasi. Dollar yang sempat menguat dua hari lalu, kemarin sedikit melemah lagi terhadap mata uang besar dunia seperti Euro setelah The Fed Chairman Ben Bernanke memberi sinyal untuk serius melawan potensi resesi - artinya mereka akan mimilih inflasi daripada menghadapi resesi. Hal ini diterjemahkan pasar bahwa The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga antara 1/2 sampai 3/4 poin dalam dua minggu mendatang. Kalau ini terjadi, harga emas akan kembali naik - karena Dollar menjadi semakin tidak menarik.

Apa hubungannya dengan harga emas/Dinar dalam Rupiah ? , bukankah kalau Dollar melemah, Rupiah seharusnya menguat ? - Ternyata tidak. Melemahnya Dollar sepanjang tahun lalu sampai awal tahun ini tidak membuat Rupiah menguat, mengapa ?, karena kekayaan kita dinilai dan disimpan dalam US$. Coba lihat kekayaan kita dalam bentuk cadangan Devisa per 28/12/2007 adalah US$ 56.92 milyar - padahal per hari ini harga emas dalam Dollar 40.1% (lihat www.kitco.com) lebih tinggi terhadap harga emas dalam Dollar setahun yang lalu. Artinya kekuatan keuangan nasional kita yang terefleksi dalam bentuk cadangan devisa (US$) juga sebenarnya runtuh bersama dengan runtuhnya Dollar.

Jadi kalau dalam beberapa pekan kedepan harga emas dan otomatis Dinar naik dalam Dollar, hal yang sama akan terjadi terhadap harga dalam Rupiah.

Sekali lagi hal ini sekedar informasi untuk kita tahu what going di pasar, setelah kita berhijrah ke mata uang yang adil - naik turunnya nilai mata uang yang tidak adil (mata uang kertas) - tidak akan lagi merisaukan kita. Wallahu A'lam.

Thursday, January 17, 2008

Harga Dinar Turun Lebih Dari Rp 20,000 Hari Ini....

Seperti yang saya sampaikan kemarin sore bahwa apabila trend penurunan harga emas dunia berlanjut hingga penutupan pasar New York, maka harga Dinar pagi ini akan turun secara significant.

Ternyata betul, pasar New York yang ditutup beberapa jam lalu menunjukkan trend menurun. Ini hari kedua harga emas mengalami penurunan setelah hampir sebulan penuh naik.

Penyebab penurunan ini tidak lain karena US$ Index yang merefleksikan nilai US$ terhadap sekumpulan mata uang besar dunia mengalamai kenaikan 1% menjadi 76.3. US$ Index naik karena data perekonomian terakhir yang dikeluarkan pemerintah Amerika menunjukkan hasil yang lebih baik dari yang diduga pasar.

Informasi-informasi mengenai naik turunnya harga Emas/Dinar yang saya sajikan, tidak bermaksud mengukur kinerja Dinar dengan US$ atau bahkan menspekulasikannya. Ini hanya informasi pasar yang kita ada di dalamnya, lebih baik kita tahu medannya - agar kita tahu bagaimana mensikapinya. Seluruh grafik-grafik yang saya sajikan disamping mulai dari satistik 1 bulan, 2 bulan, sampau 40 tahun adalah agar kita tahu medan tersebut - sehingga ketika kita masuk di dalamnya, kita menyadari betul apa yang sedang kita hadapi.

Lebih banyak umat ini memegang asset riil berupa emas, perak, hasil tambang, hasil bumi dan sumber daya alam lainnya akan lebih baik dibandingkan memegang 'janji' berupa uang kertas, surat utang dan sejenisnya. Kesempatan baik untuk menukar 'janji' tersebut ke asset riil adalah ketika 'janji' tersebut masih bernilai baik seperti sekarang.....cepat atau lambat nilai 'janji' tersebut akan terus berkurang atau bahkan hancur , lihat uraian saya tentang Deret Fibonacci.... Saat itu tentu 'janji-janji' tersebut tidak lagi bernilai untuk ditukar dengan asset riil. Wallahu A'lam bis showab.

Labels: , , , ,

Wednesday, January 16, 2008

Test Keaslian Dinar, Inspirasi Dari Zaman Archimedes....

Bagian penting dari pengenalan kembali Dinar dan Dirham di masyarakat adalah adanya alat test yang mudah dan murah untuk mengetahui keaslian Dinar dan Dirham. Saat ini tentu sudah banyak alat berteknologi tinggi untuk mengetahui secara sangat akurat kadar emas. Namun alat-alat demikian harganya mahal, sehingga hanya lembaga seperti Logam Mulia-lah yang memilikinya. Karena kemampuan mereka inilah kita mengandalkan Logam Mulia sebagai satu-satunya sumber pengadaan Dinar kita di Indonesia.

Meskipun demikian, kelak ketika Dinar kembali dipakai secara luas di masyarakat – haruslah ada alat yang sangat murah dan mudah dipakai untuk mengetahui apakah suatu keping Dinar itu asli atau palsu. Alat demikian haruslah bisa dibuat dan diproduksi dengan murah sekarang – karena 2200 tahun lalupun alat semacam ini sudah bisa dibuat oleh Archimedes. Agar kita tidak perlu ‘reinventing the wheel’ mari kita lihat apa yang sudah dilakukan oleh Archimedes waktu itu.

Archimedes berasal dari Syracusa (sekitar 287 SM - 212 SM) Ia belajar di kota Alexandria, Mesir. Pada waktu itu yang menjadi raja di Sirakusa adalah Hieron II, sahabat Archimedes. Archimedes sendiri adalah seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani. Ia dibunuh oleh seorang prajurit Romawi pada penjarahan kota Syracusa, meskipun ada perintah dari jendral Romawi, Marcellus bahwa ia tak boleh dilukai.

Sebagian sejarahwan matematika memandang Archimedes sebagai salah satu matematikawan terbesar sejarah, mungkin bersama-sama Newton dan Gauss.
Pada suatu hari Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah mahkota emasnya dicampuri perak atau tidak. Archimedes memikirkan masalah ini dengan sungguh-sungguh. Hingga ia merasa sangat letih dan menceburkan dirinya dalam bak mandi umum penuh dengan air. Lalu, ia memperhatikan ada air yang tumpah ke lantai dan seketika itu pula ia menemukan jawabannya. Ia bangkit berdiri, dan berlari sepanjang jalan ke rumah dengan telanjang bulat. Setiba di rumah ia berteriak pada istrinya, "Eureka! Eureka!" yang artinya "sudah kutemukan! sudah kutemukan!" Lalu ia membuat hukum Archimedes. Dengan itu ia membuktikan bahwa mahkota raja dicampuri dengan perak. Dan tukang yang membuatnya dihukum mati. (diambilkan dari wikipedia.org).

Dalam benak saya, kalau 2200 tahun lalu Archimedes sudah bisa mengetahui Makhkota raja emas murni atau campuran-tanpa merusaknya sedikitpun, zaman sekarang tentu sangat mungkin kita merekonstruksi alat tes ‘primitif’ tersebut sehingga mudah dan murah untuk bisa digunakan masyarakat secara luas.

Bagaimana alat ini bekerja ?. Massa Jenis emas adalah 19.32 gr/cm3 ; sedangkan perak 10.49 gr/cm3. Dinar adalah benda padat dengan komposisi 91.7% (22 karat) emas dan sisanya 8.3% perak. Dengan perhitungan yang agak teknis dikit – tetapi mudah menggunakan excel atau kalkulator – kita akan bisa menghitung berat Dinar yang 4.25 gram dengan komposisi tersebut haruslah memiliki volume 0.2287 cm3.

