Cerita Dari Uang-Uang Yang Gagal....
Kalau saya membahas kegagalan uang kertas dari abad sebelumnya baik di Amerika, Perancis, maupun Jerman selepas perang Dunia I dan Sanering Rupiah di Indonesia 1965/1966, sebagian kita mungkin beranggapan bahwa itu zaman dahulu – nggak mungkin lagi terjadi sekarang.
Tetapi coba kita belajar lebih jauh dari dunia modern abad 21 ini. Dalam sepuluh tahun terakhir saja, tidak sulit bagi kita untuk mencari contoh mata uang yang gagal dari negara-negara yang kita kenal – bukan negeri antah berantah. Berikut adalah beberapa diantaranya.
Rusia & Belarus (1998-2000)
Ketika krisis moneter melanda Asia sepuluh tahun lalu, salah satu negara yang terkena dampaknay adalah Rusia. Mirip dengan uang Rupiah kita, uang mereka Ruble mengalami penurunan nilai sampai 70 % (Rupiah saat itu kehilangan nilai sekitar 77%).
Bedanya bersamaan dengan krisis tersebut Rusia menggunakan kesempatan untuk merampingkan mata uangnya dengan membuang tiga angka nol dari mata uang Ruble sebelumnya (RUR), menjadi mata uang Ruble yang baru (RUB). Hal yang sama juga terjadi pada Ruble Belarus.
Bahasa kitanya Rusia dan Belarus melakukan ‘Sanering’ pada tahun 1998 tersebut – dan kita yang mengalami penurunan nilai yang sama kita tidak melakukannya dengan berbagai pertimbangan tentunya.
Kurs Dinar dalam Ruble pagi ini adalah 1 Dinar = 3,129.86 Rubles.
Italy (2000-2003)
Meskipun tergolong negara yang cukup maju, Italy juga negara yang kesulitan membuang angka nol yang terlalu banyak dari mata uangnya. Uang kertas terakhir yang mereka cetak tahun 1997 nilai nominalnya mencapai 500,000 Lira.
Beruntung negara itu ketika punya alasan baik untuk mengakhiri uang Lira-nya pada 28 Februari 2002 dan menggantinya dengan Euro. Saat digantikan oleh Euro tersebut nilai konversi terakhirnya adalah 1936.27 Lire (jamak dari Lira) untuk setiap Euro.
Kurs Dinar terhadap Euro pagi ini adalah 1 Dinar = 85.03 Euro
Turkey (1 Januari 2005)
Tidak tanggung-tanggung, Turkey harus membuang 6 (enam) angka nol dari uang Lira-nya pada tanggal 1 Januari 2005. 1 Lira baru = 1,000,000,- Lira lama.
Langkah dramatis ini terpaksa mereka lakukan karena inflasi kronis yang berjalan puluhan tahun terus menggelembungkan angka dalam mata uang Lira mereka.
Bila pada tahun 1966 US$ 1 = 9 Lira; maka pada tahun 2004 US$ 1 = 1,350,000 Lira
Seandainya Turkey mau menggunakan Dinar, maka pada saat artikel ini di tulis 1 Dinar = 164.90 Turkey Yeni Lira (Yeni bahasa Turkey artinya baru).
Zimbabwe( 2006 -2008)
Contoh paling mutakhir dan paling dramatis dari cerita kegagalan uang kertas dekade ini adalah Dollar Zimbabwe.
Pada tanggal 1 Agustus 2006 pemerintah negara ini mendevaluasi uangnya 60 % dan pada saat yang sama melakukan ‘Sanering’ dengan membuang tiga angka nol. Sebelumnya 1 US$ = ZWD 101,000 menjadi 1 US$= ZWD 250.
Setelah langkah inipun ternyata uang mereka tetap tidak selamat; pada tahun berikutnya pemerintah sampai harus mebuat peraturan yang aneh yaitu menyatakan bahwa inflasi adalah melanggar hukum negeri itu, artinya tidak ada pihak yang boleh menaikkan harga. Beberapa eksekutif perusahaan harus masuk bui gara-gara menaikkan harga produknya.
Langkah yang tidak biasa inipun tidak mempan juga; akhirnya pemerintah harus mendevaluasi lagi uangnya dengan ‘hanya’ dengan 11,900 % (sebelas ribu sembilan ratus percent !) menjadi 1 US$ = ZWD 30,000 – ini angka resmi; angka tidak resminya ada di pasar gelap yaitu 1 US$ = ZWD 600,000.
