Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   03 - Sep - 2010 Jam 06 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,556,760 1,494,490
Dirham 21,000 20,160
Emas *
24 K 360,728 346,299
22 K 330,667 310,827
20 K 300,606 276,558
18 K 270,546 243,491
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Wednesday, October 15, 2008

Bagimana Menangani Transaksi Mega Dengan Alat Tukar Dinar...?

Karena getolnya mempromosikan Dinar sebagai solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi abad ini; Oleh guru saya ekonom syariah kondang negeri ini - bulan puasa lalu saya diberi sejumlah soal untuk bisa dijawab.

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena pada waktunya kita memperkenalkan solusi Dinar ini kemasyarakat luas, kita akan dihujani pertanyaan-pertanyaan dari berbagai segi dan dari perbagai disiplin Ilmu. Saya akan berusaha menjawab soal-soal rumit tersebut satu per satu dalam sejumlah tulisan insyaallah.

Pertanyaannya pertama begini :

Bagaimana Dinar bisa digunakan sebagai alat bayar untuk transaksi-transaksi Mega, misalnya untuk membayar pembelian pesawat Airbus A380 yang harganya sekitar US$ 300 juta ?; harus kah Dinar/Emasnya disediakan secara fisik sejumlah barang yang dibeli ?. Padahal transaksi tentu bukan hanya satu ini, banyak transaksi lainnya. Lantas bagaimana menyediakan begitu banyak emas/Dinar yang dibutuhkan ? .

Jawaban saya dari tiga sisi; pertama dari sisi ke-Imanan, kedua dari sisi prinsip dasar ekonomi syariah dan ketiga atas dasar bukti sejarah.

Pertama dari sisi ke-Imanan. Islam dan syariatnya kita yakini kebenarannya pada saat diturunkannya, pada saat sekarang dan benar kapanpun sampai akhir zaman. Sebagian kebenaran tersebut bisa kita buktikan langsung, sebagian lain karena kelemahan kita bisa jadi belum bisa kita buktikan.

Kalau kita belum bisa membuktikan kebenarannya, bukan berarti syariat agama ini yang salah, melainkan kitanya saja yang belum sampai ilmunya.

Kedua dari sisi prinsip dasar ekonomi syariah yang sering saya kutip disini adalah penggalan surat Al Hasyr ayat 7 “....supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.....”. Harta berputar- inilah inti dari ekonomi Islam.

Dinar atau uang dalam Islam haruslah selalu berputar, maka dari itu ada larangan keras menimbun harta dalam bentuk apapun (uang kertas, uang Dinar , dan harta-harta lainnya..).

Uang antara lain berfungsi sebagai ‘timbangan’ untuk menentukan nilai barang-barang dan jasa. Sebaik-baik timbangan tentu timbangan yang adil yang nilainya stabil sepanjang zaman. maka menurut Ghazali hanya emas (Dinar) dan perak (Dirham) – lah yang bisa menjadi timbangan yang adil itu.

Sebagai timbangan, tentu jumlahnya tidak perlu sebesar atau sebanyak barang yang ditimbang. Semakin kecil timbangan relatif terhadap barang yang ditimbang – semakin sering timbangan harus dipakai/berputar. Inilah esensinya mengapa harta harus berputar. Agar semakin banyak ‘barang bisa ditimbang’ atau dengan kata lain agar ekonomi berputar.

Ambil contoh kita memiliki stok beras 1 Gudang; bagaimana menimbangnya ? tentu kita tidak butuh timbangan sebesar satu gudang beras. Kita bisa timbang dengan timbangan kiloan yang baru akan selesai bertahun-tahun menimbangnya. Kita bisa timbang dengan timbangan kwintal, maka akan selesai beberapa minggu. Kita juga bisa timbang dengan jembatan timbang yang akan selesai dalam beberapa jam saja.