Kalau campurannya benar – maka akan ada hubungan yang pas antara berat Dinar 4.25 gram dan volumenya yang 0.2287 cm3. Kalau kadar atau campurannya lain, pasti akan ada ketidak cocokan antara berat dan volume ini. Logam-logam lain memiliki massa jenis yang jauh lebih rendah dari emas, tembaga misalnya hanya 8.93 gr/cm3 dan besi hanya 7.85 gr/cm3 – jadi akan menyoloklah perbedaannya dalam berat atau dalam volume apabila emas dipalsukan dengan logam-logam lain tersebut.

Mengukur berat mudah – timbangan untuk menimbang emas atau meracik obat – cukup murah bisa di peroleh di pasaran. Nah sekarang bagaimana mengukur volume 0.2287 cm3 ?. Saya mencoba membuat alat seperti foto disamping dengan bantuan ahli gelas – nyaris bisa mengukur volume tersebut tetapi masih memiliki banyak kelemahan.

Teori saya begini, apabila gelas tersebut diisi air sampai leher penghubung ke tabung yang kecil, maka volume air yang dipindahkan ketika 1 keping Dinar dimasukkan kedalam gelas adalah sama dengan volume Dinar itu sendiri. Melalui tulisan ini saya ingin mengundang pembaca, barangkali ada yang bisa menyempurnakan alat yang saya buat tersebut agar dapat dipakai untuk mengetes keaslian Dinar dengan Mudah dan Murah – kalau alat tersebut bisa dibuat terus kita wakafkan hasilnya – insyaallah akan banyak manfaatnya bagi umat kedepan.

Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap ada di bumi...(QS Ar-Ra’d :17)

..Akhirnya Turun Juga....

Setelah hampir sebulan penuh harga Emas dunia menunjukkan trend yang menanjak...sejak tadi malam mulai mengalami penurunan yg significant...

Di Gerai Dinar harga pagi tadi turun turun sekitar Rp 13,000/Dinar dibanding harga kemarin sore.
Namun demikian siang ini bagi yang mengharapkan penurunan harga lebih lanjut - maaf harus bersabar- karena kita butuh observasi pasar sampai tutupnya pasar New York besuk dini hari waktu kita.

Apabila trendnya memang demikian, jangan kawatir - insyaallah besuk pagi harga Dinar bisa jauh lebih rendah...

Labels: , ,

....Agar Harta Itu Jangan Hanya Berputar Diantara Orang-orang Kaya...

Kali ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mudah-mudahan juga berguna untuk para pembaca blog ini. Dengan gigihnya kita memperjuangkan mata uang yang Adil dari Emas dan Perak, kita juga jangan sampai terjebak dalam perilaku menimbun emas. Di tulisan saya sebelumnya, saya juga mengingatkan jangan sampai harta kita justru menjadi liability di akhirat....

Dalam Islam harta kita harus bergerak sehingga memberi manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain yang juga mempunyai hak atas harta kita. Manfaat berputarnya harta ini saya coba jelaskan dengan persamaan pertukaran atau equation of exchange yang juga sudah saya singgung sebelumnya. Persamaan tersebut adalah M x V = P x Q dimana M = jumlah uang, V= Perputaran uang ; P = Tingkat Harga dan Q = jumlah barang dan jasa. Saya ingin menggunakan persamaan ini untuk menjelaskan sistem ekonomi yang berbasis Dinar dan Dirham dan dimana bunga bank dianggap haram (dan memang haram !).

Dalam ekonomi yang berbasis Dinar, M akan cenderung tetap karena tidak seperti uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan berapa saja. Untuk mencetak Dinar diperlukan emas asli yang tentu jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan hanya ada sekitar 150 ribu ton emas diseluruh dunia saat ini dan setiap tahunnya diperkirakan hanya bertambah sekitar 1.5% dari penambangan emas di seluruh dunia. Perak memang jumlahnya tentu lebih besar dari emas, namun juga terbatas.

Dengan scenario Allah yang telah membuat emas dan perak yang jumlahnya terbatas dan tersebar relatif merata di seluruh dunia – bahkan Amerika Serikat pun yang menganggap dirinya negara adikuasa hanya menguasai sekitar 8,000 ton emas saja atau 5.3 % dari emas dunia – maka seharusnya kemakmuran-pun merata.

Dengan tidak naiknya M, sementara Q atau output harus naik secara gradual sejalan dengan pertumbuhan penduduk dunia dan P relatif tetap (harga barang-banrang apabila dibeli dengan emas akan cenderung tetap dalam jangka panjang), maka harus ada yang bergerak mengimbangi gerakan Q atau output tersebut. Tinggal satu faktor yang belum bergerak yaitu V, disinilah rahasianya ekonomi Islam, mengapa Islam sangat mendorong perputaran uang yang cepat dari satu tangan ke tangan lainnya. Lebih jauh lagi perputaran ini harus luas tidak hanya berputar di golongan tertentu saja sesuai Ayat Al-Quran 59:7 “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…”.

Segala kebutuhan manusia, termasuk jumlah emas di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan mata uang penduduknya, ternyata juga sudah diatur sedemikian rupa sesuai scenario Allah SWT sehingga akan selalu mencukupi. Diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an QS 54: 49 “ Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Hal ini juga bisa dibuktikan dari satitistik jumlah penduduk dunia dibandingkan dengan jumlah emas yang tersedia sebagaimana ditunjukkan di grafik berikut :

Emas di permukaan bumi Sumber : Gold Sheet Mining Directory .Trend Jumlah Penduduk Dunia dan Kumulatif Jumlah Emas Yang Ada Di Permukaan Bumi.

Dari grafik tersebut kita bisa lihat bahwa ternyata emas memang tersedia cukup bagi umat manusia sepanjang zaman; hanya keserakahanlah yang membuatnya bisa tidak mencukupi.

Cepatnya perputaran uang dalam ekonomi Islam ini juga digambarkan dalam suatu Hadits dimana Rasulullah SAW suatu pagi selesai sholat subuh buru-buru pulang kemudian balik lagi ke Masjid untuk melanjutkan dzikir dan doa’nya. Ketika sahabat ada yang bertanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia tadi buru-buru karena ingat ada uang tiga Dirham yang belum disedekahkan.

Pada hadits lain dari Abu Huraira : Rasulullah SAW bersabda , “ Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah tiga hari tidak tersisa satu Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku”. (HR. Bukhari)

Dua contoh diatas menggambarkan seberapa cepat uang seyogyanya berputar diantara kaum muslimin. Apabila uang tersebut uang kecil putaran ini ukurannya satu hari, apabila uang besar atau kekayaan yang banyak maka putarannya tiga hari. Artinya uang bagi kaum muslimin hendaklah terus bergerak, baik itu untuk konsumsi, di sedekahkan/diinfakkan ataupun diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Jadi menggunakan Dinar sebagai alat investasi dan alat mempertahankan nilai, tidak boleh berarti menimbunnya. Batasan yang boleh dan yang tidak sudah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya .

Dari sini kita tahu bahwa tugas berikutnya setelah Dinar dan Dirham ini berada ditangan masyarakat secara luas, kita harus mulai benar-benar menggunakannya dalam bermuamalah sehari-hari....kita pikirkan caranya...yang penting kita mulai saja yang kita tahu, nanti biarlah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu.
Wallahu A’lam bis Showab.