Apakah dengan demikian uang kertas tersebut dapat diselamatkan ?, tidak juga ; berita terakhir dari Zimbabwe Independent per Juni 08 lalu Zimbabwe mengalami inflasi 9,030,000 %( sembilan juta tiga puluh ribu percent !).
Saking hancurnya uang Zimbabwe Dollar ini sampai saya kesulitan mengetahui nilai tukar yang berlaku sekarang. kalau toh di internet ada kursnya, itu belum tentu daya beli riilnya karena harga ini berpuluh lipat dari hara di pasar gelapnya.
Ironinya alat pembanding yang dipakai mengalami inflasi yang significant juga ; betul US$ lebih baik dari Zimbabwe Dollar, tetapi tidak beratrti US$ dapat dipakai sebagai pembanding yang valid.
Dalam 10 tahun terakhir saja daya beli US$ terhadap emas trurun sekitar 70%; dan dalam empat puluh tahun terakhir daya belinya turun lebih dari 96 % - US Dollar sekarang hanya bernilai 4% (terhadap emas) dibandingkan dengan US Dollar 40 tahun lalu.
Kita memang bukan Zimbabwe, tetapi dibanding Rusia, Italy dan Turkey kita juga nggak hebat-hebat amat.
Bayangkan, kemarin untuk mengisi bensin mobil saya dalam perjalanan ke Bandung– saya harus membayar lebih dari Rp 500,000,- bukankah ini aneh ? Uang dengan angka yang sama waktu saya SD dapat untuk membeli 10 ekor sapi !.
Jadi minimal tiga angka nol di uang kita harusnya sudah ditiadakan sepuluh tahun lalu – karena tidak memberi manfaat hanya menambah beban memori komputer untuk mengalokasikan digit angka yang tiga kali lebih banyak dari rata-rata uang dunia.
Bahkan istilah jutawan di Indonesia yang dahulu berarti orang kaya – dalam arti harfiah bisa berarti orang miskin sekarang. Betapa tidak nishab zakat saja 20 Dinar atau saat ini setara sekitar Rp 24.7 juta; jadi kalau penghasilan kita Rp 2 juta sebulan – maka kita masuk kategori jutawan karena penghasilan kita sudah berjuta-juta – tetapi dalam pandangan Islam kita belum wajib bayar zakat, bahkan masih berhak menerima zakat.
Artinya dengan angka uang Rupiah kita yang seperti sekarang, kita bisa menjadi jutawan tapi pada saat yang bersamaan kita juga masih masuk kategori miskin. Wallahu A’lam.
Tetapi coba kita belajar lebih jauh dari dunia modern abad 21 ini. Dalam sepuluh tahun terakhir saja, tidak sulit bagi kita untuk mencari contoh mata uang yang gagal dari negara-negara yang kita kenal – bukan negeri antah berantah. Berikut adalah beberapa diantaranya.
Rusia & Belarus (1998-2000)
Ketika krisis moneter melanda Asia sepuluh tahun lalu, salah satu negara yang terkena dampaknay adalah Rusia. Mirip dengan uang Rupiah kita, uang mereka Ruble mengalami penurunan nilai sampai 70 % (Rupiah saat itu kehilangan nilai sekitar 77%).
Bedanya bersamaan dengan krisis tersebut Rusia menggunakan kesempatan untuk merampingkan mata uangnya dengan membuang tiga angka nol dari mata uang Ruble sebelumnya (RUR), menjadi mata uang Ruble yang baru (RUB). Hal yang sama juga terjadi pada Ruble Belarus.
Bahasa kitanya Rusia dan Belarus melakukan ‘Sanering’ pada tahun 1998 tersebut – dan kita yang mengalami penurunan nilai yang sama kita tidak melakukannya dengan berbagai pertimbangan tentunya.
Kurs Dinar dalam Ruble pagi ini adalah 1 Dinar = 3,129.86 Rubles.
Italy (2000-2003)
Meskipun tergolong negara yang cukup maju, Italy juga negara yang kesulitan membuang angka nol yang terlalu banyak dari mata uangnya. Uang kertas terakhir yang mereka cetak tahun 1997 nilai nominalnya mencapai 500,000 Lira.
Beruntung negara itu ketika punya alasan baik untuk mengakhiri uang Lira-nya pada 28 Februari 2002 dan menggantinya dengan Euro. Saat digantikan oleh Euro tersebut nilai konversi terakhirnya adalah 1936.27 Lire (jamak dari Lira) untuk setiap Euro.