Demikian pula kalau kita menangani transaksi Airbus A 380 sebesar US$ 300,000,000,- tersebut diatas; Kalau transaksi tersebut misalnya akan ditangani oleh Gerai Dinar yang kemampuannya baru sampai sekitar 5,000 Dinar (setara sekitar US$ 625,000) per transaksi, maka akan dibutuhkan 480 kali transaksi.

Kelak insyaallah akan terwujud scale-up dari Gerai Dinar menjadi semacam Dinar House (Clearing House-nya Dinar) yang mampu memproses transaksi jutaan Dinar – maka transaksi mega tersebut akan bisa ditangani dalam beberapa kali transaksi saja.

Apakah Dinar dalam jumlah besar tersebut akan ada ?; Sekali lagi tidak harus sebesar/sebanyak barang dan jasa yang ditransaksikan karena prinsip harus berputarnya Dinar, Namun bukan hal yang tidak mungkin bahwa Dinar dalam jumlah yang besar tersebut akan ada kembali di bumi ini.

Mari kita lihat dari sisi ketiga yaitu sejarah. Ketika Abdurrachman bin Auf wafat beliau meninggalkan warisan Dinar masing-masing 80,000 Dinar untuk setiap seorang istri. Beliau memiliki 4 orang istri. hak seorang istri dari empat istri apabila suami meninggal memiliki anak hanya 1/32 bagian. Artinya Dinar yang ditinggalkan Abdur-Rahman bi Auf saat itu ada sebanyak 2,560,000 Dinar.

Dengan Dinar yang dimiliki Abdurrachman bin Auf tersebut, dan diputarnya dengan benar (karena beliau termasuk satu dari sepukuh sahabat yang dijamin masuk surga) – maka tidak heran seluruh penduduk Madinah saat itu bersekutu dengan beliau dalam hal muamalahnya.

Seandainya Dinar Abdurrachman bin Auf tersebut ada saat ini, nilainya setara dengan sekitar US$ 320,000,000,-. Artinya harta sebesar Airbus A 380 bisa ditangani transaksinya dengan harta beliau hanya dengan sekali transaksi.saja !.

Jadi dengan niat yang lurus, kemudian mulai dari apa yang kita tahu dan bisa kita lakukan – maka Insyallah Allah akan memberitahu kita apa yang kita belum tahu. Wallahu A’lam..

2 Comments:

Blogger Wishnu Ghafara said...

Sangat mudah untuk memikirkan pembayaran besar. Justru yang perlu dipikirkan adalah transaksi kecil. Seperti pagi ini, saya sarapan dengan nasi goreng seharga Rp. 11.000,- Dua krupuk seharga Rp. 1.500,- Dan teh manis seharga Rp. 1.000,- Bagaimana membayarnya? Dengan dirham? Atau pecahan kecil dari dirham? Waduh bakal ada inflasi besar-besaran ya, jika menggunakan dirham dan dinar. Perlu ada pengkajian nih. Kalau transaksi besar sih gampang.

October 16, 2008 5:31 PM  
Blogger M. Iqbal said...

Masalah dengan ransaksi kecil sudah lebih dahulu selesai pemikirannya pak; bahkan sudah saya tulis di buku saya 2 tahun lalu.

Salah satu caranya adalah dengan teknologi Mobile Payment System ( MPS) misalnya; seperti yang sudah dikembangkan di Indosat dengan DompetKu.

Bedanya kalau Dompektu HP kita bisa berisi uang sampai Rp 1 juta dan kemudian dipakai belanja, diisi ualang dst.

Di MPS berbasis Dinar isinya bukan Rp 1 juta melainkan 1 Dinar. Jadi ketika bapak membayar Nasi goreng Rp 11,000,- dengan MPS berbasis Dinar uang Bapak berkurang 0.0092 Dinar.

Masalahnya tinggal goodwill dari pihak authoritas saja, teknology dlsb sudah sangat siap.

Begitu seterusnya bapak bisa isi ulang MPS Dinar bapak.

jadi Islam bisa sangat modern dan maju tanpa harus kehilangan kesyariahannya.

Semoga bermanfaat.

October 16, 2008 5:45 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home