Labels: , , ,

Tuesday, January 15, 2008

Perdagangan Dibuka Kembali Pagi Ini...

Kemarin sore sempat kita himbau para agen dan member DinarClub untuk tidak mengadakan transaksi Dinar karena peningkatan harga emas Dunia yang sangat tajam.

Pagi ini ketika tulisan ini saya buat, pasar New York baru ditutup beberapa jam lalu dan alhamdullah tidak setinggi harga emas kemarin sore di Hongkong – meskipun menurut saya sendiri tetap sangat tinggi, tetapi menunjukkan trend menurun.

Jadi, tugas kita membantu masyarakat yang ingin peroleh Dinar-nya bisa jalan kembali dengan harga yang lebih wajar. Insyaallah nanti siang sebelum jam 13.00 kita tinjau kembali harga ini setelah memperhatikan dengan seksama apa yang akan terjadi di pasar Hongkong sampai tengah hari nanti.

Fluktuasi harga emas yang significant sepanjang hari kemarin antara lain dipicu oleh melemahnya Dollar dan antisipasi pasar akan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed.

Karena FOMC (Federal Open Market Committee) yaitu komponen penting dalam system Federal Reserve Amerika Serikat yang menentukan kebijakan moneter baru akan melaksanakan rapat dua hari-nya akhir bulan ini, maka sentimen negatif terhadap Dollar mi kemungkinan akan berlangsung panjang setidaknya sampai dua pekan kedepan.

Analisa saya bisa saja keliru, oleh karenanya saya juga menganjurkan kepada pembaca blog ini untuk membaca tulisan saya tentang Kehancuran Mata Uang Kertas.... Mengapa ini penting ? Karena meskipun dalam jangka panjang kita sangat yakin bahwa harga Dinar insyaallah akan terus naik, dalam jangka pendek mungkin-mungkin saja untuk turun dahulu beberapa lama sebelum balik lagi ke deret Fibonacci berikutnya.

Jadi janganlah naiknya harga Dinar ini terlalu menggembirakan kita atau sebaliknya terlalu kita pikirin ketika turun untuk beberapa lama. Setelah kita hijrah ke timbangan yang adil Dinar-Dirham...,kinerja timbangan yang tidak adil (uang kertas) tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan investasi kita.

Labels: , , , , ,

Monday, January 14, 2008

Stop Press ! Gejolak Pasar Hari Ini....

Melihat gejolak pasar yang tidak normal dari pagi sampai sore ini, untuk menghindari gharar (ketidak pastian transaksi), malam ini disarankan kepada seluruh agen dan anggota DinarClub untuk tidak bertransaksi....

Insyaallah besuk pagi stabil - terlepas stabilnya di harga berapa - sehingga transaksi bisa dibuka kembali.

Salam,

Perbedaan Inflasi Yang Dhalim Dengan Naik-Turunnya Harga Yang Fitrah

Agak teknis sedikit, untuk menjelaskan inflasi yang dhalim saya akan gunakan rumus yang digunakan para monetarist yaitu M x V = P x Q . Dimana M = jumlah uang, V= kecepatan berputar; P= Tingkat harga dan Q = Jumlah barang dan Jasa.

Apabila uang yang kita gunakan adalah uang kertas yang bisa dicetak terus tanpa ada yang membatasinya, kemudian uang tersebut dengan sistem bunga ‘ditarik’ dari peredaran dan disimpan dalam bentuk tabungan , deposito dan lain sebagainya sehingga membuat sektor riil tidak bergerak; maka harga-harga barang akan naik, ini yang disebut inflasi.

Apabila kenaikan ini berlangsung terus secara spiral akan dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai hiper inflasi. Inflasi yang terjadi melalui proses demikian adalah inflasi yang dhalim karena didorong oleh kedhaliman pencetakan uang yang tidak terkontrol dan menahan uang dari sektor riil melalui meknisme bunga bank yang ribawi.

Selain kedhaliman dalam jumlah uang yang berlebihan, kenaikan harga juga bisa terjadi karena penimbunan barang dan monopoli yang keduanya juga terlarang dalam Islam. Inflasi atau kenaikan harga-harga yang dhalim demikian –baik karena jumlah uang yang dicetak berlebihan atau ada tindakan yang tidak adil misalnya dalam penimbunan barang dan monopoli– adalah kenaikan harga yang tidak dibolehkan atau bahkan harus dicegah.

Dilain pihak meskipun kita menggunakan uang Dinar dan Dirham, bunga bank atau riba kita tinggalkan, maka kemungkinan naik-turunnya harga akan tetap ada. Namun naik-turunnya harga bukanlah disebabkan oleh kedhaliman, melainkan karena fitrah perdagangan, yaitu keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Apabila barang yang ditawarkan jumlahnya lebih sedikit dari yang dibutuhkan maka tentu saja harga barang tersebut akan naik. Kenaikan harga yang demikian inilah yang juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW tidak mau menghentikan atau mempengaruhi kenaikan harga ini sebagaimana kita bisa lihat dari Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut :

Telah meriwayatkan dari Anas RA., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta’” .

Naik-turunnya harga yang fitrah penyebabnya murni supply and demand, dalam jangka pendek bisa berfluktusi tergantung posisi supply and demand tersebut – tetapi jangka panjang akan cenderung stabil. Stabilitas tercipta oleh mekanisme pasar itu sendiri, yaitu pada saat supply berlebih, harga akan turun – produsen akan mengerem produksinya. Sebaliknya pada saat demand berlebih, harga akan naik – yang mendorong produsen untuk menambah produksi yang kemudian menambah supply dan dampaknya akan mendorong harga turun kembali.

Dari penjelasan diatas, persamaan pertukaran atau equation of exchange M x V = P x Q dapat dipakai untuk menyimpulkan secara sederhana, mana kebijakan moneter yang fitrah dan memakmurkan rakyat dan mana kebijakan moneter yang dzalim dan menyengsarakan rakyat. Apabila pemerintah mencetak uang, tetapi tidak berdampak pada naiknya ketersediaan barang dan jasa (Q) maka pasti harga(P) yang naik, berarti upaya pemerintah mencetak uang menjadi musibah bagi masyarakat karena inflasi akan menaikkan harga-harga seluruh barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ini yang terjadi di sistem uang fiat yang dianut oleh seluruh pemerintahan di dunia saat ini.

Apabila pemerintah dapat mengendalikan jumlah uang yang ada (M) pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan produksi barang dan jasa, maka jumlah barang dan jasa (Q) naik sementara M relatif tetap, maka pasti harga-harga (P) akan turun, inilah kebijakan pemerintah yang akan memakmurkan rakyat. Ini bisa terjadi apabila uang Dinar dan Dirham dipakai.

Sunday, January 13, 2008

Inflasi Yang Menghanguskan Hasil Jerih Payah Kita Bertahun-Tahun…

Kemarin saya di hari libur sempat ngobrol dengan salah satu pengunjung GeraiDinar di Depok…., ini awal pertama kalinya pengunjung tersebut melihat Dinar secara fisik dan langsung jatuh hati dengan memulai memindahkan sebagian tabungannya ke Dinar.

Saya ingin mengangkat diskusi dengan pengunjung tersebut karena alasannya pindah ke Dinar barangkali bisa menjadi inspirasi bagi pembaca blog ini. Dari penuturan pengunjung tersebut saya menangkap bahwa selama ini dia dan keluarganya kawatir kalau hasil jerih payah dia bertahun-tahun bisa hangus begitu saja - kalau hanya disimpan dalam mata uang Rupiah ataupun Dollar.

