Keperkasaan US Dollar dan Bagaimana Memanfaatkannya ...
Hari-hari ini US$ luar biasa perkasa. US$ Index yang enam bulan lalu sempat jatuh ke kisaran angka 71, saat artikel ini saya tulis US$ Index bertengger pada angka 79.85 atau naik lebih dari 12 % dalam sekitar 6 bulan terakhir.
Demikian perkasanya kah US$ ? atau demikian terpuruknya kah sekelompok mata uang besar lainnya yang digunakan sebagai pembanding ? ternyata tidak mudah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyan ini.
Dari berbagai analisa yang dibuat oleh para pengamat, sulit menemukan jawabannya yang meyakinkan dan mudah diterima untuk fenomena keperkasaan US$ ini.
Di antara sedikit yang nampaknya dapat diterima (mungkin secara subjektif karena sejalan dengan alur pemikiran utama di geraidinar.com) adalah tulisan James Conrad dari Seeking Alpha dalam artikel panjang dengan judul The Great Dollar Pump of 2008 : A Doomed Central Bank Intervention .
Menurut si penulis, naiknya US$ akhir-akhir ini ternyata hanyalah penggelembungan nilai yang dilakukan secara tidak wajar oleh the Fed dan Bank Sentral negara-negara sekutunya. Beberapa alasannya antara lain adalah :
1) Fundamental ekonomi Amerika tidak bisa dikatakan lagi baik – kalau tidak malah sebenarnya lagi buruk. Beberapa kali pemangkasan rate oleh the Fed yang dilakukan sejak setahun terakhir juga sebenarnya lebih berdampak pada penurunan nilai US$ bukan sebaliknya.
2) Defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 750 milyar dan terus naik, juga bukan mengindikasikan ekonomi yang lagi baik. US$ yang perkasa sekarang ini akan mendorong kenikan defisit ini secara lebih cepat lagi.
3) Perbankan Amerika kondisinya lebih buruk dibandingkan negara-negara kuat lainnya – yang mata uangnya dijadikan pembanding US Dollar.
4) The Fed Balance Sheet yang seharusnya menjadi back up US Dollar ternyata kondisinya memprihatinkan; didalamnya terdapat US$ 450 milyar mortgage yang rawan default.
Dengan hal-hal buruk tersebut, lantas mengapa US$ bisa kelihatan perkasa ?.
Sama dengan politik dimana-mana; nilai US$ juga tidak terlepas dari pengaruh politik. Pemerintahan (Republik) yang sekarang perlu citra baik untuk menyongsong pemilu yang tinggal dua bulan lagi – habis-habisan mencari cara memoles citra untuk melawan citra dari calon Demokrat yang sangat populer.
US Dollar yang perkasa sangat efektif untuk mencitrakan (seolah-olah) keberhasilan pemerintahan Republik yang sekarang.
Orang-orang politik tentu bisa berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya tersebut. Bulan Maret lalu misalnya ketika US$ lagi terpuruk-terpuruknya, sejumlah bank sentral besar dunia bersekongkol dengan the Fed untuk rame-rame menyelamatkannya dengan memborong US$.
Berbagai hal lain tentu bisa dilakukan suatu pemerintahan untuk memoles citranya, dan hal-hal demikian bisa saja dianggap benar berdasarkan tata nilai yang mereka anut.
Yang menjadi masalah adalah jangan sampai kita menjadi korban dari makar negara-negara besar yang sedang memoles citra tersebut hanya karena ketidak tahuan kita.
Keperkasaan US Dollar akan menelan banyak korban di seluruh dunia termasuk didalam negeri mereka sendiri; Kita di Indonesia juga mulai terimbas dengan jatuhnya Rupiah dan jatuhnya IHSG yang kemarin memasuki perdagangan hari ketiga dengan penrurunan nilai yang signifikan secara terus menerus. Pagi ini Rupiah bahkan sudah mendekati Rp 9,500 (tepatnya 9480) per US Dollar-nya dan IHSG ketika ditutup perdagangan kemarin sore berada jauh dibawah angka psikologis 2000 yaitu 1885.
Lantas bagaimana dengan Emas /Dinar ?. Tergantung bagaimana kita melihat dan mensikapinya.
Kalau kita melihat Dinar semata-mata sebagai just another investment ...dan berorientasi jangka pendek, tentu sudah banyak diantara kita yang merugi. Terutama mereka yang membeli di bulan Maret lalu ketika harga Dinar lagi tinggi-tingginya dan menjualnya sekarang.
Sebaliknya apabila kita berorientasi jangka panjang, baik membeli Dinar untuk investasi, mengamankan asset dari penghancuran nilai (seperti yang pernah terjadi tahun 1998), apalagi mempersiapkan Dinar sebagai alat muamalah yang adil kedepan – maka inilah kesempatan terbaik untuk mengamankan asset kita (proteksi nilai) sehingga kalau krisis semacam 1998 terjadi – kita tidak ikut terpuruk.
Lebih jauh lagi kalau kita lihat Dinar /Emas akan kembali sebagai mata uang yang adil bagi kita dan anak cucu kita kedepan, maka saat ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk memperluas penetrasi Dinar di masyarakat – karena makar orang lain Dinar menjadi sangat murah sekarang.
