Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   17 - Mar - 2010 Jam 00 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,425,750 1,368,720
Dirham 36,158 34,712
Emas *
24 K 330,370 317,156
22 K 302,840 284,669
20 K 275,309 253,284
18 K 247,778 223,000
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Friday, August 29, 2008

Kapan Dinar Akan Menjadi Mata Uang Umat Sepenuhnya....?

....Wa maa ra maita idz romaita wa laakinnallaha ra maa.... (QS 8 : 17)


Pertanyaan dalam judul tulisan ini sering muncul dari kawan-kawan yang semangat memperkenalkan Dinar Islam sebagai uang yang sesungguhnya. Saya sendiri yakin hal ini akan terjadi, tetapi waktunya kit serahkan pada Allah semata.

Dalam tataran usaha memperkenalkan Dinar sebagai uang sesungguhnya, saat ini tembok-tembok besar mernghadang di depan. Tembok besar ini bisa berupa Undang-Undang negeri ini; Articles of Agreement IMF ; Dominasi ilmu keuangan sekuler yang lagi berkuasa dlsb.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia no 23 tahun 1999 misalnya; pasal 2. Ayat 3 mengatur bahwa “Setiap perbuatan yang menggunakan uang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah negara Republik Indonesia wajib menggunakan uang Rupiah, kecuali apabila ditetapkan lain dengan Peraturan Bank Indonesia.”

Undang-Undang ini lahir dari kesepakatan Pemerintah RI dengan IMF 1998. Saat itu Pemerintah Indonesia dalam posisi kejepit diharuskan membuat Undang-Undang Bank Indonesia yang otonom

Dengan Undang-undang tersebut Bank Indonesia mendapatkan otonominya yang penuh, tidak ada siapapun di Indonesia yang bisa mempengaruhinya (Pasal 4 ayat 2) termasuk Pemerintah Indonesia sendiri.

Tetapi ironisnya adalah setelah lepas dari pengaruh siapapun di Indonesia, Bank Indonesia justru masuk genggaman yang lebih erat di tangan IMF - BI tidak bisa lepas dari pengaruh IMF karena harus tunduk pada Articles of Agreement of the IMF seperti yang diatur antara lain dalam beberapa contoh pasal-pasal berikut :

a. Article V Section 1, menyatakan bahwa IMF hanya berhubungan dengan bank sentral (atau institusi sejenis) dari negara anggota .
b. Article IV Section 2, menyatakan bahwa sebagai anggota IMF harus mengikuti aturan IMF dalam hal nilai tukar uangnya, termasuk didalamnya larangan menggunakan emas sebagai patokan nilai tukar.
c. Article IV Section 3.a. , menyatakan bahwa IMF memiliki hak untuk mengawasi kebijakan moneter yang ditempuh oleh anggota, termasuk mengawasi kepatuhan negara anggota terhadap aturan IMF.
d. Article VIII Section 5 , menyatakan bahwa sebagai anggota harus selalu melaporkan ke IMF untuk hal-hal yang menyangkut cadangan emas, produksi emas, export import emas, neraca perdagangan internasional dan hal-hal detil lainnya.

Inilah tembok-tembok besar itu, masih ditambah lagi pemahaman umum para ilmuwan dan ekonom yang ada di negeri ini – yang ilmunya rata-rata dari negeri barat – bahwa inilah yang benar. Pemikiran lain diluar ini dinggap tidak maju, dianggap kemunduran dst.

Meskipun dengan tembok besar menghadang tersebut, bagaimana saya bisa tetap yakin bahwa Dinar Emas Islam akan menjadi uang kita kelak ?.

Begini alasan saya ; ada dua pendapat yang satu IMF yang mengatakan bahwa uang tidak boleh emas (jadi referensi-pun tidak boleh – apalagi sebagai uang). Sementara itu Ulama besar Imam Ghazali (1058 M—1111 M) yang tidak kita ragukan ke-Ikhlasan-nya berpendapat uang yang Adil hanyalah emas dan perak – siapa yang lebih kita percaya kira-kira ? IMF atau Al – Ghazali ? Jujur saya tentu lebih percaya Al-Ghazali.