Menurut saya sendiri alasan tersebut sangat benar dan pesan itulah yang saya juga ingin sampaikan ke pembaca blog ini melalui tag line “Investasi & Proteksi Nilai”. Kalau ditulisan saya sebelumnya saya katakan bahwa Dinar sebagai investasi hanya no 2 , tetapi sebagai Proteksi Nilai – Dinar tidak ada duanya.

Untuk memahami bagaimana Proteksi Nilai ini bekerja, saya ambilkan contoh kinerja kawan saya yang tergolong Average High dalam prestasi kerja dan investasinya. Saat ini usianya awal 40-an dan mulai bekerja tahun 1990. Ketika mulai bekerja penghasilan dia Rp 1,000,000,- net; saat ini penghasilannya hampir Rp 37,000,000,- net per bulan.

Dengan keinginannya yang kuat untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya dan memiliki hari tua yang terjamin, teman saya tersebut rajin menyisihkan rata-rata sekitar 20% dari penghasilannya setiap bulan untuk ditabung di Bank Pemerintah. Akhir tahun kemarin tabungannya telah mencapai Rp 1.033 milyar. Memuaskankah hasil tabungan yang dikumpulkan dengan jerih payah ini ?.

Coba kita lihat dari dua grafik berikut; dilihat dari kaca mata uang Rupiah – betul uang dia naik terus – maskipun naiknya masih kalah dengan kenaikan Dinar. Tetapi tabungan Rupiah masih lebih baik daripada US$ kalau dipotret selama 18tahun ini – dengan mempertimbangkan bagi hasil perbankan yang jauh lebih tinggi di Rupiah dibandingkan dengan Dollar.

Dalam Rupiah tabungan teman tersebut tentu saja naik terus. Disamping mendapatkan bunga (awalnya bunga karena saat itu Bank Syariah belum seluas sekarang, tetapi kemudian hijrah ke bank syariah menjadi bagi hasil), nilai tabungan juga terus ditambah dengan penyisihan rutin 20% dari gaji bulanannya.

Mari sekarang kita lihat dengan ukuran yang lain yaitu Dinar. Mengapa Dinar ? , Karena Dinar-lah yang nilainya baku dan bisa dipakai untuk mengukur daya beli sesungguhnya sepanjang zaman. Saya sudah menjelaskan argumen ini di tulisan-tulisan sebelumnya, baik secara statistik harga minyak yg merupakan salah satu parameter ekonomi modern maupun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Dengan mengubah sumbu Y grafik pertama dari Rupiah ke Dinar, maka segera nampak – bahwa sejak teman saya memulai menabung 18 tahun lalu, sudah dua kali tabungannya menyusut. Tahun 1997-1998 penurunan in sangat drastis dan mendadak sehingga dirasakan oleh seluruh masyarakat negeri ni. Dua tahun terakhir, penyusutan nilai uang kertas terhadap Dinar sebenarnya juga sangat serius– namun karena terjadinya gradual – banyak yang tidak menyadarinya.

Bayangkan…kita kerja keras banting tulang dan menyisihkan sebagian dari hasil jerih payah tersebut dalam bentuk tabungan untuk mengamankan masa depan kita dan anak-anak…eh ternyata kekayaan kita malah secara berkala menyusut dihanguskan oleh apa yang disebut Inflasi.

Masalah tergerusnya hasil kerja keras kita oleh inflasi ini bukan hanya terjadi di negara kita, di negara yang mengaku super power-pun hal ini terjadi. Analisa seperti yang saya buat ini pernah juga dibuat oleh Larry Parks, Executive Director, FAME (Foundation of the Advancement of Monetary Education) yaitu LSM yang berusaha menyadarkan rakyat Amerika akan bahaya system uang kertas. Dengan lantang Larry berpesan kepada rakyat Amerika : "With the monetary system we have now, the careful saving of a lifetime can be 
wiped out in an eyeblink."
Wallahu A’lam.

Saturday, January 12, 2008

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur'an dan Al- Hadits

Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur'an yang agung, Allah berfirman :"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun". (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 1,171,725) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A'lam bi showab.

Labels: , , , ,

Friday, January 11, 2008

Harga Dinar Sedang Menuju Angka Psikologis Berikutnya Rp 1,200,000 ?

Apabila kita lihat grafik-grafik harga Dinar 1 - 2 bulan terakhir seperti yang selalu saya sajikan di sidebar blog ini, nampaknya harga psikologis Dinar Rp 1,200,000 akan segera tercapai. Bayangkan, angka psikologis Rp 1,000,000/Dinar baru tercapai tanggal 27 Oktober 2007 lalu, kemudian angka Rp 1,100,000/Dinar tercapai 3 Januari 2008 - dan sekarang sudah menuju angka psikologis berikutnya Rp 1,200,000 - sesuatu yang sangat salah (seriously wrong) sedang terjadi di mata uang dunia.

Saya tidak bermaksud membuat masyarakat panik atau resah, sebaliknya saya sedang berusaha memberi tahu masyarakat agar tidak menjadi korban seperti yang terjadi tahun 97/98 ketika nilai kekayaan bangsa ini turun tinggal seperempatnya hanya dalam beberapa minggu. Ini juga bukan karena saya berdagang Dinar- saya hanya penulis buku/blog, ceramah dan membantu masyarakat yg ingin menerapkan tulisan saya, bahkan kalau ada orang lain yang menyediakan Dinar dalam skala besar saya akan senang - karena kebutuhan masyarakat akan Dinar untuk mengamankan assetnya ini sekarang belum terpenuhi.

Trend kenaikan harga Dinar/Emas ini juga diprediksi oleh Gold Price Organization, disini saya ambilkan grafik hasil analisa mereka sebagai berikut ;

Photobucket

Labels: , ,

Thursday, January 10, 2008

Mengapa Uang Kertas Tidak Bisa Dipakai Untuk Perencanaan Financial Jangka Panjang ?

Bagi para perencana finansial, inflasi adalah faktor ketidak pastian terbesar yang paling sulit diatasi. Betapa tidak, di negeri seperti Indonesia Inflasi terburuk (terbesar) dalam sepuluh tahun terakhir pernah mencapai 78% (tahun 1998). Lebih buruk lagi dalam lima puluh tahun terakhir, di Indonesia inflasi pernah benar-benar tidak terkendali dan mencapai angka 650% (tahun 1965). Inflasi yang berarti menurunnya daya beli uang, ternyata tidak hanya di alami oleh mata uang Rupiah, bahkan mata uang dunia yang selama ini dianggap perkasa yaitu Dollar Amerika, daya beli mata uang Dollar Amerika tersebut terhadap emas telah turun tinggal 29 % dalam 8 tahun terakhir, dalam 40 tahun terakhir daya beli Dollar Amerika terhadap emas tinggal 4 % saja !.

Pada umumnya ketika kita merencanakan kebutuhan finansial Kita kedepan, apakah untuk keperluan ‘pensiun’ yang mungkin masih 20-30 tahun lagi, biaya pendidikan anak di perguruan tinggi yang masih belasan tahun lagi, ataupun kebutuhan biaya lain yang sifatnya jangka panjang, Kita memerlukan asumsi inflasi yang Kita akan hadapi – misalnya 10% per tahun. Asumsi kedua adalah hasil investasi dari dana Kita, targetnya tentu selalu diatas angka inflasi tersebut agar pertumbuhan dana Kita tidak kalah cepat dengan kenaikan inflasi. Disinilah problem Kita yaitu menghadapi dua ketidak pastian sekaligus, ketidak pastian inflasi dan ketidak pastian hasil investasi.

