Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   16 - Mar - 2010 Jam 00 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,406,500 1,350,240
Dirham 36,189 34,741
Emas *
24 K 325,910 312,874
22 K 298,751 280,826
20 K 271,592 249,864
18 K 244,432 219,989
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Friday, April 11, 2008

Consumer Price Index (CPI) vs. Dinar

Kali ini saya ingin melengkapi tulisan saya Januari lalu tentang biaya hidup yang semakin mahal . Harapan saya sederhana saja, yaitu kita mempunyai alternatif informasi dalam melihat fenomena yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Di media masa kita selalu mendapat data inflasi yang selalu ‘menggembirakan’ – pada umumnya ‘hanya’ single digit. Tetapi realitas yang ada, mengapa istri-istri kita di rumah dan juga pada umumnya masyarakat luas sering mengeluhkan kenaikan kebutuhan sehari-hari yang naiknya ‘nggak ketulungan’; bisa dua kali, bisa tiga kali – tergantung jenis barangnya, minyak goreng kah, terigu kah…dst.

Lantas siapa yang salah; apakah pemerintah yang berbohong tentang inflasi – ataukah pedagang di pasar yang mengambil untung berlebihan ?. Saya berprasangka baik saja bahwa pemerintah tidak berbohong dan pedagang di pasar tidak mengambil keuntungan yang berlebihan – sebab kalau mereka lakukan toh barang dagangannya tidak laku sendiri.

Lantas apanya yang salah ? Yang salah ada dua yaitu objek yang diukur nilainya dan alat ukurnya sendiri.

Nah agar tidak ada yang tersinggung disini, saya gunakan statistik di Amerika Serikat untuk dua alasan. Pertama karena statistik mereka relatf lebih komplit, kedua adalah mata uang mereka masih dijadikan rujukan oleh berbagai Negara lain di dunia.

Untuk mengukur tingkat kenaikan harga dari barang-barang dan jasa yang kita butuhkan, para ekonom antara lain memperkenalkan konsep yang disebut Consumers Price Index (CPI). Ide dasarnya sebenarnya CPI ini untuk mengukur tingkat biaya hidup dari waktu-ke waktu.

Masalahnya mulai timbul ketika menentukan apa yang harus diukur untuk mewakili tingkat biaya hidup tersebut. Di Amerika misalnya yang diukur adalah sekelompok barang dan jasa yang terdiri dari perumahan (42.4%); pangan (15%); transportasi (17.4%); biaya kesehatan (6.2%); sandang (3.8%); rekreasi (5.6%); pendidikan dan komunikasi (6.0%) ; lain-lain (3.5%). *

Dari melihat apa yang diukur tersebut, kita dengan mudah bisa tahu bahwa ternyata yang tersaji dalam pengukuran CPI memang kemungkinan besar tidak mewakili harga barang-barang dan jasa yang menjadi keprihatinan masyarakat. Jadi objek yang diukur oleh pemerintah belum tentu wewakili kebutuhan masyarakat.

Dari sisi alat ukurnya, kita pernah belajar fisika di SMP; bahwa mengukur kecepatan suatu benda bergerak, harus dilakukan dari satu benda yang diam. Kalau kita mengukur kecepatan benda bergerak dari benda lain yang juga bergerak, maka yang kita hitung bukan kecepatan absolut, tetapi kecepatan relatif.

Dalam hal uang; benda yang diam tidak lain adalah emas dan perak sedangkan Dollar dan berbagai uang kertas lainnya adalah benda yang juga bergerak – sehingga kalau toh digunakan untuk mengukur biaya-biaya hidup, maka yang terukur juga relatif.

Sebagai contoh grafik disamping. Kenaikan CPI di Amerika Serikat rata-rata dalam 40tahun terakhir ‘hanya’ 4.7% / tahun. Tepi emas/Dinar dalam US$ mengalami kenaikan rata-rata 11% /tahun dalam periode 40 tahun yang sama. Padahal kita tahu emas/Dinar lah yang terbukti memiliki daya beli stabil sepanjang zaman – jadi mestinya emas/Dinar inilah yang lebih adil/akurat untuk menghitung harga-harga barang lainnya.


*Bagi pembaca yang tahu dimana data-data statistik ekonomi Indonesia mudah saya peroleh tolong saya dikasih tahu; saya coba situs BPS kok nggak user friendly ; situs BI jug tidak terlalu update.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home