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS 3 : 54)
Wallahu A’lam.
Disclaimer :
Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.
Demikian perkasanya kah US$ ? atau demikian terpuruknya kah sekelompok mata uang besar lainnya yang digunakan sebagai pembanding ? ternyata tidak mudah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyan ini.
Dari berbagai analisa yang dibuat oleh para pengamat, sulit menemukan jawabannya yang meyakinkan dan mudah diterima untuk fenomena keperkasaan US$ ini.
Di antara sedikit yang nampaknya dapat diterima (mungkin secara subjektif karena sejalan dengan alur pemikiran utama di geraidinar.com) adalah tulisan James Conrad dari Seeking Alpha dalam artikel panjang dengan judul The Great Dollar Pump of 2008 : A Doomed Central Bank Intervention .
Menurut si penulis, naiknya US$ akhir-akhir ini ternyata hanyalah penggelembungan nilai yang dilakukan secara tidak wajar oleh the Fed dan Bank Sentral negara-negara sekutunya. Beberapa alasannya antara lain adalah :
1) Fundamental ekonomi Amerika tidak bisa dikatakan lagi baik – kalau tidak malah sebenarnya lagi buruk. Beberapa kali pemangkasan rate oleh the Fed yang dilakukan sejak setahun terakhir juga sebenarnya lebih berdampak pada penurunan nilai US$ bukan sebaliknya.
2) Defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 750 milyar dan terus naik, juga bukan mengindikasikan ekonomi yang lagi baik. US$ yang perkasa sekarang ini akan mendorong kenikan defisit ini secara lebih cepat lagi.
3) Perbankan Amerika kondisinya lebih buruk dibandingkan negara-negara kuat lainnya – yang mata uangnya dijadikan pembanding US Dollar.
4) The Fed Balance Sheet yang seharusnya menjadi back up US Dollar ternyata kondisinya memprihatinkan; didalamnya terdapat US$ 450 milyar mortgage yang rawan default.
Dengan hal-hal buruk tersebut, lantas mengapa US$ bisa kelihatan perkasa ?.
Sama dengan politik dimana-mana; nilai US$ juga tidak terlepas dari pengaruh politik. Pemerintahan (Republik) yang sekarang perlu citra baik untuk menyongsong pemilu yang tinggal dua bulan lagi – habis-habisan mencari cara memoles citra untuk melawan citra dari calon Demokrat yang sangat populer.
US Dollar yang perkasa sangat efektif untuk mencitrakan (seolah-olah) keberhasilan pemerintahan Republik yang sekarang.
Orang-orang politik tentu bisa berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya tersebut. Bulan Maret lalu misalnya ketika US$ lagi terpuruk-terpuruknya, sejumlah bank sentral besar dunia bersekongkol dengan the Fed untuk rame-rame menyelamatkannya dengan memborong US$.
Berbagai hal lain tentu bisa dilakukan suatu pemerintahan untuk memoles citranya, dan hal-hal demikian bisa saja dianggap benar berdasarkan tata nilai yang mereka anut.
Yang menjadi masalah adalah jangan sampai kita menjadi korban dari makar negara-negara besar yang sedang memoles citra tersebut hanya karena ketidak tahuan kita.
Keperkasaan US Dollar akan menelan banyak korban di seluruh dunia termasuk didalam negeri mereka sendiri; Kita di Indonesia juga mulai terimbas dengan jatuhnya Rupiah dan jatuhnya IHSG yang kemarin memasuki perdagangan hari ketiga dengan penrurunan nilai yang signifikan secara terus menerus. Pagi ini Rupiah bahkan sudah mendekati Rp 9,500 (tepatnya 9480) per US Dollar-nya dan IHSG ketika ditutup perdagangan kemarin sore berada jauh dibawah angka psikologis 2000 yaitu 1885.
Lantas bagaimana dengan Emas /Dinar ?. Tergantung bagaimana kita melihat dan mensikapinya.
Kalau kita melihat Dinar semata-mata sebagai just another investment ...dan berorientasi jangka pendek, tentu sudah banyak diantara kita yang merugi. Terutama mereka yang membeli di bulan Maret lalu ketika harga Dinar lagi tinggi-tingginya dan menjualnya sekarang.
Sebaliknya apabila kita berorientasi jangka panjang, baik membeli Dinar untuk investasi, mengamankan asset dari penghancuran nilai (seperti yang pernah terjadi tahun 1998), apalagi mempersiapkan Dinar sebagai alat muamalah yang adil kedepan – maka inilah kesempatan terbaik untuk mengamankan asset kita (proteksi nilai) sehingga kalau krisis semacam 1998 terjadi – kita tidak ikut terpuruk.
Lebih jauh lagi kalau kita lihat Dinar /Emas akan kembali sebagai mata uang yang adil bagi kita dan anak cucu kita kedepan, maka saat ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk memperluas penetrasi Dinar di masyarakat – karena makar orang lain Dinar menjadi sangat murah sekarang.
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS 3 : 54)
Wallahu A’lam.
Disclaimer :
Meskipun seluruh tulisan dan analisa di blog ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di blog ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber blog ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.
Labels: US$ Index











0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home