Contoh konkrit masalah ini saya ambilkan pengalaman seorang kawan dengan asuransi pendidikannya. Kawan ini eksekutif di perusahan telekomunikasi, beliau kecewa berat dengan asuransi pendidikan anaknya yang dibeli tahun 1988. Saat itu ketika anaknya baru lahir, dia membeli produk asuransi pendidikan senilai Rp 22.5 juta yang akan cair pada saat anaknya masuk perguruan tinggi. Saat itu nilai pertanggungan ini sangat besar dan pada tahun-tahun awalnya harus dibayar 20 % dari gaji bulanan dia. Tahun 2006 ketika anaknya masuk ITB dan perlu membayar Rp 45 juta uang pangkal, dana asuransi yang cair ternyata hanya cukup membayar separuh dari uang pangkal tersebut. Siapa yang salah ? perusahaan asuransi sudah membayar kewajibannya dengan benar, kawan saya juga telah konsisten selalu membayar preminya bertahun-tahun dengan benar.

Yang salah tidak lain adalah nilai uang kita yang sangat tidak bisa diandalkan. Nilai pertanggungan Rp 22.5 juta tahun 1988 adalah setara dengan 227 Dinar.; ketika cair tahun 2006, nilai asuransi Rp 22.5 juta tersebut tinggal 32 Dinar ! (kalau uang asuransi tersebut cair pada saat tulisan ini saya buat 1 Muharam 1429 – Rp 22.5 juta hanya setara dengan 19 Dinar !). Bayangkan kalau dari awal teman saya yang sholeh tersebut membeli produk asuransi pendidikan dengan nilai sebesar 227 Dinar*, maka saat cair tahun 2006 nilai 227 Dinar tersebut setara dengan Rp 161 juta (Kalau jumlah Dinar yang sama ditukar ke Rupiahnya saat ini menjadi Rp 261 juta). Uang ini bukan hanya cukup untuk membayar uang pangkal di ITB, tetapi juga masih cukup untuk membelikan anaknya mobil baru untuk kuliah dan membayar seluruh biaya pendidikan sampai anaknya tamat !. Inilah indahnya kalau produk keuangan jangka panjang dikelola dengan Dinar, mata uang baku yang nilainya tidak pernah terdevaluasi sepanjang jaman....!

Note:
*Sayangnya produk asuransi pendidikan belum ada yang dibuat dengan nilai Dinar, mudah-mudahan ada perusahaan asuransi jiwa syariah yang mau mengeluarkan produk berbasis Dinar ini - solanya di asuransi kesehatan sudah ada.

Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1429 H, Selamat Berhijrah...

Assalamualaikum, wr.wb.

Segenap team GeraiDinar mengucapkan selamat tahun baru 1 Muharam, 1429 H bagi seluruh pembaca blog kami...

Semoga dengan ilmu yang dikaruniakanNya kepada kita...kita bisa benar-benar berhijrah dari kegelapan ke jalan yang penuh cahaya...dari kedhloliman menuju keadilan....dari keterpurukan menuju kemakmuran...dari ketidak berdayaan menuju keperkasaan...dari penjajahan ekonomi menuju kemerdekaan....dari eksploitasi sesama menuju kesetaraan.....dari....menuju....dari....menuju.....

Ya Allah jadikanlah umur terbaikku yang terakhir...amal terbaikku yang menjadi penutup...hari terbaikku ..hari ketika bertemu dengan Engkau ya Allah....


Wassalamualaikum, wr, wb.


M. Iqbal

Wednesday, January 9, 2008

Tipping Point : Titik Didih Dinar Yang Sedang Kita Tuju….

Kali ini inspirasi tulisan saya berasal dari buku best seller internasional terbitan tahun 2000 dengan judul Tipping Point.

Untuk gampang menjelaskan fenomena Tipping Point ini saya gunakan terjemahan bahasa Indonesianya adalah Titik Didih, yaitu suatu titik dimana air yang tadinya tenang – berubah bentuk menjadi uap yang sangat perkasa – bahkan bisa menggerakkan mesin-mesin raksasa.

Fenomena Titik Didih ini terjadi dimana-mana di alam ini dan terjadi pula dalam kehidupan kita, dalam masyarakat, dalam penyebaran penyakit, dalam pemasaran dan tentu juga insyaallah sedang dalam proses terjadi di pengenalan Dinar dan Dirham di masyarakat.

Sebelum melihat penerapannya di Dinar dan Dirham, saya kasih contoh dulu Titik Didih yang pernah terjadi di masyarakat New York yang diceritakan di buku yang saya sebut diatas.

Sampai tahun 1990 – New York merupakan kota yang mengerikan dari sisi kejahatan. Anak –anak tidak aman main sepeda di jalanan, orang tua tidak aman duduk-duduk di taman dan bahkan kejahatan di tempat umum seperti orang yang menembak orang lain di kereta bawah tanah dianggap hal yang biasa. Pertumbuhan tingkat kejahatan yang sangat tinggi terjadi antara tahun 60-an sampai akhir tahun 80-an.

Namun ada perubahan yang sangat drastis terjadi sejak awal tahun 90-an, tingkat kejahatan bahkan bisa turun 2/3-nya di periode ini. Pertanyaannya, siapa yang melakukan perubahan itu ? siapa yang ‘menda’wahkannya’ sehingga ratusan ribu orang-orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya ?.

Ternyata awalnya hanya perbuatan segelintir orang, yang mungkin dianggap oleh orang lain hal kecil. Untuk fenomena penurunan tingkat kejahatan di New York tersebut, awal perubahan itu dilakukan oleh pengelola kereta bawah tanah yang merazia para penumpang yang tidak membeli karcis. Pada saat mereka melakukan razia-nya, mereka kemudian menemukan berbagai senjata api, senjata tajam dan alat kejahatan lain yang dibawa oleh penumpang yang membandel tersebut. Dari sini calon-calon kejahatan diurungkan, bahkan calon-calon penjahat tersebut tidak lagi membawa senjata ketika naik kereta dan mereka juga membayar karcis. Karena hal tersebut mewabah seperti mewabahnya penyakit – maka inilah yang akhirnya terjadi Tipping Point – Titik Didih penurunan kejahatan di New York.

Nah sekarang apa yang terjadi dengan Dinar. Dari yang saya amati saja setahun terakhir ribuan orang mulai memahami sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di mata uang kertas manapun. Sepuluh hari lalu saya menulis tentang Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci, hari-hari ini kita melihat buktinya dengan harga Dinar yang begitu tinggi bahkan melewati prediksi di tulisan saya tersebut.

Karena paham apa yang sedang terjadi dengan uang kertas, ada anak muda yang menikah dengan mas kawin Dinar, kemudian mewabah ke teman-temannya. Ada keluarga besar mantan diplomat yang seluruh anak – menantunya ‘hijrah ke Dinar’; Ada perkantoran yang hampir seluruh karyawan muslim mengenal Dinar kemudian rame-rame mennggunakannya, bahkan ada keluarga bankers yang belajar mengenai Dinar, menggunakannya sampai berniat ikut memperkenalkannya di masyarakat dengan membuka Gerai Dinar. Mereka-mereka inilah segelintir orang - seperti halnya manajemen kereta bawah tanah New York - yang menjadi awal perubahan besar itu. Ide dan tulisan kita tidak ada artinya kalau masyarakat tidak buy in , tidak mendapatkan manfaat dan tidak menggunakannya...

