Harga Dinar Sekarang : Trend atau Anomali ?
Hari-hari ini kita melihat harga Dinar yang terus bergejolak dengan tajam. Dalam situasi ini selalu baik bagi kita untuk mengetahui apa yang terjadi di pasar - bukan untuk menspekulasikannya, tetapi untuk meminimise dampak buruk yang ditimbulkan oleh gejolak tersebut. Sekaligus juga agar setiap pengambilan keputusan kita didasari oleh informasi yang komplit.
Dalam konteks harga emas yang berarti juga harga Dinar ini tentu kita tidak dapat melihatnya dari perspektive waktu yang sempit - seperti yang terjadi dalam hari-hari ini. Kita harus melihatnya dari jangka panjang - agar kita mendapatkan gambaran kinerja Dinar yang utuh. Itulah sebabnya di side bar blog ini saya selalu sajikan grafik harga Dinar ini sampai 10 tahun dan bahkan 40 tahun.
Dalam konteks harga Dinar jangka panjang ini, kita bisa bedakan mana yang sifatnya anomali atau kelainan harga dan mana yang memang trend utama. Trend utama inilah yang menjadi rujukan kita dalam berinvestasi.
Anomali kenaikan harga Dinar pernah terjadi baik dalam US Dollar maupun dalam Rupiah. dalam US$ anomali terjadi antara tahun 1979 -1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga Amerika Serikat di Teheran-Iran. Anomali harga dalam Rupiah terjadi tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi dan politik di Indonesia yang berbuntut pada berakhirnya pemerintahan orde baru.
Anomali dicirikan oleh satu dua penyebab, ketika penyebab tersebut menghilang - maka harga Dinar akan kembali ke trend utamanya. Anomali hanya terjadi dalam rentang waktu yang pendek - hal ini ditunukkan pada grafik-grafik disamping, lihat tahun 1979-1980 untuk Grafik Dollar dan tahun 1998 untuk Grafik Rupiah.
Trend utama disebabkan oleh kombinasi banyak faktor yang komplek yang tidak mudah menghilangkan salah satunya. Dampaknya juga bersifat gradual - jangka panjang. Lihat apa yang terjadi sejak tahun 2000 sampai sekarang baik di Grafik Rupiah maupun di Grafik US$.
Dari grafik-grafik dan penjelasan ringkas tersebut kita bisa pahami bahwa trend utamanya harga Dinar dalam Rupiah maupun Dollar memang naik. Jadi gejolak naik turun yang sifatnya jangka pendek harian, bulanan bahkan setahun-pun tidak menghilangkan fakta bahwa trend jangka panjangnya harga Dinar yang naik tersebut. Jadi tidak pernah ada waktu yang salah untuk berhijrah ke Dinar dan Dirham, dua mata uang yang adil dan berdaya beli tetap sepanjang zaman. Wallahu A'lam bi Showab.
Dalam konteks harga emas yang berarti juga harga Dinar ini tentu kita tidak dapat melihatnya dari perspektive waktu yang sempit - seperti yang terjadi dalam hari-hari ini. Kita harus melihatnya dari jangka panjang - agar kita mendapatkan gambaran kinerja Dinar yang utuh. Itulah sebabnya di side bar blog ini saya selalu sajikan grafik harga Dinar ini sampai 10 tahun dan bahkan 40 tahun.
Dalam konteks harga Dinar jangka panjang ini, kita bisa bedakan mana yang sifatnya anomali atau kelainan harga dan mana yang memang trend utama. Trend utama inilah yang menjadi rujukan kita dalam berinvestasi.
Anomali kenaikan harga Dinar pernah terjadi baik dalam US Dollar maupun dalam Rupiah. dalam US$ anomali terjadi antara tahun 1979 -1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga Amerika Serikat di Teheran-Iran. Anomali harga dalam Rupiah terjadi tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi dan politik di Indonesia yang berbuntut pada berakhirnya pemerintahan orde baru.
Anomali dicirikan oleh satu dua penyebab, ketika penyebab tersebut menghilang - maka harga Dinar akan kembali ke trend utamanya. Anomali hanya terjadi dalam rentang waktu yang pendek - hal ini ditunukkan pada grafik-grafik disamping, lihat tahun 1979-1980 untuk Grafik Dollar dan tahun 1998 untuk Grafik Rupiah.
Trend utama disebabkan oleh kombinasi banyak faktor yang komplek yang tidak mudah menghilangkan salah satunya. Dampaknya juga bersifat gradual - jangka panjang. Lihat apa yang terjadi sejak tahun 2000 sampai sekarang baik di Grafik Rupiah maupun di Grafik US$.Dari grafik-grafik dan penjelasan ringkas tersebut kita bisa pahami bahwa trend utamanya harga Dinar dalam Rupiah maupun Dollar memang naik. Jadi gejolak naik turun yang sifatnya jangka pendek harian, bulanan bahkan setahun-pun tidak menghilangkan fakta bahwa trend jangka panjangnya harga Dinar yang naik tersebut. Jadi tidak pernah ada waktu yang salah untuk berhijrah ke Dinar dan Dirham, dua mata uang yang adil dan berdaya beli tetap sepanjang zaman. Wallahu A'lam bi Showab.











0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home