Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   21 - Nov - 2008 Jam 06 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,236,050 1,186,608
Dirham 31,314 30,061
Emas *
24 K 286,414 274,957
22 K 262,546 246,793
20 K 238,678 219,584
18 K 214,810 193,329
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Sunday, January 27, 2008

Tanpa Sadar Kita Sempat Kaya Tetapi Kemudian Tanpa Sadar Pula Kita Menjadi Miskin Kembali...

Hari ini sampai 7 hari kedepan negeri ini dinyatakan berkabung secara nasional, alasannya adalah mantan pemimpin negeri ini yang dipandang berjasa telah berpulang ke hadapan Allah Yang Maha Pencipta.

Terlepas dari berbagai kontroversi baik buruk yang telah dia lakukan; dari kaca mata Dinar saya ingin memahami – apa yang telah beliau lakukan selama masih hidupnya.

Lagi-lagi saya menggunakan tolok ukur Dinar – karena ini tolok ukur yang baku sepanjang zaman. Uang kertas Rupiah maupun Dollar tidak bisa menjadi alat ukur yang adil karena nilainya yang terus menyusut.

Awal pemerintahan H.M Soeharto, negeri ini amat sangat terpuruk dengan inflasi yang sampai 680%. dan pendapatan per kapita saat itu saya duga hanya berkisar 1- 2 Dinar . Akhir lima tahun pertama pemerintahannya pendapatan per kapita dalam Dinar telah mencapai 5 Dinar.

Dua puluh lima tahun berikutnya, sebelum negeri ini kembali terpuruk yang sampai berakibat H.M. Soeharto harus kehilangan jabatan kepresidenannya, negeri ini sebenarnya pernah mencapai pendapatan perkapita 21.41 Dinar yaitu pada tahun 1997 – pas sebelum krisis.

Angka pendapatan per kapita diatas 20 Dinar ini sangat penting bagi Islam, karena kita tahu bahwa batas seorang dinyatakan kaya dalam Islam adalah ketika dia wajib membayar Zakat Mal-nya yaitu ditentukan dengan nishab 20 Dinar. Jadi pada suatu saat di tahun 1997 – sesaat sebelum krisis – rata-rata penduduk negeri ini sempat masuk kategori kaya !. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi, sisi yang mendukung Soeharto tentu bisa menggunakan ini sebagai suatu cerita keberhasilan Soeharto dalam membawa negeri ini dari tingkat kemiskinan yang sangat menjadi bangsa yang 'pernah kaya'. Bagi yang kecewa dengan Soeharto dapat membuktikan kekecewaannya, bahwa ternyata selama 32 tahun memerintah - dengan modal sumber daya alam yang melimpah - hanya sesaat saja Soeharto membawa kemakmuran di negeri ini.

Bagaimanapun orang menilai masa lalu, yang lebih penting sekarang adalah mengingatkan tugas yang masih hidup, khususnya yang mengemban amanat pemerintahan – sebenarnya adalah mengembangkan atau minimal mempertahankan kekayaan umat tersebut.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi sesudahnya; semasa krisis – hancur leburlah negeri ini sehingga pendapatan per kapita penduduknya pernah anjlog menjadi hanya 3 Dinar pada tahun 1998 dan posisi ini naik turun selama satu periode pemerintahan berikutnya.

Tahun 2004 ketika terjadi pergantian pemerintahan kembali, sekali lagi negeri ini dalam posisi rata-rata penduduknya kaya dengan pendapatan perkapita diatas 20 Dinar. Namun inipun tidak juga bertahan lama karena setelah sempat mencapai puncak kekayaan tersebut dengan pendapatan per kapita kita diatas 23 Dinar (2005), dua tahun berikutnya pendapatan per kapita kita terus mengalami penurunan. Perkiraan saya saat ini pendapatan per kapita kita tinggal sekitar 14 Dinar saja.

Memang angka saya ini bisa diperdebatkan kebenarnannya, karena ketersediaan dan konsitensi data statistik adalah barang yang langka di negeri ini. Saya coba gali statistik pendapatan per kapita dalam Rupiah dan Dalam Dollar saja hasilnya simpang siur. Tahun 2006 menurut ketua BPS yang kemudian juga di quote oleh Wapres, pendapatan per kapita negeri ini mencapai US$ 1,500. Tidak sampai setahun kemudian Prof Boediono mengungkapkan bahwa pendapatan per kapita kita telah mencapai US$ 4,000 – begitu cepatkah kemajuan kita ? Wallhu A’lam mungkin masing-masing mempunyai sumber perhitungan yang berbeda.

Dari angka yang sangat berbeda tersebut saya gunakan angka yang konservatif saja yaitu angkanya BPS. Kebetulan angka BPS ini tidak jauh berbeda dari angkanya Bank Dunia untuk dua tahun sebelumnya – jadi lebih masuk akal.

Keakuratan data bisa diperdebatkan, namun pelajaran yang kita ingin ambil adalah bahwa meskipun pendapatan per kapita kita dalam US Dollar naik terus dalam beberapa tahun terakhir seperti yang ditunjukkan di garis hijau dari grafik diatas; ini tidak berarti kita tambah kaya - karena alat ukur yang namanya US Dollar inipun menyusut nilainya secara sangat drastis 7 tahun terakhir. Dengan alat ukur yang stabil daya belinya sepanjang zaman, yaitu Dinar yang direpresentasikan dengan garis emas di grafik diatas -dua tahun terakhir ternyata kita kembali jatuh miskin dengan pendapatan per kapita dalam Dinar yang terus menurun.

Saya sendiri berharap analisa saya ini keliru, lho kok begitu ? – Iya , karena lebih baik tidak sadar kita tambah kaya– daripada tambah miskin, juga tidak sadar...

Labels: , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home