Peluang besar bagi kita semuanya, dari sisi manapun…Insyaallah. Yang punya duit banyak berpeluang jadi shahibul mal untuk pengadaan stok Dinar …yang punya network silahkan menjadi mudharib ataupun wakil….atau apapun peran Anda; yang jelas Dinar dan Dirham sedang kembali ke masyarakat ….dan kita tinggal milih, apakah kita akan ikut menjadi sebab – atau sebaliknya menjadi akibat…(baca ; korban ) . wallahu a’alam.

Tuesday, January 8, 2008

Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta

Ada sebuah nasihat yang sangat Indah kepada diri saya sendiri yang juga insyaallah bermanfaat bagi pembaca. Nasihat ini saya ambilkan dari kitab Riyadus –Shalihin yang ditulis oleh orang sholeh zaman dahulu yang terkenal keikhlasannya. Saking ikhlasnya Imam Nawawi, konon kitab asli dari Riyadus Shalihin tersebut tidak bisa dibakar oleh api.

Nasihat ini sendiri berasal dari hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kemu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

Bayangkan, bila Allah mengirimkan awan khusus untuk menyirami kebun kita. Di kala orang lain kekeringan, lahan kita tetap subur. Di kala usaha lain pada bangkrut usaha kita tetap maju, dikala krisis moneter menghantam negeri ini – kita tetap survive. Dan ketika usaha kita berjalan baik sementara saudara-sauadara kita kesulitan. sepertiga hasil usaha kita untuk mereka – alangkah indahnya sedeqah ini.

Bagaimana kita bisa memperoleh pertolongan Allah dengan awan khusus tersebut ?, kuncinya ya yang di hadits itu : kita bersama keluarga kita hanya mengkonsumsi sepertiga dari hasil kerja kita. Sepertiganya lagi kita investasikan kembali, dan yang sepertiga kita sedeqahkan ke sekeliling kita yang membutuhkannya.

Karena janji Allah dan rasulNya pasti benar, maka kalau tiga hal tersebut kita lakukan – Insyaallah pastilah awan khusus tersebut mendatangi kita. Namun jangan dibayangkan bahwa awan khusus tersebut harus benar-benar berupa awan yang mendatangi kita. Bisa saja awan khusus tersebut berupa teman –teman kita yang jujur yang memudahkan kita dalam berusaha, atasan kita yang adil yang memperjuangkan hak-hak kita, atau karyawan kita yang hati-hati yang menjaga asset usaha kita, dan berbagai bentuk ‘awan khusus’ lainnya. Wallahu A’lam bis showab.

Labels: , , ,

Monday, January 7, 2008

Metode Islami Dalam Perencanaan Keuangan

Untuk mengawali serangkaian tulisan saya yang akan menjadi tema sentral di Blog ini, pagi ini saya ingin memperkenalkan Metode atau cara Islami yang diajarkan Allah dan RasulNya tentang harta dan konsep membangun ketahanan ekonomi umat.

Dalam sebuah hadits, Sa’ad bin Abi Waqqash menyampaikan, “ Pada saat Haji Wada’, Rasulullah SAW mengunjungiku yang lagi sakit keras. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisi hartaku, kecuali anak perempuanku satu-satunya. Jika demikian, bolehkah aku menyedekahkan dua per tiga (2/3) dari hartaku ?” Nabi SAW menjawab, “Tidak Boleh”. Aku bertanya lagi, “bagaimana kalau aku sedekahkan separuh (1/2) dari hartaku, ya Rasululah ?”, Nabi SAW, menjawab, “Juga tidak boleh”. Aku kembali bertanya, “Kalau sepertiga (1/3) ?” , Mendengar itu Nabi SAW bersabda, “kalau sepertiga (1/3) boleh, dan itupun sudah banyak. Sebab, seandainya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan papa, meminta-minta kepada manusia…”(HR.Bukhari).

Pelajaran yang sangat berharga dari hadits tersebut diatas adalah, seorang muslim haruslah menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya sehingga amalan-amalan yang bisa membawanya kepada kehidupan yang baik di akhirat menjadi prioritas yang diusahakan secara maksimal. Sa’ad bin Abi Waqash awalnya ingin menyedekahkan dua pertiga (2/3) dari hartanya yang banyak tentu karena ia berharap kebaikan akhirat ini.

Namun demikian, Rasulullah SAW yang setiap kata dan perbuatannya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah SWT (“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”, Al-Qur’an 53:4) , tentu dapat melihat aspek yang lebih luas bagi kehidupan umatnya. Dalam upaya mengejar kebaikan kehidupan akhirat, kita juga tidak harus meninggalkan kebaikan kehidupan di dunia bagi diri kita sendiri maupun anak-anak keturunan kita.

Dalam konteks mencari kebaikan kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat yang seimbang inilah seorang muslim harus memiliki rencana yang baik dalam hal apapun, termasuk dalam hal pengelolaan finansial bagi pribadi pribadi maupun keluarganya.

Bagi umat Islam, perencanaan finansial ini juga bagian dari ajaran agama ini yang antara lain langsung diberi contoh yang Indah langsung dari Al-Qur’an dalam surat Yusuf 43-48 berikut :


Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu, jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”

Mereka menjawab, “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menakwilkan mimpi itu.”

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami(takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (Yusuf 12:43-48).


Implementasinya dalam bentuk konsep ekonomi di Zaman modern ini ada di tulisan saya yang lain seperti yang sudah saya mulai di tulisan tentang Bangun Ketahanan Ekonomi... dan insyaallah kalau diberi usia panjang akan ada tulisan berikutnya....

Labels: , , , , ,

Sunday, January 6, 2008

Gold: The Once and Future Money

Emas : Sebagai Uang Masa Lampau dan Uang Yang Akan Datang; demikian judul tulisan ini yang saya ambilkan dari judul buku yang ditulis oleh Nathan Lewis (John Wiley & Son, 2007) seorang senior economist pada sebuah perusahaan Asset Management di New York. Dia juga aktif nulis di media financial kenamaan seperti Financial Times dan the Wall Street Journal. Karena buku ini terbit tahun 2007 – jadi masih up todate untuk ukuran buku ekonnomi.

Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, Bagian Pertama membahas uang dalam berbagai bentuknya. Bagian Kedua membahas sejarah uang Amerika Serikat, dan Bagian Ketiga membahas Krisis Mata Uang di Seluruh Dunia – termasuk diantaranya diulas krisis serius di Asia dan tentu Indonesia akhir tahun 90-an.

Yang menarik dari buku ini adalah bahwa meskipun yang bersangkutan bukan seorang muslim, dalam hal uang dia memiliki pemikiran yang lurus. Dalam salah satu kesimpulan nya dia menulis seperti ini “ Mungkin perlu waktu beberapa tahun atau beberapa puluh tahun, tetapi era uang kertas perlahan lahan akan berakhir; Dunia tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali ke hard currency. Manfaat dari hard currency sungguh luar biasa. System hard currency masa depan akan berdasarkan emas, sama persis dengan yang terjadi di masa lampau”.

