Gold Dinar to
Buy Dinar etc.
 
Daftar Harga Gerai Dinar
   09 - Feb - 2010 Jam 12 : 30  
  (Rupiah/Unit)
Item Jual Beli
Dinar/Dirham
Dinar 1,404,750 1,348,560
Dirham 32,978 31,659
Emas *
24 K 325,504 312,484
22 K 298,379 280,476
20 K 271,254 249,553
18 K 244,128 219,715
   
*Diluar Biaya Cetak

Catatan:
1. Penjelasan Harga Emas/Dinar di Gerai Dinar

2. Jam Transaksi : 07:00 - 17:00 BBWI (Kecuali Hari Libur)

GoldCheck; Emas Pro Pastikan dan Produktifkan

Thursday, December 27, 2007

Bukti Sejarah Keunggulan Mata Uang Dinar Ketika Hidup Se Zaman Dengan Mata Uang Lain

Sampai sekitar 82 tahun lalu sebelum kekalifahan Usmaniyah bubar umat Islam memiliki mata uangnya sendiri yang sangat kuat yaitu Dinar dan Dirham.

Ddalam kejayaan Islam, umat ini tidak pernah mengikuti umat-umat lain memasuki lubang biawak (istilah yang saya ambil dari hadits Rasulullah SAW). Bahkan pada akhir abad 19 dan awal abad 20, ketika Negara-negara Eropa kebingungan menentukan nilai mata uangnya dan bolak balik antara rezim gold standard dan fractional reserve - umat Islam tetap tegar menggunakan mata uang Dinar dan Dirham dan tidak terpengaruh oleh kebingungan tersebut.

Dari data lebih dari satu setengah abad antara pertengahan abad 17 sampai awal abad 19, ketika Islam dibawah Kekhalifahan Usmaniah dan dunia barat diwakili oleh Inggris, ternyata Kekhalifahan Islam lebih bisa menjaga stabilitas harga dibandingkan dengan dunia barat. Hal ini membuktikan bahwa selain sistem ekonomi yang bebas riba, mata uang yang dipakai dunia Islam yaitu emas (Dinar) dan perak (Dirham) jelas memiliki stabilitas daya beli yang lebih baik. Grafik dibawah ini menggambarkan perkembangan index harga dari tahun 1657 sampai 1817di Kekhalifahan Usmaniah dan di Kerajaan Inggris. Trend linear yang lebih datar di Kekhalifahan Usmaniah menunjukkan arah yang lebih stabil (lebih datar) dibandingkan dengan trend liner index harga di wilayah Kerajaan Inggris.

Photobucket

Grafik Perbandingan Index Harga di Kekhalifahan Usmaniah dan Di Kerajaan Inggris 1657 - 1822
Sumber diolah dari: International Institute on Social History, Holland

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home