Kurs Dinar terhadap Euro pagi ini adalah 1 Dinar = 85.03 Euro
Turkey (1 Januari 2005)
Tidak tanggung-tanggung, Turkey harus membuang 6 (enam) angka nol dari uang Lira-nya pada tanggal 1 Januari 2005. 1 Lira baru = 1,000,000,- Lira lama.Langkah dramatis ini terpaksa mereka lakukan karena inflasi kronis yang berjalan puluhan tahun terus menggelembungkan angka dalam mata uang Lira mereka.
Bila pada tahun 1966 US$ 1 = 9 Lira; maka pada tahun 2004 US$ 1 = 1,350,000 Lira
Seandainya Turkey mau menggunakan Dinar, maka pada saat artikel ini di tulis 1 Dinar = 164.90 Turkey Yeni Lira (Yeni bahasa Turkey artinya baru).
Zimbabwe( 2006 -2008)
Contoh paling mutakhir dan paling dramatis dari cerita kegagalan uang kertas dekade ini adalah Dollar Zimbabwe.Pada tanggal 1 Agustus 2006 pemerintah negara ini mendevaluasi uangnya 60 % dan pada saat yang sama melakukan ‘Sanering’ dengan membuang tiga angka nol. Sebelumnya 1 US$ = ZWD 101,000 menjadi 1 US$= ZWD 250.
Setelah langkah inipun ternyata uang mereka tetap tidak selamat; pada tahun berikutnya pemerintah sampai harus mebuat peraturan yang aneh yaitu menyatakan bahwa inflasi adalah melanggar hukum negeri itu, artinya tidak ada pihak yang boleh menaikkan harga. Beberapa eksekutif perusahaan harus masuk bui gara-gara menaikkan harga produknya.
Langkah yang tidak biasa inipun tidak mempan juga; akhirnya pemerintah harus mendevaluasi lagi uangnya dengan ‘hanya’ dengan 11,900 % (sebelas ribu sembilan ratus percent !) menjadi 1 US$ = ZWD 30,000 – ini angka resmi; angka tidak resminya ada di pasar gelap yaitu 1 US$ = ZWD 600,000.
Apakah dengan demikian uang kertas tersebut dapat diselamatkan ?, tidak juga ; berita terakhir dari Zimbabwe Independent per Juni 08 lalu Zimbabwe mengalami inflasi 9,030,000 %( sembilan juta tiga puluh ribu percent !).
Saking hancurnya uang Zimbabwe Dollar ini sampai saya kesulitan mengetahui nilai tukar yang berlaku sekarang. kalau toh di internet ada kursnya, itu belum tentu daya beli riilnya karena harga ini berpuluh lipat dari hara di pasar gelapnya.
Ironinya alat pembanding yang dipakai mengalami inflasi yang significant juga ; betul US$ lebih baik dari Zimbabwe Dollar, tetapi tidak beratrti US$ dapat dipakai sebagai pembanding yang valid.
Dalam 10 tahun terakhir saja daya beli US$ terhadap emas trurun sekitar 70%; dan dalam empat puluh tahun terakhir daya belinya turun lebih dari 96 % - US Dollar sekarang hanya bernilai 4% (terhadap emas) dibandingkan dengan US Dollar 40 tahun lalu.
Kita memang bukan Zimbabwe, tetapi dibanding Rusia, Italy dan Turkey kita juga nggak hebat-hebat amat.
Bayangkan, kemarin untuk mengisi bensin mobil saya dalam perjalanan ke Bandung– saya harus membayar lebih dari Rp 500,000,- bukankah ini aneh ? Uang dengan angka yang sama waktu saya SD dapat untuk membeli 10 ekor sapi !.
Jadi minimal tiga angka nol di uang kita harusnya sudah ditiadakan sepuluh tahun lalu – karena tidak memberi manfaat hanya menambah beban memori komputer untuk mengalokasikan digit angka yang tiga kali lebih banyak dari rata-rata uang dunia.
Bahkan istilah jutawan di Indonesia yang dahulu berarti orang kaya – dalam arti harfiah bisa berarti orang miskin sekarang. Betapa tidak nishab zakat saja 20 Dinar atau saat ini setara sekitar Rp 24.7 juta; jadi kalau penghasilan kita Rp 2 juta sebulan – maka kita masuk kategori jutawan karena penghasilan kita sudah berjuta-juta – tetapi dalam pandangan Islam kita belum wajib bayar zakat, bahkan masih berhak menerima zakat.
Artinya dengan angka uang Rupiah kita yang seperti sekarang, kita bisa menjadi jutawan tapi pada saat yang bersamaan kita juga masih masuk kategori miskin. Wallahu A’lam.
Labels: Euro, Lira, Rubles, Zimbabwe Dollar











0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home