Kalau Nathan Lewis mungkin belum terlalu terkenal, jadi pendapatnya bisa saja tidak dianggap oleh para pelaku ekonomi zaman ini; tetapi siapa yang nggak kenal John Naisbitt – yang di dunia barat dianggak kaya ‘dewa’ nya ekonomi modern karena prediksi dia tentang trend perekonomian dalam beberapa bukunya selama 20 tahun terakhir terbukti akurat ? Apa kata John Nasibitt tentang uang ini di bukunya terakhir (Mind Set) ?. Menurut dia monopoly terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoly uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat. Apa itu mata uang privat ? yaitu benda-benda riil yang memang memiliki nilai intrinsik.

Sayang sekali Natha Lewis dan John Naisbitt bukan orang Islam, kalau dia tahu bahwa Islam memiliki system uang Dinar/Dirham-nya yang baku sejak ribuan tahun lalu sampai akhir zaman – pasti dia akan tahu betapa benarnya agama ini.

Friday, January 4, 2008

Selamat Bagi Yang Telah Hijrah Ke Timbangan Yang Adil...

Hari-hari ini harga emas Dunia bergejolak sangat tinggi. harga Dinar otomatis juga demikian. Pagi ini harga Dinar di Gerai Dinar mencapai Rp 1,127,650,- harga yang mengejutkan saya sendiri juga.

Penyebabnya banyak antara lain efek tutup tahun yang baru terlewati. Setiap pemerintahan tentu ingin memiliki tampilan yang baik didepan rakyatnya dengan memoles kinerja mata uangnya sehingga nampak kuat di akhir tahun. Begitu akhir tahun terlewati, mereka menurunkan polesan wajahnya sehingga nampak wajah aslinya. Hari-hari inilah wajah asli –blang bonteng-nya mata uang dunia tersebut kelihatan.

Selamat bagi kawan-kawan yang telah mulai berhijrah dari timbangan (yang juga berarti uang) yang semu ke timbangan yang adil – yang tampilannya tidak bisa dan tidak memerlukan polesan.


Namun saya ingin mengingatkan diri saya dan kawan-kawan juga. Ketika kita mulai menggunakan timbangan yang adil (Dinar & Dirham) - kita tidak memerlukan lagi pembanding timbangan yang semu. Jadi kita tidak perlu terlalu gembira dengan harga Dinar kita sekarang dibandingkan dengan Rupiah, Dollar atau mata kertas manapun. Demikian pula sebaliknya, besuk-besuk ketika pemerintahan dunia mulai memoles lagi tampilan mata uang mereka sehingga kelihatan keren – dan emas/Dinar kelihatan lemah – kitapun tidak perlu bersedih.

Sangat mungkin harga Dinar akan turun lagi beberapa saat, sebelum akhirnya naik lagi secara lebih significant - begitu seterusnya seperti yang saya jelaskan melalui teori Deret Fibonacci.
Cukuplah keyakinan kita bahwa kita on the right track dan cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong kita.

Thursday, January 3, 2008

Dinar Investment Yield: Mistar Untuk Mengukur Hasil Riil Dari Investasi Kita...

Selama ini para pelaku bisnis dan juga individu menggunakan referensi suku bunga perbankan, SBI dan sejenisnya untuk mengukur apakah suatu investasi memberikan hasil yang baik atau kurang. Kalau hasil investasi tersebut lebih tinggi dari bunga deposito atau lebih tinggi dari SBI, maka investasi tersebut dikatakan berhasil dan sebaliknya.

Masalahnya adalah, alat ukur yang kita pakai tersebut menyusut nilainya dari waktu ke waktu – jadi hasil investasi yang diukur dengan alat ukur yang menyusut tentu juga tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Mengenai penyusutan nilai uang kertas ini saya sudah bahas di tulisan sebelumnya.

Lantas apa alat ukur investasi kita yang lebih mencerminkan nilai daya beli yang sesungguhnya ?, lagi-lagi ya menggunakan Dinar sebagai pembanding. Namun kalau kita katakan tahun ini Dinar mengalami penguatan 32 % terhadap Rupiah maupun Dollar, apa artinya ini terhadap hasil investasi kita yang di Rupiah ataupun Dollar ? – tidak mudah bukan untuk mengkaitkannya ?.

Nah saya mencoba membuat alat ukur sederhana untuk keperluan tersebut, alat ini saya pakai sendiri untuk menilai investasi saya di beberapa usaha kecil-kecilan yang saya tangani. Saya share disini untuk para pembaca siapa tahu bermanfaat juga bagi orang lain.

Cara kerjanya sederhana saja, semua dibandingkannya dengan harga Dinar berdasarkan statistik rata-rata 40 tahun yang kita miliki, Dinar yang diam saja (tidak diinvestasikan = 0% hasil investasi dalam Dinar) memberikan hasil yang setara dengan hasil investasi dalam Rupiah rata-rata 30.04%/ tahun. Sedangkan terhadap hasil investasi dalam Dollar, ini setara dengan hasil investasi rata-rata 11.29%/tahun. Memang tahun 2007 lalu Dinar memberikan hasil yang exceptional 32% terhadap US$ Dollar – tetapi rata-ratanya 40 tahun ya 11.29% itu tadi.

Kalau diamnya Dinar saja memberikan hasil 4 kali lebih besar dari hasil deposito dalam Rupiah (setelah dipotong pajak Deposito Rupiah memberikan bagi hasil sekitar 7.5%/tahun) dan 3 kali deposito dalam US$ (setelah dipotong pajak Deposito US$ memberikan hasil sekitar 3.6%/tahun), maka alangkah baiknya kalau Dinar tersebut juga berputar untuk investasi. Kalau kita bisa berinvbestasi dengan hasil rata-rata 10% saja dalam Dinar, maka berdasarkan mistar Dinar Investment Yield tersebut hasil 10% dalam Dinar ini setara dengan 22.42 % dalam US$ dan setara dengan 43.04% dalam Rupiah.

Kalau deposito bagi hasilnya hanya antara seperempat sampai sepertiga dari Dinar yang disimpan saja, lantas apa investasi yang baik ?. Jawabannya adalah bisnis riil yang dijalankan dengan baik. Kalau belum ketemu bisnis yang baik atau mudharib yang bisa menjalankannnya, 'pertahankan dalam tangkainya' (Lihat QS : Ysuf 47-48) atau bahasa investasinya pegang dulu dalam bentuk asset yang paling aman - apa itu ya lagi-lagi Dinar. Lihat juga di dua tulisan saya sebelumnya mengenai Investai Dinar dan Bangun Ketahanan Ekonomi ...

Wednesday, January 2, 2008

Perencanaan Finansial Berbasis Dinar

Ketika saya selesai menulis buku ’Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham’ dan mulai mensosialisasikannya pada berbagai kalangan, antusiasme dan respon positive Alhamdulillah kami peroleh dalam bentuk berbagai masukan. Masukan yang paling banyak adalah berupa pertanyaan seputar bagaimana menggunakan Dinar dalam kehidupan sehari-hari.

Atas masukan-masukan tersebut, segera saya putuskan untuk menulis buku berikutnya yang fokus pada penggunaan Dinar dalam Perencanaan Finansial bagi pribadi maupun keluarga muslim modern. Saya kaitkan dengan Perencanaan Finansial karena manfaat Dinar akan sangat significant apabila Dinar dilihat atau digunakan dalam perpektif rentang waktu yang panjang – meskipun dalam jangka pendekpun tentu Dinar lebih unggul dari mata uang kertas. Alhamdulillah buku ini telah selesai saya tulis dan saat ini dalam proses penerbitan oleh Gema Insani Press.

