Selagi Uang Fiat Perkasa...
Ada yang aneh dalam pasar modal dan komoditi global selama perdagangan kemarin. Kita tahu bahwa sejak September 2007 sampai sekarang telah enam kali the Fed menurunkan suku bunganya.
Sampai lima kali penurunan rate sebelumnya dampak terhadap pasar modal dan komiditi sangat jelas dan mudah dipahami. Setiap kali Dollar menjadi kurang menarik , orang akan lari ke pasar modal atau ke komoditi – antara lain minyak, emas dan lain sebagainya. Artinya setelah the fed menurunkan suku bunga, biasanya harga saham naik demikian pula emas.
Ini dapat dilihat di grafik trend harga Dinar setahun terakhir seperti yang selalu saya sajikan di samping tulisan ini; sejak September 2007 sampai tiga hari lalu, harga emas yang berarti juga Dinar terus naik.
Penurunan suku bungan the Fed 0.75 basis points dua hari lalu ternyata reaksinya berlawanan dengan yang selama ini terjadi. US$ bukannya turun malah naik yang diindikasikan dengan naiknya US Dollar index kemarin sebesar 0.73%.
Sebaliknya saham bukannya naik malah turun secara significant, Dow Jones industrial Average (DJIA) turun 2.36 %, dan NYSE Composite Index turun 3.14%. Pasar komoditi lebih besar lagi penurunnannya, Minyak turun 6 % dan emas turun 4.8%.
Sementara para ahli sibuk berusaha menjelaskan anomali tersebut, saya jujur kali ini saya tidak bisa menjelaskannya. Yang saya tahu adalah daya beli emas/Dinar adalah stabil sepanjang zaman, seperti yang sudah terjadi lebih dari 1400 tahun ini, dan insyaallah juga akan stabil sampai akhir zaman. Menurunnya harga minyak sejalan dengan menurunnya emas tersebut diatas, sekali lagi membuktikan kebenaran teori stabilitas daya beli emas/Dinar ini.
Selagi uang fiat kita baik berupa US Dollar maupun Rupiah perkasa seperti sekarang ini, inilah waktu yang sangat baik untuk kita kembali ke ‘uang’ yang berdaya beli tetap sepanjang zaman tersebut yaitu Dinar dan Dirham. Dinar lagi 'murah' sekarang, di Gerai Dinar harga Dinar pagi ini 'hanya' Rp 1,202,200 atau turun 4.8% dari harga kemarin sore Rp 1,263,100.
Banyak hikmah dari penurunan harga minyak dan harga Dinar ini; pertama yang jelas kita semua dapat bernafas agak lega bahwa kenaikan harga bensin dan minyak tanah yang mengerikan – diharapkan dapat di rem. Kedua adalah masyarakat yang belum merngenal Dinar, insyaallah Dinar akan lebih terjangkau dalam beberapa hari atau minggu kedepan – mudah-mudahan cukup waktu sebelum akhirnya naik lagi.
Insyaallah pengenalan Dinar tidak hanya berhenti dengan sekedar orang pegang Dinar terus disimpan, program Qirad yang telah kita mulai tiga pekan terakhir telah membuka cakrawala penerapan Dinar yang Subhanallah...mumpung banyak waktu di liburan akhir pekan yang panjang ini, saya akan coba menulis lebih detil tentang program Qirad ini. Semoga Allah memudahkan jalanNya untuk kita semua.
Sampai lima kali penurunan rate sebelumnya dampak terhadap pasar modal dan komiditi sangat jelas dan mudah dipahami. Setiap kali Dollar menjadi kurang menarik , orang akan lari ke pasar modal atau ke komoditi – antara lain minyak, emas dan lain sebagainya. Artinya setelah the fed menurunkan suku bunga, biasanya harga saham naik demikian pula emas.
Ini dapat dilihat di grafik trend harga Dinar setahun terakhir seperti yang selalu saya sajikan di samping tulisan ini; sejak September 2007 sampai tiga hari lalu, harga emas yang berarti juga Dinar terus naik.
Penurunan suku bungan the Fed 0.75 basis points dua hari lalu ternyata reaksinya berlawanan dengan yang selama ini terjadi. US$ bukannya turun malah naik yang diindikasikan dengan naiknya US Dollar index kemarin sebesar 0.73%.
Sebaliknya saham bukannya naik malah turun secara significant, Dow Jones industrial Average (DJIA) turun 2.36 %, dan NYSE Composite Index turun 3.14%. Pasar komoditi lebih besar lagi penurunnannya, Minyak turun 6 % dan emas turun 4.8%.
Sementara para ahli sibuk berusaha menjelaskan anomali tersebut, saya jujur kali ini saya tidak bisa menjelaskannya. Yang saya tahu adalah daya beli emas/Dinar adalah stabil sepanjang zaman, seperti yang sudah terjadi lebih dari 1400 tahun ini, dan insyaallah juga akan stabil sampai akhir zaman. Menurunnya harga minyak sejalan dengan menurunnya emas tersebut diatas, sekali lagi membuktikan kebenaran teori stabilitas daya beli emas/Dinar ini.
Selagi uang fiat kita baik berupa US Dollar maupun Rupiah perkasa seperti sekarang ini, inilah waktu yang sangat baik untuk kita kembali ke ‘uang’ yang berdaya beli tetap sepanjang zaman tersebut yaitu Dinar dan Dirham. Dinar lagi 'murah' sekarang, di Gerai Dinar harga Dinar pagi ini 'hanya' Rp 1,202,200 atau turun 4.8% dari harga kemarin sore Rp 1,263,100.
Banyak hikmah dari penurunan harga minyak dan harga Dinar ini; pertama yang jelas kita semua dapat bernafas agak lega bahwa kenaikan harga bensin dan minyak tanah yang mengerikan – diharapkan dapat di rem. Kedua adalah masyarakat yang belum merngenal Dinar, insyaallah Dinar akan lebih terjangkau dalam beberapa hari atau minggu kedepan – mudah-mudahan cukup waktu sebelum akhirnya naik lagi.
Insyaallah pengenalan Dinar tidak hanya berhenti dengan sekedar orang pegang Dinar terus disimpan, program Qirad yang telah kita mulai tiga pekan terakhir telah membuka cakrawala penerapan Dinar yang Subhanallah...mumpung banyak waktu di liburan akhir pekan yang panjang ini, saya akan coba menulis lebih detil tentang program Qirad ini. Semoga Allah memudahkan jalanNya untuk kita semua.
Labels: Harga Dinar, harga emas, the Fed











2 Comments:
assalamualaikum pak iqbal apa kabar?
Saya mau tanya
1. Apakah mungkin logam mulia kehabisan pasokan emas atau dinar?
2. Selama ini pasokan emas logam mulia berasal dari lokal atau internasional?
Ibnu Siena Depok
Wa'alaykum salam Pak;
Insyaallah cukup asal mengikuti aturan Islam, tidak ada yang menimbun dan cadangan yang ada dibuat berputar - seperti yang kita lakukan dengan program Qirad...
Setahu saya sumber Logam Mulia dari dalam negeri...
Wassalam
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home