Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   03 - Sep - 2010 Jam 06 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,556,760 1,494,490
Dirham 21,000 20,160
Emas *
24 K 360,728 346,299
22 K 330,667 310,827
20 K 300,606 276,558
18 K 270,546 243,491
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Tuesday, May 13, 2008

Menyiasati Kenaikan Bahan Bakar Dengan Perubahan Pola Kerja...

Hari-hari ini suasana Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya terasa semakin panas; bukan hanya Pilkada yang membuat daerah-daerah bergantian kepanasan- tetapi sekarang ada isu yang lebih luas dan mendasar dampaknya yaitu masalah bahan bakar.

Pihak pemerintah yang ngotot akan menaikkan harga bahan bakar punya alasan yang kuat . Kalau hari-hari ini harga minyak mentah dunia terus berkisar diatas US$ 120/ barrel – artinya bahan minyak mentah-nya saja sudah lebih dari US$ 1/ liter, lantas duit siapa yang bisa dipakai untuk nalangi separuhnya untuk bisa jual bahan bakar pada harga sekarang ?.

Sebaliknya rakyat juga punya alasan kuat untuk menolaknya; sekarang saja beban hidup sudah sangat berat – apa lagi kalau ditambah beban kenaikan bahan bakar yang juga akan berdampak pada naiknya barang-barang kebutuhan lainnya. Di lain pihak kepada rakyat masih disuguhkan berbagai tontonan kemewahan, iring-iringan pejabat, deretan mobil mewah ber-cc kelewat besar dan lain sebagainya.

Perdebatan mengenai naik tidaknya harga bahan bakar ini selalu terulang dari waktu-ke waktu; hasil akhirnya hampir selalu sama – bahan bakar tetap naik, dan meskipun ngedumel penuh rasa kejengkelan dan kemarahan – rakyat akhirnya terpaksa harus menerimanya.

Lantas apa solusinya ?, nampaknya kita harus mencari solusi diluar minyak sekarang. Kalau tidak kita lakukan sekarang, maka perdebatan ini akan terus berulang. Tidak bisa dibanyangkan betapa beratnya anak-anak dan cucu kita nanti kalau solusi tersebut tidak kita mulai rintis dari sekarang.

Dua solusi yang saya tawarkan disini paling tidak cukup efektif untuk saya dan keluarga, sengaja saya berbagi disini barangkali bermanfaat untuk para pembaca.

Solusi pertama adalah merubah pola kerja yang juga berarti pola kebutuhan energy. Sebelum ini saya 20 tahun bekerja di Jakarta, 19 tahun diantaranya pakai mobil pribadi yang hanya saya naiki sendiri atau bersama sopir. Sehari rata-rata saya menempuh jarak 60km pulang pergi. Kalau 19 tahun lalu rata-rata hanya 1.5 jam di jalan (pulang pergi) – beberapa tahun terakhir untuk jarak yang relatif sama perlu waktu tempuh antara 3 – 4 jam pulang pergi. Betapa banyak energy terbuang, energy dalam arti harfiah – bahan bakar – maupun energy pikiran.

Sebulan terakhir saya bekerja dari rumah; hanya sekali-kali saja ke Jakarta diluar jam sibuk. Saya hanya perlu bekerja dari selesai sholat subuh sampai sholat dhuhur – sudah menyamai total waktu efektif saya ketika saya masih ngantor di Jakarta. Untuk hasil ? relatif tergantung dengan jenis pekerjaan yang kita pilih.

Atas rasa syukur terhadap alternatif pekerjaan yang saya pilih ini – saya tidak keberatan untuk berbagi pengalaman dengan perusahaan atau karyawan-karyawan untuk menyiapkan alternatif pekerjaannya yang lebih hemat dari sisi energy, waktu, biaya dan lebih memberikan quality time pada keluarga.

Pola bekerja dari rumah ini tidak harus dilakukan oleh yang berusaha sendiri, tetapi bisa juga untuk mayoritas jenis pekerjaan yang berorientasi hasil. Untuk yang bergerak dibidang pemasaran, penjualan, customer services dan pekerjaan sejenis misalnya – saat ini ada salesforce.com yaitu suatu CRM on Demand yang mulai popular dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar maupun kecil. Layanan CRM on Demand sejenis juga ditawarkan oleh SAP maupun Oracle. Untuk salesforce.com saya sudah pakai sendiri – jadi kalau ada yang ingin tahu atau berbagi pengalaman dibidang ini dapat menghubungi saya.

Selain perubahan pola kerja tersebut, solusi kedua adalah menyangkut pengembangan energy alternatif. Ini sudah saya ulas beberapa kali di blog ini. Insyaallah akan saya tulis lagi progress-nya di tulisan mendatang.

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home