Kita bisa bayangkan apabila saat ini Kita berusia 40-an tahun dan sedang berada di puncak karir, belasan tahun yang akan datang Kita akan ’pensiun’ dari pekerjaan Kita yang sekarang. Berapa biaya hidup Kita saat itu ?, berapa biaya kesehatan Kita ? bagaimana Kita membiayai hidup Kita dan keluarga saat itu ? dan berbagai pertanyaan lain yang kemungkinan Kita tidak siap menjawabnya sekarang.

Disinilah masalahnya, karena mayoritas kita kaum pekerja, kaum eksekutif dan professional tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas pada saat kita masih berjaya di puncak karir, pada saatnya nanti kita ’pensiun’, sangat sedikit dari kita yang bisa mempertahankan kwalitas hidup kita. Selain kurangnya perencanaan, hal ini juga diperburuk dengan realita mayoritas asset kita saat itu berupa uang fiat (dalam bentuk pencairan dana pensiun, jaminan hari tua, pesangon dlsb.) yang nilainya terus mengalami penurunan.

Penurunan kwalitas kehidupan di akhir usia ini tidak sejalan dengan ajaran Islam, karena Islam mengajarkan kita untuk mencapai akhir usia yang paling baik, akhir amal yang paling baik dan hari terbaik ketika bertemu Allah SWT sebagaimana do’a yang dicontohkan berikut : “Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih” yang artinya , “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.”

Hal tersebutlah yang mendorong saya menulis panduan bagaimana merencanakan dan mengelola urusan finansial jangka panjang, lebih dari itu perencanaan tersebut juga saya buat dalam bentuk Dinar yaitu uang emas Islam yang sudah terbukti lebih dari 1400 tahun berhasil mempertahankan daya belinya.

Karena harta bagi seorang muslim hanyalah sebagai alat untuk menunjang tujuan hidupnya yang lebih utama yaitu mencari Ridla Allah semata, maka dalam mencari dan mengelola kekayaan finansial tersebut tidak boleh keluar dari aturan yang syar’i. Harta juga berguna bagi muslim bukan hanya untuk kehidupan di dunia tetapi juga berguna untuk kehidupannya yang abadi di akhirat kelak, apabila selama di dunia pemiliknya bisa memanfaatkan harta tersebut di jalanNya. Sebaliknya, apabila kita gagal mengelolanya di jalan Allah – harta bisa menjadi beban atau liability kita di akhirat – Naudzubillahi Min Dzalik.

Perspektif manfaat harta yang tidak terbatas pada kehidupan duniawi membuat perencanaan finansial bagi seorang muslim juga harus mencakup hal-hal yang terkait dengan hidup sesudah mati tersebut. Oleh karena alasan ini, maka bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan finansial bagi seorang muslim juga mencakup masalah-masalah yang terkait dengan sadaqah, zakat, wakaf, hibah, wasiat dan tidak kalah pentingnya adalah masalah warisan.

Di blog ini, insyaallah dari waktu ke waktu akan saya sebagian cuplikkan hal-hal yang terkait dengan Prencanaan Finansial Berbasis Dinar tersebut.

Tuesday, January 1, 2008

Jangan Biarkan Kekayaan Umat Terus Menyusut Nilainya...

Angka-angka statistik dan grafik yang saya sajikan di situs ini setiap hari mungkin tidak berarti apa-apa bagi kita, sampai kita melihat dampaknya pada keuangan kita sendiri. Tetapi begitu kita sendiri yang menjadi korban, reaksi spontan kita tentu ingin mempertahankan harta (nilai harta) tersebut. Bahkan dalam suatu Hadits panjang dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa mati dalam mempertahankan harta kitapun insyaAllah kita sahid.

Mengapa sebagian besar kita tidak menyadari bahwa harta kita – harta umat Islam Indonesia dan dunia lagi terjarah ?*. Ini karena kita menggunakan timbangan yang rusak untuk menimbang harta kita – yaitu uang fiat baik itu Rupiah, Dollar maupun mata uang kertas lainnya. Dengan timbangan atau alat ukur yang rusak tersebut, kita tidak bisa melihat nilai sebenarnya dari kekayaan kita - kita hanya tertipu oleh angka-angka yang semakin lama semakin besar tetapi tidak memiliki daya beli atau nilai tukar yang sesungguhnya.

Nah sekarang marilah kita lihat contoh-contoh angka dan grafik berikut untuk melihat mana timbangan yang seharusnya kita pakai dalam menilai dan mempertahankan harta umat ini.

Anggap kita memiliki tabungan Rp 2.46 juta tahun 2000, Apabila kita tukar dengan US$ uang tersebut menjadi US$ 350. dan apabila kita tukar Dinar pada saat itu menjadi 10 Dinar. Jadi uang Rp 2.46 juta tahun 2000 setara dengan US$ 350 dan setara pula dengan 10 Dinar.

Sekarang asumsikan uang kita di tabung di Bank Syariah (kalau non syariah – sudah no question – haram bunganya berdasarkan fatwa MUI) dengan bagi hasil rata-rata 7 %, maka uang tersebut saat ini menjadi Rp 3.95 juta. Apabila ditabung dengan tabungan Dollar di bank syariah yang sama dengan bagi hasil rata-rata 3 %, kemudian uang Dollarnya sekarang ditukar ke Rupiah lagi maka uang kita yang di tabungan Dollar tadi menjadi Rp 4.05 juta. Dari sini mungkin kita senang bahwa uang kita telah tumbuh total 61% (tabungan Rupiah) dan 65% (tabungan Dollar) selama jangka waktu 8 tahun ini. Tapi tunggu dulu – seandainya uang tersebut kita belikan Dinar dan sekarang kita tukar ke Rupiah maka uang tersebut menjadi Rp 10.90 juta atau tumbuh total Rp 343% !. Lihat grafik berikut untuk melihat uang kita apabila ditimbang dalam Rupiah.

Photobucket

Kita bisa melakukan exercise yang sama dengan menggunakan mata uang Dollar sebagai referensi atau timbangannya. Hasilnya akan seperti grafik dibawah ini.
Photobucket

Sekarang coba kita gunakan referensi atau timbangan yang adil yang menjadi bagian dari syariat Islam ini yaitu Dinar. Uang kita yang tahun 2000 nilainya setara 10 Dinar, apabila selama 8 tahun terakhir kita pertahankan dalam tabungan Rupiah kemudian baru sekarang kita tukar ke Dinar– meskipun dalam nilai Rupiah telah naik 61% - maka dalam Dinar uang tersebut tinggal 3.62 Dinar atau menyusut 64%. Demikian pula seandainya kita simpan di tabungan US$, meskipun nilainya tumbuh 65% - ternyata dalam Dinar tinggal 3.72 Dinar saja atau menyusut 63% !.

Photobucket

Dari grafik-grafik tersebut sekarang tergantung kita sendiri - apakah kita akan terus merelakan harta hasil kerja keras kita terus tergerus nilainya oleh timbangan yang rusak yang bernama uang kertas...?. Wallahu a'lam bis showab.

Note : *Sebenarnya bukan hanya harta umat Islam yang terjarah oleh rezim uang kertas, masyarakat seluruh dunia juga terjarah. Sebagian masyarakat di Amerika-pun menyadari hal ini; Kalau tertarik Anda bisa lihat situs mereka di www.gata.org (Gold Anti Trust Action Committee) dan www.fame.org (Foundation of Advance Monetary Education)
** Agar Anda tidak terjebak untuk menimbun harta, baca juga tulisan saya di blog lama saya mengenai Membangun Ketahanan Ekonomi dan Investasi Dinar Hanya...