Secara Ilmiah-pun emas sebagai uang masa lampau dan masa depan sudah pernah saya tulis di Blog ini dari buku Gold : Once and Future Money. Insyaallah kalau ada waktu akan saya elaborate isi buku ini dalam tulisan lain.

Hal akan kembalinya uang emas, sebagai salah satu uang bernilai intrinsik ini bahkan juga diprediksi oleh futurolog – dewa-nya – ekonom barat yaitu John Naisbitt, apa katanya ? . Dalam bukunya - Mind Set John Naisbitt menyatakan bahwa monopoly terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoly uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara.

Masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas yang dikeluarkan negaranya dan berpindah ke apa yang dia sebut sebagai mata uang privat. Apa itu mata uang privat ? yaitu benda-benda riil yang memang memiliki nilai intrinsik.

Benda riil yang memiliki nilai intrinsik yang paling bersifat universal tidak mengenal waktu, lokasi dan kaum adalah emas dan perak – maka inilah uang masa depan itu.

Lantas bagaimana langkah kecil yang kita lakukan sekarang – dengan memperkenalkan Dinar sebagai alat investasi dan proteksi nilai ini akan bisa menuju penggunaan Dinar dan Dirham sebagai uang sesungguhnya ?.

Dinar as Real Money Kita serahkanlah kepada Allah semata jalannya; karena dari sejauh yang bisa kita lihat dan upayakan – kita tidak bisa memperkenalkannya langsung sebagai uang karena membentur tembok raksasa diatas; namun kita bisa melakukan bidikan melingkar yaitu dengan menyebar Dinar sebanyak mungkin di genggaman umat; dan menguasai perdagangan bahan bakunya (emas & perak) , maka ketika Dinar diperlukan sebagai uang – Dinar itu sudah ada di tengah-tengah umat.

Katakanlah lemparan kecil kita hanya berhasil memperkenalkan Dinar sebagai alat investasi dan proteksi nilai, namun karena kita niatkan sedari awal untuk mengembalikan Dinar dan Dirham ini sebagai alat muamalah yang adil bagi umat – insyaallah lemparan kecil ini akan diteruskan dengan lemparan yang sangat besar oleh tangan Allah yang Maha Besar...
“.... dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar......”. (QS 8 : 17). Wallahu A’lam bi Showab.

Labels: , ,

2 Comments:

Blogger rifodesign said...

SubhanAllah.. Ustadz, kalau memang emas menjadi uang. Apakah akan ada inflasi dan deflas terhadap emas? Dan apakah ada korelasinya antara banyaknya emas yang beredar dimasyarakat dengan ketahanan ekonomi sebuah negara, seperti Indonesia ? jazakAllah.

August 29, 2008 1:10 PM  
Blogger M. Iqbal said...

Terima kasih pak Rifo;

Kalau Dinar menjadi uang, tidak akan ada lagi inflasi dan deflasi karena jumlah emas yang tersedia di bumi ini cukup namun tidak pernah berlebihan untuk digunakan sebagai alat muamalah yang adil bagi seluruh umat manusia.

Tentu ada korelasi antara ketersediaan emas di masyarakat dengan ketahanan sebuah negara. Emas adalah kekayaan riil, kita tidak bisa dimainkan oleh negara lain maupun spekulan mata uang bila kekayaan bangsa ini riil.

Kita mengalami sejarah nyata dalam hal ini, ketika pemerintahan Negeri ini jatuh 1998 yang penyebab salah stunya adalah keruntuhan nilai uang kertas - yang memang bukan kekayaan riil.

Alasan ketahanan ini pula yang mendorong kawan-kawan di koperasi MABES AU juga merngembangkan Dinar.

Ngomong-ngomong Pak Rifo; kajian Anda mengenai penggunaan Dinar sebagai instrumen perencanaan finansial yang sepintas sudah saya baca akan sangat berguna bagi pembaca kami - kalau boleh saya dikasih softcopynya untuk saya publish di blog ini ?.

Wassalam,

September 1, 2008 8:09 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home